Sabtu, 17 Agustus 2013

Kekasih Untuk Sahabatku

Dia yang aku cintai selama ini dia adalah Doni dan kami pun saling menyukai satu sama lain tapi di sisi lain sahabatku Rita ternyata menyukai Doni sehingga aku pun jadi binggung apakah aku memilih Doni yang ternyata selama ini memiliki perasaan yang sama sepertiku atau memilih sahabatku dan merelakan Doni dengan Rita? hingga pada suatu hari aku ceritakan semua ini kepada Doni.
“Don, apakah kamu benar benar menyukaiku?”
“iya, tentu saja, memangnya kenapa?”
“kamu tau kan sahabatku bernama Rita?”
“iya, aku tau”
“dia menyukaimu”
“tapi aku tidak menyukainya, aku hanya menyukaimu”
“tapi aku tidak ingin dia kecewa kepadaku”
“jadi sekarang?”
“bagiku Rita sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri jadi aku tidak ingin menghancurkan persaudaraan kami hanya karena kami menyukai pria yang sama”.
“jadi kau akan mengalah?”
“iy, karena aku pikir itu yang terbaik”
“terbaik? apakah kamu tidak salah?”
“tidak”
“kau benar benar aneh”
“oya, boleh aku meminta sesutu padamu?”
“apa pun yang kau minta aku akan melakukannya”
“benarkah?”
“tentu saja, memangnya apa yang kau minta?”
“bisakah kau menyukai Rita sama seperti kau menyukaiku?”
“apa?”
“ku mohon, aku tidak mungkin pacaran denganmu karena sahabatku menyukaimu juga”
“dan aku juga tidak mungkin menjalani hubungan dengan orang yang sama sekali tidak aku cintai”
“ku mohon Don”
“jadi aku harus pura pura menyukainya dan menjalani hubungan pacaran dengannya?”
“iya”
“apakah kau yakin?”
“aku yakin”
“baiklah, aku akan melakukannya untukmu”
“terima kasih Don”
“sebenarnya aku juga sangat mencintaimu Don dan aku nggak rela kamu dengan wanita lain tapi di sisi lain aku juga tidak ingin Rita kecewa dan persahabatan kami hancur hanya karena kami menyukai pria yang sama, mungkin aku harus mengalah dan merelakanmu dengan Rita, meskipun sulit aku akan mencoba melupakanmu dan mengubur dalam dalam perasaanku ini” gumamku.

Keesokan harinya ketika aku tiba di sekolah aku melihat Rita dan Doni sedang duduk berdua di depan kelas sambil tertawa dan aku pun mengundurkan niatku untuk masuk ke kelas dan bergegas menuju ke kantin tapi ketika aku melangkah ke kantin tiba tiba Rita memanggilku dan mengajakku bergabung dengannya.
“Dit. Dit. Dita”
“iya” (membalikkan badan)
“kamu mau pergi kemana?”
“ke kantin”
“ntar aja deh ke kantin, yuk, gabung sama kami”
“tapi”
“ngga ada tapi tapian, ayo gabung dengan kami”
“baiklah”
“hai Dit”
“hai Don”
“oya Dit, aku dan doni sudah resmi pacaran lo”
“selamat yah”
“makasih”
“oya, aku mau ke kantin dulu yah soalnya aku nggak sempat sarapan di rumah”
“baiklah”
Aku pun membalikkan badanku dan bergegas menuju ke kantin “mereka sudah jadian? tapi kenapa aku merasakan sakit hati ketika melihat mereka bersama? bukankah aku sendiri yang menginginkan mereka bersama? ya Tuhan tolong bantu aku, aku hanya ingin sahabatku bahagia tapi kenapa ketika aku melihat pria yang aku cintai selama ini kini telah bersama dengan sahabatku rasanya sakit sekali, apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamku.

Ketika di kantin aku pun duduk di salah satu bangku yang ada di pojok sambil melamun, beberapa menit kemudian Rita pun datang mengampiriku.
“Hai Dit”
“hai Rit”
“kok melamun? lagi ada masalah yah?”
“ngga ada kok”
“terus kenapa hari ini kamu terlihat sangat suntuk?”
“mungkin karena tadi malam aku begadang makanya aku terlihat suntuk hari ini”
“begitu yah”
“oya, Doni mana kok ngga bareng sih sama kamu?”
“dia lagi ke kelas tuh”
“oh”
“aku benar-benar nggak nyangka aku jadian sama Doni ternyata selama ini dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku”
“berarti selama ini penantianmu nggak sia sia dong, toh pada akhirnya dia jadi milikmu juga”
“iya, hari hari ini aku benar benar bahagia banget”
“selamat yah, aku ikut senang” (berusaha menutupi kesedihannya dengan tersenyum)
“iya, makasih yah”
“iya, kamu kan sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri jadi kalau kamu bahagia aku juga bahagia dong”
“Ya, Allah apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus bahagia karena mereka sudah jadian tapi kenapa hatiku rasanya tidak bisa menerima semua ini, hatiku benar benar sakit sekali, kenapa sih aku dan rita menyukai pria yang sama?” gumamku.
Ketika aku dan Rita sedang ngobrol tiba tiba Doni datang menghampiri kami
“Hai”
“Hai sayang” jawab Rita
“hai Don” jawabku
“pada ngapain nih?”
“Cuma ngobrol ngobrol aja kok” jawab Rita
“boleh gabung dong?”
“kenapa tidak” jawabku
Doni pun duduk di samping Rita sedangkan aku duduk seorang diri sejeanak aku memandangi mereka yang sedang tertawa bersama dalam hati aku berkata “Ya Allah tolong kuatkanlah aku dan ku mohon hilangkanlah perasaanku ini, bantu aku untuk melupakan Doni pria yang aku cintai selama ini”. gumamku
Doni pun memulai pembicaraan.
“Dit, kau tampak murung hari ini?” Doni
“aku ngga apa apa kok” jawabku
“apakah kau baik baik saja” tanya Doni sambil memandangiku.
“aku baik baik saja, oya, aku kelas duluan yah”
“mau ngapain di kelas? kan belum ada guru yang masuk”
“aku lupa ngerjain tugas, jadi aku ke kelas duluan yah” jawabku (mencari alasan)
“kan nggak ada tugas Dit” jawab Rita
“hmmm, aku duluan (gugup)” jawabku
Aku pun bergegas meninggalkan mereka di kantin tapi entah mengapa langkahku terhenti dan kau pun membalikkan tubuhku dan memandangi mereka di balik tembok “semoga kalian bahagia selamanya dan aku kan mengubur perasaanku untuk Doni selamanya”. gumamku

Malam harinya ketika aku sedang berada di dalam kamar sambil mendengarkan musik dari ponselku tiba tiba saja ponselku berdering dan aku pun segera melihat di layar ponselku dan ternyata ada yang mengirimiku pesan singkat aku pun membaca pesan tersebut, ketika aku melihat nama pengirimnya ternyata Doni, dan pesan tersebut pun berisi
“selamat malam Dit, lagi ngapain?”
“dengar musik” jawabku singkat
“kau tampak murung di sekolah”
“murung?
“iya, kenapa apakah kamu punya masalah?”
“ngga ada”
“oya, boleh aku bertanya satu hal?”
“apa?”
“semenjak aku pacaran dengan Rita kenapa kamu selalu menghindariku?”
“memang itu yang harus aku lakukan bukan?”
“apa maksudmu?”
“kini kau adalah pacar dari sahabatku dan aku harus menghidarimu karena aku tidak ingin di anggap orang ketiga di antara kalian”
“begitukah? tapi itu bukanlah sebuah alasan bagiku kau menghindar setiap kali kita bertemu”
“maksudmu?”
“kau cemburu kan?”
“cemburu?”
“iya, aku bisa liat dari sikapmu dan caramu mentapku”
“sudahlah Don, mulai sekarang aku mohon jangan pernah lagi kamu hubungi aku, SMS aku dan hindari aku”
“maaf Dit aku tidak bisa melakukannya dan aku yakin kau tau alasannya”
“Ku mohon Don, aku ingin menjaga perasaan Rita aku tidak ingin mengecewakannya dan tentang perasaanmu kepadaku lupakanlah aku juga akan mengubur perasaanku padamu”
“tidak semudah itu, kau tau aku sangat mencintaimu dan begitu pun kamu, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?”
“aku tau Don tapi aku mohon tolong lupakan aku dan mulailah belajar mencintai Rita dia sangat mencintaimu”
“tapi aku tidak mencintainya”
“maka dari itu mulai sekarang belajarlah untuk mencintainya aku tau ini tidak mudah bagimu tapi lama kelamaan kamu kan mencintainya lagian dia gadis yang baik dan dia begitu mencintaimu”
“baiklah kalau itu keinginanmu aku kan belajar mencintainya”
“terimah kasih Don dan tolong jaga dia”
“baiklah”
“kalau memang kita di takdirkan untuk bersama aku yakin tuhan akan mengembalikanmu padaku tapi kalau memang kita tidak di takdirkan untuk bersama maka aku akan merelakanmu dengannya meskipun ini menyakitkan” gumamku.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar