Entah sudah kali keberapa kupandangi luka di tanganku, tanpa kusadari setetes air meleleh mengalir di pipiku. Ada rasa sesal dan kecewa, kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak.
6 bulan yang lalu,
Perlahan kubuka mataku, kudapati seorang lelaki tua sedang menggendong tubuh mungilku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tubuhku lemas seperti telah terjadi sesuatu,
“Perih” keluhku lirih, kurasakan perih di tanganku, tangis pun tidak dapat aku bendung lagi.
“Sebentar lagi sampai, sudah tidur saja, iya bapak tahu perih.” gumam lelaki itu.
Saat itu aku sedang berada di jalan, di sebuah motor dan digendong seorang lelaki tua. Perlahan aku menoleh kudapati dia nampak panik dengan keadaanku, ku angkat tanganku yang penuh dengan darah, ku coba meraih punggungnya, aku tahu dia pasti sangat mengkhawatirkanku. Sesekali dia menoleh ke arahku dan mencoba meraih tanganku, aku tersenyum kecil untuknya, meyakinkan dia aku tidak apa-apa.
“Sudah nak jangan menoleh terus, sebentar lagi sampai.” gumam lelaki itu lagi.
Setelah itu aku tak sadarkan diri, entahlah apa yang dia pikirkan. Kudengar suara panik di sekitarku, tubuhku seperti melayang dan perlahan aku membuka mataku, syukurlah aku mendapatinya sedang menggendongku. Kali ini aku berada di sebuah ruangan, perlahan tubuhku direbahkan di sebuah tempat tidur, dia melepas helm yang masih melekat di kepalaku.
Aku masih tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya terus menangis menahan rasa sakit di tubuhku. Dia terus memegang tanganku dan menagis,
“Maafkan aku, bagaimana aku mengatakan ini kepada orang tuamu.” Kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
“Permisi mas.” nampak tiga orang perawat datang menghampiriku. Pertanyaan demi petanyaan meraka lontarkan kepadaku. Ternyata aku baru saja mengalami kecelakaan. Seorang tengah membersihkan lukaku, seorang lagi sibuk membersihkan darah yang terus mengalir dari bibirku.
“Ini giginya patah dan bibirnya harus di jahit ya mas” kata seorang perawat. Separah itukah aku, gumamku dalam hati. Aku masih tidak bisa berkata-kata, aku hanya melelehkan air mata, entah ini sudah lelehan yang keberapa aku tak tahu.
“Iya mbak” jawabnya. Dia nampak panik dan terus menangis. Perlahan dia mendekatiku, aku tidak tahan menahan sakit di tanganku, perawat lainnya baru saja mengobati lukaku, membubuhkan sesuatu entahlah apa dan itu sangat perih, dia memegang tanganku, menguatkan aku.
Perawat lainnya telah usai membersihkan darah di bibirku, ku dapati dia mengambil jarum dan benang. Seketika tubuhku menegang, tapi aku merasakan dekapan tangannya semakin kuat.
“Gak sakit kok mbak, diam ya tutup mata aja.” Awalnya aku tidak menutup mata, aku tidak merasakan sesuatu mungkin karena bibirku telah disuntik bius beberapa kali, aku hanya melihat jarum dan benang melintas namun pada akhirnya aku menutup mata karena aku tak sanggup melihatnya.
Semuanya telah selesai, aku mendapati diriku dengan luka di tangan yang aku rasa memang cukup parah, kakiku, bahuku, pinggulku. Aku tahu ada luka di bibirku namun aku tidak mau melihatnya, aku tidak mau ada cermin. Aku masih terus menangis, aku tidak bisa bicara, menggerakkan tanganku saja aku tidak mampu. Dia terus memegang tanganku, duduk di sampingku dan mengatakan sesuatu. Aku tahu ada raut ketakutan di wajahnya, ada sebuah penyesalan dan entahlah aku sendiri tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu.
“Maafkan aku, aku tau kamu sangat mencintaiku, aku akan selalu menjagamu, aku janji aku tidak akan membuatmu terluka lagi, aku janji aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Kata-kata itu aku yakin dia tulus mengatakannya. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca namun dia memalingkan wajahnya, mengusap air matanya lalu tersenyum kecil untukku. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku hanya menagis dan terus menangis, ruangan itu menjadi saksi bisu cerita kami hari itu, menjadi saksi bisu janjinya untukku.
Hari ini entah hari keberapa dia meninggalkanku dengan luka ini, luka abadi yang tidak akan pernah hilang dan akan selalu membekas entah sampai kapan. Ah mungkin dia sekarang sudah bahagia dengan wanita itu. Aku akan menghadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tindakan bodoh, sejauh apapun aku pergi, tidak akan pernah membantuku untuk melupakanmu, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan bahwa sekarang aku telah kehilanganmu. Ya Tuhan bantu aku melupakannya.
Senin, 02 November 2015
Hujan Mesim Semi
Hujan masih mengucur deras. Baru beberapa menit aku duduk di kursi ini. Memandangi tetes-tetes hujan yang tak berhenti. Sekolah berakhir setengah jam yang lalu. Aku enggan beranjak dari ruang kelas ini karena hawa dingin menelusup tubuhku. Tak ada seorang pun disini. Hanya aku.
Ku langkahkan kakiku menuju koridor kelas. Aku ingin melihat tetesan hujan lebih jelas. Tak ada siapapun disini, pikirku. Ku tengadahkan tangan ini untuk merasakan dingin serta lembutnya air hujan. Mulutku pun meracau melafalkan butiran-butiran doa yang ku ucapkan ketika tidurku. Tuhan, kembalikan cinta itu di dalam hati ibuku. Tak bisakah Ibu bersama Ayah lagi? Tak bisakah mereka bersama kembali? Aku hanya ingin melihat sinar cinta itu lagi.
Aku berhenti mengucap doa suci itu. Samar-samar terdengar olehku suara sepatu berdecit, melangkah ke arahku. Aku terdiam. Jika dia orang jahat, aku tak bisa lari kecuali menembus hujan yang deras ini. Aku takut, bayangan kelam itu kembali menyapaku. Tidak, itu tidak akan terjadi lagi.
“Hai, kamu masih disini. Kenapa belum pulang?” Suara itu mengagetkanku. Begitu merdu sehingga aku terpana, terbuai sesaat.
“Aku masih ingin disini. Aku masih ingin menikmati tetes-tetes hujan. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan disini?” Aku berbalik menghadapnya. Sesosok tubuh yang ku kenal berada di hadapanku. Dialah Aldi, Prince of My School. Tak ku sangka ia berada di depanku, tepat di depan mataku.
“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih disini. Tiba-tiba saja seperti ada yang menuntunku kemari. Boleh aku menemani kamu? Aku akan menemanimu menikmati betapa indahnya hujan kali ini.” Dengan sopan Aldi menawarkan hal yang indah padaku. Tentu saja, aku tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Daripada aku sendiri disini. Aku benci kesendirian. Entah kenapa, hal itu sudah ku camkan di dalam hatiku. Aku ingin ditemani seseorang. Seorang kakak ataupun sahabat.
Aku menatap Aldi. Aku melihat ada sinar ketulusan di dalam matanya. Sinar kasih sayang yang selama ini kurindukan. Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku. Aku mengiyakan tawarannya.
“Aku suka hujan. Bagiku, hujan bisa menghapus kepedihan di dalam hatiku.” Aldi mulai bercerita. Ku biarkan ia berbicara semaunya. “Aku pernah menghabiskan waktu dengan orang yang aku sayangi ketika hujan turun. Itu sebabnya aku suka hujan. Aku bisa mengingat dia tanpa seorang pun yang tahu.” Aku mendengarkan cerita Aldi dengan serius. Orang yang begitu hangat seperti dia ternyata telah memiliki orang yang sangat ia sayangi. Hal itu tak pernah kuduga.
“Tapi, hujan pula yang menjadi saat-saat terakhirku bersama dia. Aku tak pernah mengira setelah hujan itu reda, ia di ambil Tuhan. Tepat di depan rumahku, ia tertabrak bis yang melaju kencang. Saat itu pula ia meninggalkan dunia ini.” Sebuah kisah sedih kembali menghantui diriku. Sungguh tragis, Aldi memiliki sebuah kisah masa lalu yang menyedihkan. Aku betul-betul terkejut. Ku lihat ada bulir bening yang mengalir di pipinya. Aldi menangis.
“Maaf jika karena kamu ingin menemaniku, kamu jadi teringat dengan kisah itu. Aku benar-benar menyesal.” Aku mencoba menghentikan kesedihannya. Aku tidak mau ia berlarut-larut dalam kesedihan itu. Biarlah semua menjadi kenangan.
“Aku tidak apa-apa, kok. Kamu mau nggak main hujan-hujanan di lapangan? Aku ingin merasakan tetesan hujan ini.” Tanpa persetujuan dariku, ia menarik tanganku. Aku hanya bisa berlari mengikutinya. Aku mulai merasakan tetesan hujan. Persis seperti airmata ibuku. Begitu tajam dan dingin. Tangis seorang wanita yang kehilangan cinta.
Tiba-tiba jantungku berdesir kencang ketika Aldi menatapku. Aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya tertunduk sementara irama jantungku makin tak teratur. Aku tak mengerti dengan apa yang kurasa. Aku merasa bahagia. Aku bisa melupakan semua dendam dan amarahku. Aku semakin tak mengerti. Ketika Aldi menggenggam tanganku, ku beranikan diriku untuk menatap wajahnya. Senyumnya merasuk dalam jiwaku.
Tak lama, ia menyentakkan tanganku. Seperti tersadar akan sesuatu, ia lalu beranjak pergi. Aku mencoba menghentikan langkahnya, tapi ia tak berhenti. Aku memanggil namanya, tapi ia tak kembali. Ia berlari pergi meninggalkan aku sendiri disini. Setelah aku merasakan kehangatan darinya. Ia pergi tanpa sepatah kata pun.
—
Ku lihat sosok seorang wanita di sofa rumahku. Ibu, dia ibuku. Airmata mengalir deras dari mata beningnya. Ku beranikan diri untuk menyapanya, sekedar mengetahui penyebab luka hatinya.
“Ibu, kenapa Ibu menangis? Apa yang terjadi?” Beribu pertanyaan menggelayuti hatiku. Ibu, siapa yang telah membuatmu menjadi seperti ini?
“Dilla, Ibu tidak mau kamu mendengar semua ini. Tetapi, Ibu juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini. Ibu hanya ingin kamu mengerti. Ada hal di dunia ini yang tidak sejalan dengan keinginan kita.” Ibu menarik nafasnya perlahan. Aku menjadi kian penasaran. Apa sebenarnya yang ingin Ibu katakan padaku?
“Dilla, kaulah permata hati Ibu. Tanpamu, Ibu mungkin sudah tidak ada disini lagi. Ketahuilah, Ayahmu dan Ibu akan bercerai. Ayah ingin menikahi wanita itu. Kamu masih ingat kan, sayang? Wanita yang Ayah bawa ke rumah kita seminggu yang lalu.” Aku masih ingat, seorang wanita yang sangat cantik. Ayah membawanya ketika Ibu sedang pergi untuk memperkenalkannya padaku. Apa yang ada di pikiran Ayah? Kenapa Ayah lebih memilih wanita itu daripada Ibu?
“Sayang, Ibu tidak bisa hidup dimadu seperti ini. Karena itu Ibu meminta cerai dengan Ayah. Kamu mungkin tidak akan mengerti dengan hal seperti ini. Tapi, suatu saat nanti kamu pasti mengerti. Maafkan Ibu yang tak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu. Ibu tahu semua ini berat bagimu. Ibu hanya ingin kamu mengerti dan bisa memahami keputusan Ibu.” Airmata ibuku semakin deras. Tak ku sangka ayah melakukan semua ini. Tak bisakah Ayah bertahan? Kenapa Ayah tega menyakiti hati Ibu? Wanita yang telah hidup bersamanya selama 18 tahun ini. Apa kesalahan Ibu? Mengapa Ayah egois? Pertanyaan-pertanyaan itu keluar begitu saja dari pikiranku. Ayah, sosok yang sangat aku banggakan ternyata telah berubah menjadi orang yang begitu kejam.
—
Di sekolah, aku mencari Aldi. Ku cari dia di perpustakaan, di laboratorium sampai lapangan. Tapi, tetap saja aku tidak menemukan sosoknya. Barulah ketika pelajaran dimulai, aku mengetahui kalau dia tidak hadir ke sekolah hari ini.
“Kamu yang bernama Dilla, kan? Oh, ya kenalkan aku Ferry, temannya Aldi.” Seorang anak laki-laki seumuran ku berdiri di depanku. Aku pernah melihat dia, tapi aku tidak tahu kalau dia temannya Aldi.
“Iya, aku Dilla. Ada apa. ya? Dan kenapa Aldi tidak hadir hari ini? Apakah dia sakit?” Aku mencoba mencari keterangan padanya. Siapa tahu Ferry bisa menerangkan sesuatu padaku.
“Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Aldi. Ayo, kita cari tempat yang lebih tenang.” Ferry mengajakku menuju bangku di bawah pohon akasia. Ada hal yang sangat penting, batinku.
“Aku kenal Aldi sejak masih kecil. Ketika kami masuk sekolah dasar. Ia orang yang sangat baik. Aku tahu banyak tentang dia karena dia sering cerita kepadaku banyak hal. Termasuk tentang kamu, Dilla.” Aku terkejut. Apa yang Aldi ceritakan tentang aku? Sejak kapan ia memperhatikanku? Padahal, ketika hujan itu pertama kalinya aku bertegur sapa dengannya.
“Aldi pernah cerita padaku. Dia bilang, kamu sangat mirip dengan orang yang pernah ia cintai. Itu sebabnya dia selalu memperhatikan kamu. Sebenarnya dia sangat ingin untuk mengenal kamu lebih jauh. Tapi, dia tidak berani. Dia takut kehilangan kamu jika dia makin dekat kepadamu.” Aku terdiam, tak merespon lagi.
“Aldi juga bilang, katanya dia sayang sama kamu. Dia sedih setiap kali melihat kamu murung. Sebenarnya dia ingin menghibur kamu, tapi dia terlalu takut untuk itu. Dan semua ini juga baru aku katakan setelah dia pergi. Apa kamu tahu? Tadi pagi, dia dan keluarganya telah pergi ke luar negeri. Aldi pindah kesana. Jadi, kamu udah mengerti kan kenapa hari ini dia tidak hadir?” Apa yang terjadi? Aldi pergi. Secepat inikah, setelah hari itu, setelah hujan itu. Kapan aku bisa bertemu dia lagi?
“Maksud kamu, Aldi sudah pergi dan dia takkan kembali lagi. Secepat itukah. Apa itu yang ia inginkan?” Airmataku mulai menetes. Aku tidak menyangka jika ia pergi secepat itu.
“Dilla, semua itu bukan keinginannya. Dia bilang, dia minta maaf sama kamu karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang, dia tidak tahu kapan dia akan kembali ke Indonesia. Dia berharap kamu tidak sedih lagi. Dia ingin melihat senyummu seperti hari itu. Oleh karena itu, dia ingin agar kamu tidak menunggunya, karena hal itu terlalu berat untukmu. Percayalah, jika memang Tuhan telah menakdirkan kalian untuk bersama, dia akan kembali dan kamu pasti bisa bersamanya lagi.” Kata-kata Ferry menghujam jantungku. Tak pernah ku kira, Aldi pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Padahal saat ini aku sangat membutuhkan dia. Aku mulai tidak mengerti dengan dunia ini. Kenapa harus ada kehilangan? Kenapa kita harus merasakan rasa sakit karena kehilangan orang yang kita cintai? Aku mengerti sekarang. Seperti inilah rasa sakit yang Ibu rasakan ketika Ayah pergi. Sakit sehingga tak bisa di ungkapkan. Ibu, kenapa aku juga mengalami hal itu? Kenapa dia pergi?
Kebahagiaan yang aku harapkan sirna. Debar-debar cinta itu menghilang. Aku benar-benar kehilangan arah. Jika dia menyayangiku, kenapa dia pergi? Inikah caranya membuktikan kasihnya padaku? Aldi, aku berharap hujan itu merupakan awal kebersamaan kita. Aku berharap akan merasakan hujan yang selanjutnya juga bersamamu. Tapi, sekarang akan ku simpan jauh-jauh harapan itu. Ku tinggalkan ia di dasar hatiku. Aldi, aku tidak mengerti dengan dirimu karena aku terlalu mengharapkan hadirmu disisiku.
—
Hujan turun ketika aku sampai di depan rumahku. Ku biarkan ia membasahi tubuhku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menanti dirinya. Entah sampai kapan, Aldi akan kembali. Namun ia tetap ku simpan di dalam hatiku.
Hujan kali ini begitu deras. Tak ku sadari, sudah setahun ia pergi. Tetapi, apa yang membuatnya masih bernafas di diriku?
Aku kembali mengingat kenanganku ketika bersama Aldi. Saat hujan turun, ketika ia bercerita tentang orang itu. Ingin rasanya aku menangis dalam diam. Getar-getar cinta itu masih berdenyut di hatiku. Entah apa yang terjadi padaku? Aku melihat dengan jelas bayangan dirinya di depanku, seperti setahun lalu.
Tapi, semua itu hanya khayalku. Sampai hujan kali ini pun, dia tak kembali. Aldi, aku tetap menanti dirimu. Biarlah hujan menjadi satu-satunya kenangan di antara kita. Biarkan aku selalu menyimpan namamu di dalam hatiku. Aku akan menghitung sampai hujan ke berapa kali kah yang turun sampai kamu benar-benar datang. Aldi, haruskah aku menanti sampai hujan yang ke seratus, ke seribu ataupun sejuta? Hingga kamu kembali padaku. Aldi, tak peduli kapan pun itu. Aku akan tetap menunggumu dan menjaga kenangan indah antara kau dan aku ketika hujan turun.
Ku langkahkan kakiku menuju koridor kelas. Aku ingin melihat tetesan hujan lebih jelas. Tak ada siapapun disini, pikirku. Ku tengadahkan tangan ini untuk merasakan dingin serta lembutnya air hujan. Mulutku pun meracau melafalkan butiran-butiran doa yang ku ucapkan ketika tidurku. Tuhan, kembalikan cinta itu di dalam hati ibuku. Tak bisakah Ibu bersama Ayah lagi? Tak bisakah mereka bersama kembali? Aku hanya ingin melihat sinar cinta itu lagi.
Aku berhenti mengucap doa suci itu. Samar-samar terdengar olehku suara sepatu berdecit, melangkah ke arahku. Aku terdiam. Jika dia orang jahat, aku tak bisa lari kecuali menembus hujan yang deras ini. Aku takut, bayangan kelam itu kembali menyapaku. Tidak, itu tidak akan terjadi lagi.
“Hai, kamu masih disini. Kenapa belum pulang?” Suara itu mengagetkanku. Begitu merdu sehingga aku terpana, terbuai sesaat.
“Aku masih ingin disini. Aku masih ingin menikmati tetes-tetes hujan. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan disini?” Aku berbalik menghadapnya. Sesosok tubuh yang ku kenal berada di hadapanku. Dialah Aldi, Prince of My School. Tak ku sangka ia berada di depanku, tepat di depan mataku.
“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih disini. Tiba-tiba saja seperti ada yang menuntunku kemari. Boleh aku menemani kamu? Aku akan menemanimu menikmati betapa indahnya hujan kali ini.” Dengan sopan Aldi menawarkan hal yang indah padaku. Tentu saja, aku tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Daripada aku sendiri disini. Aku benci kesendirian. Entah kenapa, hal itu sudah ku camkan di dalam hatiku. Aku ingin ditemani seseorang. Seorang kakak ataupun sahabat.
Aku menatap Aldi. Aku melihat ada sinar ketulusan di dalam matanya. Sinar kasih sayang yang selama ini kurindukan. Tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku. Aku mengiyakan tawarannya.
“Aku suka hujan. Bagiku, hujan bisa menghapus kepedihan di dalam hatiku.” Aldi mulai bercerita. Ku biarkan ia berbicara semaunya. “Aku pernah menghabiskan waktu dengan orang yang aku sayangi ketika hujan turun. Itu sebabnya aku suka hujan. Aku bisa mengingat dia tanpa seorang pun yang tahu.” Aku mendengarkan cerita Aldi dengan serius. Orang yang begitu hangat seperti dia ternyata telah memiliki orang yang sangat ia sayangi. Hal itu tak pernah kuduga.
“Tapi, hujan pula yang menjadi saat-saat terakhirku bersama dia. Aku tak pernah mengira setelah hujan itu reda, ia di ambil Tuhan. Tepat di depan rumahku, ia tertabrak bis yang melaju kencang. Saat itu pula ia meninggalkan dunia ini.” Sebuah kisah sedih kembali menghantui diriku. Sungguh tragis, Aldi memiliki sebuah kisah masa lalu yang menyedihkan. Aku betul-betul terkejut. Ku lihat ada bulir bening yang mengalir di pipinya. Aldi menangis.
“Maaf jika karena kamu ingin menemaniku, kamu jadi teringat dengan kisah itu. Aku benar-benar menyesal.” Aku mencoba menghentikan kesedihannya. Aku tidak mau ia berlarut-larut dalam kesedihan itu. Biarlah semua menjadi kenangan.
“Aku tidak apa-apa, kok. Kamu mau nggak main hujan-hujanan di lapangan? Aku ingin merasakan tetesan hujan ini.” Tanpa persetujuan dariku, ia menarik tanganku. Aku hanya bisa berlari mengikutinya. Aku mulai merasakan tetesan hujan. Persis seperti airmata ibuku. Begitu tajam dan dingin. Tangis seorang wanita yang kehilangan cinta.
Tiba-tiba jantungku berdesir kencang ketika Aldi menatapku. Aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya tertunduk sementara irama jantungku makin tak teratur. Aku tak mengerti dengan apa yang kurasa. Aku merasa bahagia. Aku bisa melupakan semua dendam dan amarahku. Aku semakin tak mengerti. Ketika Aldi menggenggam tanganku, ku beranikan diriku untuk menatap wajahnya. Senyumnya merasuk dalam jiwaku.
Tak lama, ia menyentakkan tanganku. Seperti tersadar akan sesuatu, ia lalu beranjak pergi. Aku mencoba menghentikan langkahnya, tapi ia tak berhenti. Aku memanggil namanya, tapi ia tak kembali. Ia berlari pergi meninggalkan aku sendiri disini. Setelah aku merasakan kehangatan darinya. Ia pergi tanpa sepatah kata pun.
—
Ku lihat sosok seorang wanita di sofa rumahku. Ibu, dia ibuku. Airmata mengalir deras dari mata beningnya. Ku beranikan diri untuk menyapanya, sekedar mengetahui penyebab luka hatinya.
“Ibu, kenapa Ibu menangis? Apa yang terjadi?” Beribu pertanyaan menggelayuti hatiku. Ibu, siapa yang telah membuatmu menjadi seperti ini?
“Dilla, Ibu tidak mau kamu mendengar semua ini. Tetapi, Ibu juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini. Ibu hanya ingin kamu mengerti. Ada hal di dunia ini yang tidak sejalan dengan keinginan kita.” Ibu menarik nafasnya perlahan. Aku menjadi kian penasaran. Apa sebenarnya yang ingin Ibu katakan padaku?
“Dilla, kaulah permata hati Ibu. Tanpamu, Ibu mungkin sudah tidak ada disini lagi. Ketahuilah, Ayahmu dan Ibu akan bercerai. Ayah ingin menikahi wanita itu. Kamu masih ingat kan, sayang? Wanita yang Ayah bawa ke rumah kita seminggu yang lalu.” Aku masih ingat, seorang wanita yang sangat cantik. Ayah membawanya ketika Ibu sedang pergi untuk memperkenalkannya padaku. Apa yang ada di pikiran Ayah? Kenapa Ayah lebih memilih wanita itu daripada Ibu?
“Sayang, Ibu tidak bisa hidup dimadu seperti ini. Karena itu Ibu meminta cerai dengan Ayah. Kamu mungkin tidak akan mengerti dengan hal seperti ini. Tapi, suatu saat nanti kamu pasti mengerti. Maafkan Ibu yang tak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu. Ibu tahu semua ini berat bagimu. Ibu hanya ingin kamu mengerti dan bisa memahami keputusan Ibu.” Airmata ibuku semakin deras. Tak ku sangka ayah melakukan semua ini. Tak bisakah Ayah bertahan? Kenapa Ayah tega menyakiti hati Ibu? Wanita yang telah hidup bersamanya selama 18 tahun ini. Apa kesalahan Ibu? Mengapa Ayah egois? Pertanyaan-pertanyaan itu keluar begitu saja dari pikiranku. Ayah, sosok yang sangat aku banggakan ternyata telah berubah menjadi orang yang begitu kejam.
—
Di sekolah, aku mencari Aldi. Ku cari dia di perpustakaan, di laboratorium sampai lapangan. Tapi, tetap saja aku tidak menemukan sosoknya. Barulah ketika pelajaran dimulai, aku mengetahui kalau dia tidak hadir ke sekolah hari ini.
“Kamu yang bernama Dilla, kan? Oh, ya kenalkan aku Ferry, temannya Aldi.” Seorang anak laki-laki seumuran ku berdiri di depanku. Aku pernah melihat dia, tapi aku tidak tahu kalau dia temannya Aldi.
“Iya, aku Dilla. Ada apa. ya? Dan kenapa Aldi tidak hadir hari ini? Apakah dia sakit?” Aku mencoba mencari keterangan padanya. Siapa tahu Ferry bisa menerangkan sesuatu padaku.
“Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Aldi. Ayo, kita cari tempat yang lebih tenang.” Ferry mengajakku menuju bangku di bawah pohon akasia. Ada hal yang sangat penting, batinku.
“Aku kenal Aldi sejak masih kecil. Ketika kami masuk sekolah dasar. Ia orang yang sangat baik. Aku tahu banyak tentang dia karena dia sering cerita kepadaku banyak hal. Termasuk tentang kamu, Dilla.” Aku terkejut. Apa yang Aldi ceritakan tentang aku? Sejak kapan ia memperhatikanku? Padahal, ketika hujan itu pertama kalinya aku bertegur sapa dengannya.
“Aldi pernah cerita padaku. Dia bilang, kamu sangat mirip dengan orang yang pernah ia cintai. Itu sebabnya dia selalu memperhatikan kamu. Sebenarnya dia sangat ingin untuk mengenal kamu lebih jauh. Tapi, dia tidak berani. Dia takut kehilangan kamu jika dia makin dekat kepadamu.” Aku terdiam, tak merespon lagi.
“Aldi juga bilang, katanya dia sayang sama kamu. Dia sedih setiap kali melihat kamu murung. Sebenarnya dia ingin menghibur kamu, tapi dia terlalu takut untuk itu. Dan semua ini juga baru aku katakan setelah dia pergi. Apa kamu tahu? Tadi pagi, dia dan keluarganya telah pergi ke luar negeri. Aldi pindah kesana. Jadi, kamu udah mengerti kan kenapa hari ini dia tidak hadir?” Apa yang terjadi? Aldi pergi. Secepat inikah, setelah hari itu, setelah hujan itu. Kapan aku bisa bertemu dia lagi?
“Maksud kamu, Aldi sudah pergi dan dia takkan kembali lagi. Secepat itukah. Apa itu yang ia inginkan?” Airmataku mulai menetes. Aku tidak menyangka jika ia pergi secepat itu.
“Dilla, semua itu bukan keinginannya. Dia bilang, dia minta maaf sama kamu karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang, dia tidak tahu kapan dia akan kembali ke Indonesia. Dia berharap kamu tidak sedih lagi. Dia ingin melihat senyummu seperti hari itu. Oleh karena itu, dia ingin agar kamu tidak menunggunya, karena hal itu terlalu berat untukmu. Percayalah, jika memang Tuhan telah menakdirkan kalian untuk bersama, dia akan kembali dan kamu pasti bisa bersamanya lagi.” Kata-kata Ferry menghujam jantungku. Tak pernah ku kira, Aldi pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Padahal saat ini aku sangat membutuhkan dia. Aku mulai tidak mengerti dengan dunia ini. Kenapa harus ada kehilangan? Kenapa kita harus merasakan rasa sakit karena kehilangan orang yang kita cintai? Aku mengerti sekarang. Seperti inilah rasa sakit yang Ibu rasakan ketika Ayah pergi. Sakit sehingga tak bisa di ungkapkan. Ibu, kenapa aku juga mengalami hal itu? Kenapa dia pergi?
Kebahagiaan yang aku harapkan sirna. Debar-debar cinta itu menghilang. Aku benar-benar kehilangan arah. Jika dia menyayangiku, kenapa dia pergi? Inikah caranya membuktikan kasihnya padaku? Aldi, aku berharap hujan itu merupakan awal kebersamaan kita. Aku berharap akan merasakan hujan yang selanjutnya juga bersamamu. Tapi, sekarang akan ku simpan jauh-jauh harapan itu. Ku tinggalkan ia di dasar hatiku. Aldi, aku tidak mengerti dengan dirimu karena aku terlalu mengharapkan hadirmu disisiku.
—
Hujan turun ketika aku sampai di depan rumahku. Ku biarkan ia membasahi tubuhku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menanti dirinya. Entah sampai kapan, Aldi akan kembali. Namun ia tetap ku simpan di dalam hatiku.
Hujan kali ini begitu deras. Tak ku sadari, sudah setahun ia pergi. Tetapi, apa yang membuatnya masih bernafas di diriku?
Aku kembali mengingat kenanganku ketika bersama Aldi. Saat hujan turun, ketika ia bercerita tentang orang itu. Ingin rasanya aku menangis dalam diam. Getar-getar cinta itu masih berdenyut di hatiku. Entah apa yang terjadi padaku? Aku melihat dengan jelas bayangan dirinya di depanku, seperti setahun lalu.
Tapi, semua itu hanya khayalku. Sampai hujan kali ini pun, dia tak kembali. Aldi, aku tetap menanti dirimu. Biarlah hujan menjadi satu-satunya kenangan di antara kita. Biarkan aku selalu menyimpan namamu di dalam hatiku. Aku akan menghitung sampai hujan ke berapa kali kah yang turun sampai kamu benar-benar datang. Aldi, haruskah aku menanti sampai hujan yang ke seratus, ke seribu ataupun sejuta? Hingga kamu kembali padaku. Aldi, tak peduli kapan pun itu. Aku akan tetap menunggumu dan menjaga kenangan indah antara kau dan aku ketika hujan turun.
Linangan Air Mata
Tersenyumlah. Menangislah. Ketika tangan ini tak lagi bisa menggenggam tanganmu. Aku tahu kau marah, bingung, sedih. Tidak. Kau tak usah marah, bingung, sedih. Kau harusnya bahagia. Relakan aku pergi atas nama cinta. Aku mencintaimu tapi keadaan yang tak mencintai kita. Aku menyayangimu tapi di sekeliling tak menyayangi kita. Kita tidak bisa bersatu seperti apa yang kita impi-impikan selama ini. Kita tidak bisa bersama lagi. Berat. Memang berat. Anggap ini pelajaran hati yang bisa kuatkan diri. Menangislah, saat hati sudah tak bisa berkata sampai air mata yang berlinang mewakili kata. Selamat tinggal masa lalu.
Berat rasanya mengakhiri hubungan yang sudah kita jalani selama dua tahun. Suka dan duka sudah kita lewati. Termasuk duka. Duka yang selama ini kita jalani. Berjuang untuk mempertahankan hubungan ini. Walau di sekeliling kita, di sekitar kita tak juga ada setitik cahaya di hatinya untuk menerima kita bersama. Kuharap jika kau sempat kembali ke sini, aku sangat-sangat ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Aku rindu. Rindu dipelukmu. Sudah lima bulan kepergianmu, tapi aku sudah putuskan untuk menyudahi hubungan ini. Percuma. Sungguh percuma. Apalagi keberadaanmu tak lagi dekat.
Oh ya. Aku masih menyimpan semua barang tentangmu, tentang kenangan kita yang selama ini menemani hari-hariku. Aku masih memakai jam tangan PUMA pemberianmu. Saat aku melihat jam itu, aku langsung teringat tentangmu. Kalau kamu? Apakah kau masih menyimpan lukisan itu? Lukisan yang waktu itu aku lukis di anjungan pantai Losari. Kuharap kau masih menyimpannya. Kau berkata saat itu bahwa lukisan yang kulukis tentang senja yang sangat indah di pantai itu, saat kau duduk dengan baju pink kesukaanmu dengan rok selutut bermotif bunga warna-warni itu adalah lukisan yang paling indah sedunia. Kau ingat saat itu? Tentu saja kau mengingatnya, karena waktu itu aku melukismu saat senja muncul di langit pantai Losari.
Apakah kau menangis? Maafkan aku. Aku sendiri menangis menulis pesan ini. Aku cengeng yah? Saat senja menyapa, aku menangis. Tentang kenangan kita saat senja. Aku tak tahu sudah berapa kali kita melihat senja bersama. Senja yang waktunya sekilat pesawat saat lepas landas. Mungkin senja itu singkat karena senja itu berharga dan indah sekali. Maka dari itu untuk yang berharga kita harus mengejarnya. Dan kau masih ingat tentang senja yang PHP?. Waktu itu kita menunggu senja tapi tak kunjung datang. Kita berdua menunggu sampai kehujanan, sampai malam tiba. Senja pemberi harapan palsu ketika itu. Gila kan? Sudah tahu mendung, tapi kau ingin sekali ke pantai melihat senja. Tapi aku mengerti karena kau sangat mencintai senja.
Tentang senja terakhir kita di pantai Akarena sebelum kau memutuskan untuk kuliah di Bandung. Saat itu senja terakhir kita yang penuh dengan tangis. Tentang hubungan kita yang tak direstui. Ketika itu aku melepasmu dengan pelukan. Maaf, aku menangis lagi. Cinta ini sulit kulepaskan. Tapi inilah yang sebaiknya. Baik-baik di sana. Semoga kau bahagia. Mungkin ini pesan terakhirku. Hey. Jangan menangis…
Salam rindu putri cantik
Suara pedagang asongan yang menyodorkan Tissue ke Kila menyadarkan lamunannya saat setelah membaca E-mail dari Kesa. Namun Kila menolak Tissue tersebut. Linangan air matanya sudah tak terhitung saat membaca E-mail dari Kesa. Seorang lelaki yang sangat ia cinta dan banggakan telah mengiris-iris hatinya yang sedang mekar-mekarnya ingin cepat kembali dan bertemu Kesa di Makassar. Hati yang sudah tertutup oleh laki-laki lain. Hati yang sudah terisi oleh mutiara cerah kini hancur hilang sendiri karenanya. Semua hilang, hilang ditiup angin yang mewakili pesannya. Linangan air mata terus melewati pipinya yang cerah lembab. Linangan yang mewakili kata, mulut yang sudah sedari tadi gumam, kini segumam-gumamnya.
Di halte depan kampusnya dia masih saja meratapinya. Masih saja berlinang air mata. Masih saja diam dan tak berkata-kata. Hancur. Hancur kini hatinya. Absurd, tidak percaya Kesa mengakhiri hubungannya yang sudah lama dia pertahankan dengan susah payah, kini berhembus melebur dengan cepat. Kini dia berdiri, berjalan, masih dengan linangan air matanya. Berjalan tanpa terbeliak sama sekali dengan suara di sekitar yang begitu nyaring. Berjalan sampai tiba saatnya dia tertabrak oleh mobil beroda enam. Kini dia hanya bisa menunggu penjelasan Kesa di dunia lain. Berharap bertemu dan bisa memeluknya lagi.
Berat rasanya mengakhiri hubungan yang sudah kita jalani selama dua tahun. Suka dan duka sudah kita lewati. Termasuk duka. Duka yang selama ini kita jalani. Berjuang untuk mempertahankan hubungan ini. Walau di sekeliling kita, di sekitar kita tak juga ada setitik cahaya di hatinya untuk menerima kita bersama. Kuharap jika kau sempat kembali ke sini, aku sangat-sangat ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Aku rindu. Rindu dipelukmu. Sudah lima bulan kepergianmu, tapi aku sudah putuskan untuk menyudahi hubungan ini. Percuma. Sungguh percuma. Apalagi keberadaanmu tak lagi dekat.
Oh ya. Aku masih menyimpan semua barang tentangmu, tentang kenangan kita yang selama ini menemani hari-hariku. Aku masih memakai jam tangan PUMA pemberianmu. Saat aku melihat jam itu, aku langsung teringat tentangmu. Kalau kamu? Apakah kau masih menyimpan lukisan itu? Lukisan yang waktu itu aku lukis di anjungan pantai Losari. Kuharap kau masih menyimpannya. Kau berkata saat itu bahwa lukisan yang kulukis tentang senja yang sangat indah di pantai itu, saat kau duduk dengan baju pink kesukaanmu dengan rok selutut bermotif bunga warna-warni itu adalah lukisan yang paling indah sedunia. Kau ingat saat itu? Tentu saja kau mengingatnya, karena waktu itu aku melukismu saat senja muncul di langit pantai Losari.
Apakah kau menangis? Maafkan aku. Aku sendiri menangis menulis pesan ini. Aku cengeng yah? Saat senja menyapa, aku menangis. Tentang kenangan kita saat senja. Aku tak tahu sudah berapa kali kita melihat senja bersama. Senja yang waktunya sekilat pesawat saat lepas landas. Mungkin senja itu singkat karena senja itu berharga dan indah sekali. Maka dari itu untuk yang berharga kita harus mengejarnya. Dan kau masih ingat tentang senja yang PHP?. Waktu itu kita menunggu senja tapi tak kunjung datang. Kita berdua menunggu sampai kehujanan, sampai malam tiba. Senja pemberi harapan palsu ketika itu. Gila kan? Sudah tahu mendung, tapi kau ingin sekali ke pantai melihat senja. Tapi aku mengerti karena kau sangat mencintai senja.
Tentang senja terakhir kita di pantai Akarena sebelum kau memutuskan untuk kuliah di Bandung. Saat itu senja terakhir kita yang penuh dengan tangis. Tentang hubungan kita yang tak direstui. Ketika itu aku melepasmu dengan pelukan. Maaf, aku menangis lagi. Cinta ini sulit kulepaskan. Tapi inilah yang sebaiknya. Baik-baik di sana. Semoga kau bahagia. Mungkin ini pesan terakhirku. Hey. Jangan menangis…
Salam rindu putri cantik
Suara pedagang asongan yang menyodorkan Tissue ke Kila menyadarkan lamunannya saat setelah membaca E-mail dari Kesa. Namun Kila menolak Tissue tersebut. Linangan air matanya sudah tak terhitung saat membaca E-mail dari Kesa. Seorang lelaki yang sangat ia cinta dan banggakan telah mengiris-iris hatinya yang sedang mekar-mekarnya ingin cepat kembali dan bertemu Kesa di Makassar. Hati yang sudah tertutup oleh laki-laki lain. Hati yang sudah terisi oleh mutiara cerah kini hancur hilang sendiri karenanya. Semua hilang, hilang ditiup angin yang mewakili pesannya. Linangan air mata terus melewati pipinya yang cerah lembab. Linangan yang mewakili kata, mulut yang sudah sedari tadi gumam, kini segumam-gumamnya.
Di halte depan kampusnya dia masih saja meratapinya. Masih saja berlinang air mata. Masih saja diam dan tak berkata-kata. Hancur. Hancur kini hatinya. Absurd, tidak percaya Kesa mengakhiri hubungannya yang sudah lama dia pertahankan dengan susah payah, kini berhembus melebur dengan cepat. Kini dia berdiri, berjalan, masih dengan linangan air matanya. Berjalan tanpa terbeliak sama sekali dengan suara di sekitar yang begitu nyaring. Berjalan sampai tiba saatnya dia tertabrak oleh mobil beroda enam. Kini dia hanya bisa menunggu penjelasan Kesa di dunia lain. Berharap bertemu dan bisa memeluknya lagi.
Pelukan Terakhir
Sudah lama kita saling suka tapi kita tak bisa bersama, karena kita sahabat dan mantanku dekat dengannya terlebih mantanku tak bisa menerima bahwa hubungan kita telah berakhir dan aku tidak boleh memiliki pasangan sebelum dia bisa melupakan aku.
Aku tak tau kapan rasa suka itu mulai ada, seiring berjalan waktu rasa sayang mulai tumbuh terlebih kita berdua sangat dekat, bayak orang yang menyangka kalau kita pacaran. aku tau semua tentang dia dan mungkin diapun tau semua tentang aku, karena saking dekatnya akupun tak tau kalau dia suka aku.
Banyak kejadian yang kita lewatin, entah berdua atau bersama teman-teman yang lain. kita pernah saling cuek sering ketemu dikampus tapi kita yang orang lain yang engga kenal. karena suatu kejadian yang buat aku nyesel sampai sekarang.
Suatu hari kita liburan ke pantai bersama adikku dan pacarnya, senangnya saat kita bisa meluangkan waktu bersama apalagi seperti ini pergi kepantai. kita hanya duduk disebuah saung menatap indahnya pantai tanpa banyak bicara.
“makasih..” ucapku
“makasih buat?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku
“buat hari ini, aku seneng bisa pergi bareng kamu, bareng mereka juga” melihat sepasang kekasih asik tiduran diatas pasir.
“sama-sama. emm ding?”
“iya,”
“kita bikin perjanjian yu?” usulnya
“perjanjian? perjanjain apa?” tanyaku
“aku tau kita enggak mungkin bareng-bareng buat saat ini, dan aku tau dia masih ngarepin kamu, dan aku enggak mungkin kaya gini terus, masih banyak waktu buat kita jalanin semuanya, aku enggak mau kalau kamu terus menderita untuk semua ini. Aku harap kita temukan yang lain, jika aku merasa cukup untuk mencari dan masih tidak menemukannya, aku yakin kamu adalah orang terahir untukku. Janji?” jelasnya
“aku memang lagi deket sih, tapi aku belum yakin sama dia. Aku tau ini akan menjadi berat, tapi aku janji sama kamu, karena aku ingin selalu bersama ” sambil tersenyum
Dari kejadian hari itu aku selalu ingat janji kita. tapi masalah mulai datang saat mantanku tau soal kita! dan akhirnya sahabat dan teman dekatku tau soal ini. seperti petir di siang hari semua terasa perih dan menyakitkan. aku tak bisa jalani ini tanpa dukungan dari dia.
Hari terasa berjalan sangat sangat lambat, kita masih komunikasi meski jarang tapi ini semua sudah biasa, aku selalu takut di saat dia bareng anak-anak terutama bareng mantanku, aku takut dia ceroboh dan membuat masalah itu muncul lagi. Beberapa bulan kemudian dia datang ke rumah dan seperti biasa kita ngobrol dan bercanda.
“aku mau bisikin sesuatu sama aku?”
“bisikin apa? engga mau ah,” candaku
“sini aku bisikin bentar,”
“engga mau, kamu pasti becanda”
“engga, sini deh!”
“kamu mau engga nikah sama aku?”
“hah? serius?” dengan nada terkejut dan sedikit meledek
“serius, aku mau kita nikah aja, biar aku bisa bareng kamu terus” sambil tertawa malu
“hehe, engga mau ah. kamu engga serius?”
“serius tau ih, tapi sekarang aku belum punya apa-apa, nanti aku bakalan sukses kok apalagi ada kamu” dengan senyumnya yang buat mata dia berbentuk huruf N he
“amien,” seneng banget dia bilang gitu, aku pengen jawab mau bangeettt?
“engga ada cincin yah?” dia senyum sambil pegang tangan aku, dan aku balas senyum dia.
Tiba-tiba dia nyuruh aku balik badan, dia lepasin kalung yang dia pake dan dia pakaikan di leherku. Aku deg-degan banget aku kira dia mau ngapain, seneng banget saat dia pakaikan kalung itu, aku Tanya kalau ibu nanyain kalung ini dia jawab apa? dia bilang tenang aja semua bisa diatur dan kembali tersenyum. pengen rasanya loncat-loncat dan teriak saking senengnya? Dia bilang cuma ini yang dia punya dan ini harus selalu aku pakai! pastinya aku akan selalu pakai kalung ini
Suatu hari, kampus ngadain turnamen futsal antar angkatan, waktu itu pertandingan antara angkatan ku lawan angkatan bawah. aku turun tangga mau ke lapang aku lihat dia lagi maen sama anak kecil, aku kira anak kecil itu anaknya bang riky alumni (dengan nama samara), tenyata anak kecil itu keponakan mantannya. kalau lihat dia bareng mantannya yang itu aku engga suka, aku pengen banget pulang tapi aku bertahan sampai ahir dan sebisa mungkin engga memperlihatkan kalau aku marah dengan main bareng keponakannya itu.
Pertandingan usai dan angkatan kitapun menang dengan skor yang memuaskan, tapi tidak dengan hati aku semakin menyayat dan semakin sesak saat lihat mereka bersama seperti keluarga ayah, ibu dan anak! rasanya ingin lari berteriak dan menangis!
Dari kejadian itu aku sakit, aku engga ngampus dan dia baru sadar kalau aku sakit malem-malem dia ke rumah buat mastiin aku engga apa-apa karena sms dari dia aku engga bales dan sms semua orangpun aku engga bales. pengen banget bilang ke dia kalau aku engga suka lihat dia kaya kemaren dan aku kecewa banget! tapi ada mamah aku malu..
Dia jelasin semua soal kemarin dia bareng mantannya. semua kembali seperti semula meski kita engga banyak bareng-bareng tapi dia masih suka maen ke rumah. hari itu aku kangen dia pake banget malahan, dan tiba-tiba dia datang ke rumah tanpa bilang dulu awalnya, penampilannya berbeda dari biasa dia terlihat rapih sangat-sangat rapih dan terlihat lebih bercahaya?
Kita ngobrol, bercanda seperti biasa, dan menghabiskan malam bersama, rasanya enggak pengen dia pulang, sebelum dia pulang tiba-tiba dia peluk aku erat banget, aku becandain dia aja.
“ding, aku sayang banget sama kamu. Maaf dan makasih” ucapnya
“ngomong apa sih? aku juga sayang kamu anyunn.”
Dia peluk aku lagi, aku hanya diam dan tak merasa ada yang aneh dengan sikap dan kata-katanya. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam dia pamit pulang, cara dia jalan tuh beda tapi dia tetap ceria dan sempat becanda sebelum pulang. Dia parkirin motor sebelum pulang dia cium kening dan peluk aku lagi, pelukan itu terasa sangat hagat dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya, ini yang buat aku aneh karena dia engga pernah lakuin ini sebelumnya.
Diapun pergi… Pintu gerbang belum aku gembok terdengar suara benturan benda yang sangat keras, aku langsung ingat dia dan berlari menuju jalan raya. Aku jalan perlahan memastikan bahwa itu bukan dia, saat melihat motor yang diparkir oleh bapak-bapak dan itu ternyata motor dia mulailah air mata keluar.
Perlahan aku dekati kerumunan itu dan aku terhentak saat melihat tubuhnya tergeletak di jalan dengan darah di sekujur tubuhnya. tidak banyak berkata aku hanya terdiam dan menangis?
Sudah tiga hari dia dirawat dan masih belum sadar juga, aku terus temenin dia tapi saat anak-anak besuk aku sembunyi, aku engga mau mereka liat aku dan berpikiran yang aneh-aneh soal kita.
Mamah engga marah soal ini, mamah tau dan ngertiin perasaan aku gimana, hapir semua waktuku aku habiskan menemaninya di rumah sakit, keluarganya ada disana, aku malu tapi rasa malu itu hilang karena kekhawatiranku lebih besar.
Akhirnya dia sadar semua menangis bahagia terutama ibu, dia tidak banyak bicara hanya melihat sekeliling. tak lama dia menanyakan surat yang ada di saku jaket yang dulu dipakai dan memberikannya kepadaku.
“ini surat buat kamu, maafin aku yah aku engga bisa tepatin janji aku, aku sering buat kamu marah, buat kamu sakit hati sering juga buat kamu nangis. Aku sayang kamu ding”
“kamu enggak boleh bilang gitu, kamu udah janjikan! aku tau kamu pasti bisa nepatin janji kamu.”
“ibu, kaka minta maaf selama ini kaka sering buat ibu kesel, nyusahin ibu, selalu buat ibu khawatir. kaka sayang banget sama ibu.”
“kamu jangan banyak bicara dulu kamu baru sadar harus banyak istirahat, ibu juga sayang kamu nak.!” Mengusap dan mencium kening
“iya bu, kaka juga mau istirahat ko.” memejamkan mata, dan itu adalah kata-kata terakhir sebelum dia menghembuskan nafas terahir, semua menangis haru terlebih aku dan ibu, aku mencoba tegar dan kuat menerima semua ini.
Setahun berlalu setelah kepergian dia, enggak ada lagi yang bangunin tiap pagi dan nyuruh solat “bagun, solat cantik”, pangilang sayang dia “oding” dan enggak ada lagi yang ngucapin kata sebelum aku tidur “Gnight oding, nice dreams” dan enggak ada lagi yang nyanyiin lagu, ceritain cerita kalau aku susah tidur? aku selalu mengunjungi makamnya tiap kali aku ingat dan aku kangen dia.
Kita enggak tau apa yang akan terjadi pada kita saat ini atau nanti. Semua sudah Tuhan atur, dan ini jalan yang Tuhan kasih buat kita. Cinta memang tak selama harus memiliki dan tak selamanya harus bersama. Tapi aku cinta kamu selamanya, kita pasti akan bertemu di kemudian hari.
Idam aku kangen kamu, kangen becandaan kamu, aku kangen semua yang sering kita lakukan? Saranghae Idam :*
Aku tak tau kapan rasa suka itu mulai ada, seiring berjalan waktu rasa sayang mulai tumbuh terlebih kita berdua sangat dekat, bayak orang yang menyangka kalau kita pacaran. aku tau semua tentang dia dan mungkin diapun tau semua tentang aku, karena saking dekatnya akupun tak tau kalau dia suka aku.
Banyak kejadian yang kita lewatin, entah berdua atau bersama teman-teman yang lain. kita pernah saling cuek sering ketemu dikampus tapi kita yang orang lain yang engga kenal. karena suatu kejadian yang buat aku nyesel sampai sekarang.
Suatu hari kita liburan ke pantai bersama adikku dan pacarnya, senangnya saat kita bisa meluangkan waktu bersama apalagi seperti ini pergi kepantai. kita hanya duduk disebuah saung menatap indahnya pantai tanpa banyak bicara.
“makasih..” ucapku
“makasih buat?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku
“buat hari ini, aku seneng bisa pergi bareng kamu, bareng mereka juga” melihat sepasang kekasih asik tiduran diatas pasir.
“sama-sama. emm ding?”
“iya,”
“kita bikin perjanjian yu?” usulnya
“perjanjian? perjanjain apa?” tanyaku
“aku tau kita enggak mungkin bareng-bareng buat saat ini, dan aku tau dia masih ngarepin kamu, dan aku enggak mungkin kaya gini terus, masih banyak waktu buat kita jalanin semuanya, aku enggak mau kalau kamu terus menderita untuk semua ini. Aku harap kita temukan yang lain, jika aku merasa cukup untuk mencari dan masih tidak menemukannya, aku yakin kamu adalah orang terahir untukku. Janji?” jelasnya
“aku memang lagi deket sih, tapi aku belum yakin sama dia. Aku tau ini akan menjadi berat, tapi aku janji sama kamu, karena aku ingin selalu bersama ” sambil tersenyum
Dari kejadian hari itu aku selalu ingat janji kita. tapi masalah mulai datang saat mantanku tau soal kita! dan akhirnya sahabat dan teman dekatku tau soal ini. seperti petir di siang hari semua terasa perih dan menyakitkan. aku tak bisa jalani ini tanpa dukungan dari dia.
Hari terasa berjalan sangat sangat lambat, kita masih komunikasi meski jarang tapi ini semua sudah biasa, aku selalu takut di saat dia bareng anak-anak terutama bareng mantanku, aku takut dia ceroboh dan membuat masalah itu muncul lagi. Beberapa bulan kemudian dia datang ke rumah dan seperti biasa kita ngobrol dan bercanda.
“aku mau bisikin sesuatu sama aku?”
“bisikin apa? engga mau ah,” candaku
“sini aku bisikin bentar,”
“engga mau, kamu pasti becanda”
“engga, sini deh!”
“kamu mau engga nikah sama aku?”
“hah? serius?” dengan nada terkejut dan sedikit meledek
“serius, aku mau kita nikah aja, biar aku bisa bareng kamu terus” sambil tertawa malu
“hehe, engga mau ah. kamu engga serius?”
“serius tau ih, tapi sekarang aku belum punya apa-apa, nanti aku bakalan sukses kok apalagi ada kamu” dengan senyumnya yang buat mata dia berbentuk huruf N he
“amien,” seneng banget dia bilang gitu, aku pengen jawab mau bangeettt?
“engga ada cincin yah?” dia senyum sambil pegang tangan aku, dan aku balas senyum dia.
Tiba-tiba dia nyuruh aku balik badan, dia lepasin kalung yang dia pake dan dia pakaikan di leherku. Aku deg-degan banget aku kira dia mau ngapain, seneng banget saat dia pakaikan kalung itu, aku Tanya kalau ibu nanyain kalung ini dia jawab apa? dia bilang tenang aja semua bisa diatur dan kembali tersenyum. pengen rasanya loncat-loncat dan teriak saking senengnya? Dia bilang cuma ini yang dia punya dan ini harus selalu aku pakai! pastinya aku akan selalu pakai kalung ini
Suatu hari, kampus ngadain turnamen futsal antar angkatan, waktu itu pertandingan antara angkatan ku lawan angkatan bawah. aku turun tangga mau ke lapang aku lihat dia lagi maen sama anak kecil, aku kira anak kecil itu anaknya bang riky alumni (dengan nama samara), tenyata anak kecil itu keponakan mantannya. kalau lihat dia bareng mantannya yang itu aku engga suka, aku pengen banget pulang tapi aku bertahan sampai ahir dan sebisa mungkin engga memperlihatkan kalau aku marah dengan main bareng keponakannya itu.
Pertandingan usai dan angkatan kitapun menang dengan skor yang memuaskan, tapi tidak dengan hati aku semakin menyayat dan semakin sesak saat lihat mereka bersama seperti keluarga ayah, ibu dan anak! rasanya ingin lari berteriak dan menangis!
Dari kejadian itu aku sakit, aku engga ngampus dan dia baru sadar kalau aku sakit malem-malem dia ke rumah buat mastiin aku engga apa-apa karena sms dari dia aku engga bales dan sms semua orangpun aku engga bales. pengen banget bilang ke dia kalau aku engga suka lihat dia kaya kemaren dan aku kecewa banget! tapi ada mamah aku malu..
Dia jelasin semua soal kemarin dia bareng mantannya. semua kembali seperti semula meski kita engga banyak bareng-bareng tapi dia masih suka maen ke rumah. hari itu aku kangen dia pake banget malahan, dan tiba-tiba dia datang ke rumah tanpa bilang dulu awalnya, penampilannya berbeda dari biasa dia terlihat rapih sangat-sangat rapih dan terlihat lebih bercahaya?
Kita ngobrol, bercanda seperti biasa, dan menghabiskan malam bersama, rasanya enggak pengen dia pulang, sebelum dia pulang tiba-tiba dia peluk aku erat banget, aku becandain dia aja.
“ding, aku sayang banget sama kamu. Maaf dan makasih” ucapnya
“ngomong apa sih? aku juga sayang kamu anyunn.”
Dia peluk aku lagi, aku hanya diam dan tak merasa ada yang aneh dengan sikap dan kata-katanya. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam dia pamit pulang, cara dia jalan tuh beda tapi dia tetap ceria dan sempat becanda sebelum pulang. Dia parkirin motor sebelum pulang dia cium kening dan peluk aku lagi, pelukan itu terasa sangat hagat dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya, ini yang buat aku aneh karena dia engga pernah lakuin ini sebelumnya.
Diapun pergi… Pintu gerbang belum aku gembok terdengar suara benturan benda yang sangat keras, aku langsung ingat dia dan berlari menuju jalan raya. Aku jalan perlahan memastikan bahwa itu bukan dia, saat melihat motor yang diparkir oleh bapak-bapak dan itu ternyata motor dia mulailah air mata keluar.
Perlahan aku dekati kerumunan itu dan aku terhentak saat melihat tubuhnya tergeletak di jalan dengan darah di sekujur tubuhnya. tidak banyak berkata aku hanya terdiam dan menangis?
Sudah tiga hari dia dirawat dan masih belum sadar juga, aku terus temenin dia tapi saat anak-anak besuk aku sembunyi, aku engga mau mereka liat aku dan berpikiran yang aneh-aneh soal kita.
Mamah engga marah soal ini, mamah tau dan ngertiin perasaan aku gimana, hapir semua waktuku aku habiskan menemaninya di rumah sakit, keluarganya ada disana, aku malu tapi rasa malu itu hilang karena kekhawatiranku lebih besar.
Akhirnya dia sadar semua menangis bahagia terutama ibu, dia tidak banyak bicara hanya melihat sekeliling. tak lama dia menanyakan surat yang ada di saku jaket yang dulu dipakai dan memberikannya kepadaku.
“ini surat buat kamu, maafin aku yah aku engga bisa tepatin janji aku, aku sering buat kamu marah, buat kamu sakit hati sering juga buat kamu nangis. Aku sayang kamu ding”
“kamu enggak boleh bilang gitu, kamu udah janjikan! aku tau kamu pasti bisa nepatin janji kamu.”
“ibu, kaka minta maaf selama ini kaka sering buat ibu kesel, nyusahin ibu, selalu buat ibu khawatir. kaka sayang banget sama ibu.”
“kamu jangan banyak bicara dulu kamu baru sadar harus banyak istirahat, ibu juga sayang kamu nak.!” Mengusap dan mencium kening
“iya bu, kaka juga mau istirahat ko.” memejamkan mata, dan itu adalah kata-kata terakhir sebelum dia menghembuskan nafas terahir, semua menangis haru terlebih aku dan ibu, aku mencoba tegar dan kuat menerima semua ini.
Setahun berlalu setelah kepergian dia, enggak ada lagi yang bangunin tiap pagi dan nyuruh solat “bagun, solat cantik”, pangilang sayang dia “oding” dan enggak ada lagi yang ngucapin kata sebelum aku tidur “Gnight oding, nice dreams” dan enggak ada lagi yang nyanyiin lagu, ceritain cerita kalau aku susah tidur? aku selalu mengunjungi makamnya tiap kali aku ingat dan aku kangen dia.
Kita enggak tau apa yang akan terjadi pada kita saat ini atau nanti. Semua sudah Tuhan atur, dan ini jalan yang Tuhan kasih buat kita. Cinta memang tak selama harus memiliki dan tak selamanya harus bersama. Tapi aku cinta kamu selamanya, kita pasti akan bertemu di kemudian hari.
Idam aku kangen kamu, kangen becandaan kamu, aku kangen semua yang sering kita lakukan? Saranghae Idam :*
Syhmponi Aurora
Di ruang itu – dengan pencahayaan yang mendekati minim dan satu fenomena alam terlukis di langit-langit yang dipancarkan sebuah proyektor – mirip seperti malam musim panas di San Jose.. Dua insan terhanyut oleh melodi mereka sendiri. Sang Adam menggerakkan jemarinya menyusuri tuts-tuts piano Grand Yamaha hitam, memainkan untaian nada-nada indah. Sang Hawa berkhalayak dengan violinnya. Berjalan, berputar, dan tersenyum membiarkan tubuh mungilnya berapresiasi dengan nada. Nada indah yang menghasilkan sebuah melodi “Symphony Aurora”.
—
Ku berjalan menyusuri koridor yang penuh dengan remaja seusiaku. Bersenda gurau, menggosipkan cover boy majalah teenage mingguan atau mungkin pemain basket terpopuler seperti di sekolah-sekolah pada umumnya. Entahlah, apa gerangan yang membuat semua omong kosong ini. Sejurus mata mereka terfokus ke arahku. Kurasa murid mutasi itu hal yang biasa. Huuh. Negara macam apa ini memperlakukan orang asing seperti ini.
Ku edarkan pandangan di seantero kelas berukuran 10 X 8 meter. Tak ada satupun bangku yang bisa kududuki kecuali bangku di sudut kelas. Ya, bangku kosong namun tak sepenunya kosong. Ada lelaki duduk seorang diri disitu.
“Can I take this seat?”
Dia menatapku nanar “Jika ada bangku lain yang bisa kau duduki sebaiknya kau tak disini.”
“I think you already know there’s no more seat here.”
Dia menghela nafas dan menggeser tempat duduknya – menggeser hingga tepi meja, sejauh mungkin dariku.
“Hi, I’m Alexa. Wanna tell your name?”
“Itu tak penting bagimu.”
“How come you behave like that?”
“Sudahlah. Tak perlu berlebihan. Tak perlu kau panggil namaku dan tak perlu mencairkan suasana. Selera humormu tak bagus.”
“Oh! OK. Mungkin selera humorku buruk tapi tak lebih buruk dari dirimu yang tak bisa menghargai orang, Bro.” kataku sedikit terbata karena ku belum terbiasa berucap dalam bahasa Indonesia.
“Terserah katamu. Aku tak peduli.” Dia mengendus
“Akupun tak butuh pedulimu.” Ucapku seedikit tersengal
“Dasar gadis gila.” Dengan santai ia meninggalkan kelas – terutama diriku.
“Ka-kamu yang gila!” Teriakku terbata dan seluruh mata di kelas ini kelas ini kembali menghujamku. Uhh. Sungguh menyebalkan. Aku benci diperlakukan seperti ini.
—
Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku dan lelaki yang kutahu namanya Andre, tak pernah sedikitpun akur, meskipun hanya sekedar menyapa satu dan lainnya. Ah, sudahlah tak ada gunanya memikirkan lelaki gila itu.
Ku bergegas secepat kilat meninggalkan halaman sekolah. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengunjungi kakak tercintaku – Alena. Telah beberapa hari ini ku terlalu disibukkan oleh diriku sendiri. Ku kayuh BMX silverku melintasi jalanan Bandung yang mulai senja. Ku tarik nafas panjang dan menikmatinya. Hah, situasi yang melegakan. Setidaknya ini cukup membuatku damai dengan membunuh sepi bersepeda di jalanan yang basah. Ups. Kakiku terperanjat, “shit, what’s going on”. Rantai rodaku terselip dari porosnya. Oh. Damn it. Anyone gunna help me? Ku edarkan pandangan dari tempat dimana aku berdiri. Sungguh omong kosong macam apa ini. Benar-benar tak ada seorangpun disini.
“What a hell such this thing happen!” sungguh sulit membenahi sepeda ini.
“Pyeeekkk.” Percikan air comberan mendarat di sebagian besar baju, sepeda dan rambut emoku.
“Uhh. Fucking boy.” Ku lemparkan batu berukuran kepalan tangan pada lelaki berhelm merah dengan ducati yang dikendarainya. Yeah, tepat sasaran. Seketika ia menghentikan laju mesinnya.
“Heh, gadis bodoh. Apaan sih maksudmu?” Sang lelaki menghampiriku yang tengah geram akan segala yang menimpaku.
“Ku kira aku yang harus mengembalikan pertanyaan itu padamu, Boy.”
“Lihat! hasil lukisanmu di sepeda, baju juga rambutku, sungguh indah bukan?” nadaku mencibirnya. “Menurutmu siapa yang mulai duluan?” sambungku
“Mana aku tahu kalau kau di tepi jalan ini. Lagi pula ini jalan umum dan aku berhak untuk menggunakannya. bukan begitu, Nona?” dengan tingkah yang begitu menyebalkan dicondongkannya kepalanya ke arahku.
“Memang ini jalan umum tapi lihat hasil ulahmu. Dasar lelaki tak bertanggung jawab!”
“Ups. I’m sorry Nona. Itu salahmu. Mana aku tahu kau berhenti disitu lagian itukan bukan tempat pemberhentian. Jadi jangan salahkan aku jika aku mengecat baju dan tubuhmu yang memang memerlukan sedikit polesan.”
“Shut up! Jaga mulutmu!” Ku sungguh kebakaran jenggot, ku ayunkan kepalan tanganku kebagian hidungnya.
Sejurus tangan kanannya pun bertindak. “Oh…! Tak sepantasnya seorang wanita bermain kekerasan.” Entah apa yang kurasa. Sungguh menyebalkan. Angin entah darimana asalnya merasuk ke dalam tubuhku. Dan sepersekian detik otakku tak berfungsi¬ – mati gaya.
Ku mengerjap mencoba membebaskan diriku dari lamunanku. “Itu bukan urusanmu.” Ku coba melepaskan genggamannya. But just like a cold day in the hell, ia terlalu kuat meremas tanganku. Mata tajamnya menghujam mataku, sungguh dalam – teramat dalam. Entah mengapa, ku lihat ada sesuatu disana, sesuatu yang dengan jelas dapat ku tangkap. Mata yang nanar dan sarat akan kerapuhan.
“Eeeergghh” dia memejamkan mata bulatnya mengibaskan kepalanya dan mendorongku. Membuatku terhuyung. Raut wajahnya begitu kelam, sendu dan frustasi. Dia meninggalkanku begitu saja. Meninggalkanku dalam keheningan senja yang berpisah dengan mentari yang hendak bermain dibalik kegelapan – menyisakan perasaan yang aku tak tahu bagaimana untuk menepisnya, karena memang aku tak seharusnya mengharapkan dirinya.
—
Semenjak kejadian sore itu aku hampir gila dibuatnya. Tak habis-habisnya Andre menjadikanku mainan barunya. Disembunyikannya pekerjaan matematikaku hingga aku harus memotong rumput seantero sekolah. Mempermalukanku di hadapan semut-semut sekolah. Hingga mengirim surat cinta pada Joko si kacamata kuda yang membuatnya semakin tergila-gila padaku. Dan kini aku harus bertepuk tangan atas ulahnya. Ya, melubangi rokku seukuran piring makan. sekaligus mengurungku di kelas ini.
“Andre!” suaraku memekik mengalahkan teriakan bel sekolah. Wajahku merah padam dadaku sesak menahan amarahku padanya.
Aku sudah muak dengan semua ini. Berapa lama lagi aku harus terperangkap di ruang kelas ini.
Ku berjalan secepat mungkin menuju tempat parkir dengan kedua tanganku memegangi bagian belakang rokku, mencoba menutupi lubang karena ulah Andre. Tak mungkin aku bisa membalasnya untuk saat ini. Biarlah lelaki brengsek itu melayang di udara karena kemenangannya. Huh.
“Damn. What a hell it is!” Sepedaku tergantung di pohon mahoni besar.
“ANDREE…!” ku berteriak semampu pita suaraku. Mataku nanar, buih air mata tak lagi dapat ku tahan. Ku berjalan gontai kembali ke bagunan sekolah. Berharap segera ku temukan Andre dan ku tonjok habis hidungnya.
Sejurus aku membeku. Langkahku terhenti dikala lantunan melodi indah dari ruang kesenian menyentuh cuping telingaku. Ku buka pintu perlahan – menjelajahi seisi ruang itu dengan pandanganku. Ya, Seorang pemuda rapuh bermain sendiri disana, Ku mendekat. Lebih dekat kutangkap dia bermain lebih dalam. Sendiri. Oh, tidak! dia tak sendiri. Kurasa ada sesuatu dari dalam dirinya yang menemaninya selama permainan itu.
Ku rasa inilah saat yang tepat. Ya, inilah saatnya. “Simfoni Aurora.” Kata itu begitu saja keluar dari mulutku yang membangun lamunan panjang lelaki rapuh itu. Dihentakkan tuts-tuts piano yang tak mengerti apapun, melodi indah seketika menjelma menjadi desahan tak beraturan dan hilang ditelan keheningan.
“Darimana kau tahu lagu itu?” Dia membentakku. Dan ku hanya terdiam.
“Jawab.” Bentaknya lagi. Emosinya semakin tak terkontrol.
Ku tetap membisu. “jawab atau ku pukul kau.” Secepat kilat tangannya hendak mendarat di pipiku. Dan terhenti oleh pejaman mataku.
Ku membuka mata perlahan. “Pukul saja, kalau itu membuatmu lega.”
Kini Andre terdiam. Ya, Andrelah lelaki selalu menghabiskan sorenya di tempat ini. Sejurus, dia membeku dan bersimpuh di sampingku. Kepalanya tertunduk, wajahnya sarat akan kepiluan yang begitu dalam.
“Kau tahu Alexa, walau ku pukul kau seratus kalipun tak kan sebanding dengan pukulan yang bertubi-tubi kau berikan padaku selama ini.” Kini air matnya meleleh dan ku tetap terdiam. Mematung. Bagai dibekukan kutub yang dingin.
“Semenjak kehadiranmu, setiap kali ku melihatmu kau selalu memukul hatiku, memukul jiwaku, membuatku sesak, membuatku tersiksa.”
Ia memukul-mukul kepalanya. Air meleleh dari mata bulat itu. Kali ini ku lihat wajah itu sayu dan penuh keputus-asaan. Seperti wajahnya di kala senja itu.
“Mungkin itu tak adil bagimu. Mengapa aku membencimu, kasar terhadapmu dan sering kali menyakitimu.” Kata-katanya terhenti oleh nafas panjang yang dihelanya.
“Kenapa?” tanyaku
“Karena aku ingin kau enyah dari sekolah ini.” Jawabnya lemas
“Tapi kenapa?” pertanyaanku terulang kembali
“Sudahlah, jangan banyak bertanya.”
“Tidak. Aku ingin tahu apa alasannya. Jawab! Ayo jawab!” Ku goncang tubuhnya bagai anak kecil merengek pada ayahnya.
Andre tetap terbungkam. Goncanganku semakin hebat. Dia mengehela nafas panjang.
“ITU KARENA KAU MIRIP DENGAN ORANG YANG SELAMA INI MENYAKITIKU SEKALIGUS MENGHANCURKANKU.” Ia berteriak tepat di depan wajahku.
Ku membisu. Tak pernah tepikirkan hal ini akan berantakan seperti ini.
“Kau tahu, Ndre. Ku kira ini semua adil bagiku. Orang yang kau sebut-sebut telah menghancurkanmu dan menyakitimu adalah saudara kembar orang yang duduk tepat di sampingmu.”
Sekonyong-konyong dia menatapku, kembali dengan tatapan nanar dan tak percaya.
“Ya. Alena adalah saudara kembarku. Kami berpisah 4 tahum silam, satu tahun sebelum ia bertemu denganmu. Aku dan orang tuaku pindah ke Amrik lantaran ayahku mutasi dinas di salah satu perusahaan penerbangan disana. Dan Alena tetap tinggal di Indonesia bersama tanteku.”
“Apakah selama ini kau hancur karena Alena?” tanyaku
“Entahlah, bagaimana aku menyebut perasaanku selama ini. Aku merasa bodoh, berantakan dan entahlah aku tak tahu bagaimana aku harus mengobatinya.”
“Alena meninggalkanmu karena jatuh cinta dengan lelaki Amrik. Dia ingin menikah dengannya, sebatas omong kosong itu yang kau tahu, bukan?”
Aku tak kuasa menyimpan rahasia Alena. Tapi setidakya Andre akan tahu yang sebenarnya tentang Alena.
Wajah kelam itu kini memandangku dengan pandangan penuh tanya.
“Ya, selama ini Alena membohongimu. Karena dia begitu mencintaimu dan dia tahu bahwa dia akan meninggalkanmu untuk selamanya.”
Wajah Andre semakin tak mengerti.
“Alena mederita siropsis.” Ku tertunduk dalam.
“Apa? Alena menderita ssi-rop-sis.” Ulang Andre mamastikan. Dan, aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Saat dia bersamamu dia sadar bahwa ini hanya akan menyakiti dirinya juga dirimu. Maka dari itu dia memutuskan untuk menyudahi hubungan kalian. Ya, megatakan hal bodoh seperti itulah cara yang paling baik menurutnya”
“Lalu dimana dia sekarang?”
“Dia berada di tempat yang indah bersama Tuhan, Andre.” Andre terbelalak tak percaya dengan alis yang nyaris menyatu satu sama lain. Sekonyong-konyong dia menatapku tajam. Tangannya mengepal seperti pertama ku melihatnya.
“Kau tahu, Andre. Dikala sakitnya dia lebih senang berteman dengan biolanya memainkan melodi yang sama dengan melodi yang baru kau mainkan. Ya, melodi yang sama dengan penghayatannya yang seperti dirimu. Namun, aku tak sedikitpun mengerti akan Alena saat itu, hingga suatu ketika dia menceritakan semua ini kepadaku, tentang kenangan kalian memainkan lagu yang kalian gubah sendiri. Ya, di ruang ini dengan latar aurora dari biasan proyektor karena memang Alena ingin sekali melihat aurora – dan sebatas itu kau mampu mengabulkannya. Namun, bagi Alena semua yang kau berikan jauh lebih indah daripada dia dia melihat langsung aurora, seperti yang biasa kami lakukan waktu itu.”
Andre masih terdiam – tertegun tanpa tahu harus berkata apa.
“Alena tak pernah sedikitpun melupakanmu, Andre. Meskipun disaat-saat terakirnya. Dia memintaku untuk pindah ke Indonesia dan mengatakan permohonan maafnya padamu.”
Andre masih tertunduk, ku beranikan diriku untuk menyentuh bahunya mencoba membesarkan hatinya. Disandarkan kepalanya di bahuku, air matanya masih terjatuh. Sejurus, darahku berdesir. Entah mengapa aku merasakan suatu yang berbeda saat ini, sesuatu yang nyaman tapi mustahil bagiku untuk merasakannya.
“Hemmm.” Ku tarik nafas panjang. “Ku rasa tanggung jawabku sudah usai, aku sudah memenuhi permintaan Alena dan ini saatnya aku kembali ke Amerika.”
“Apa? Kau akan kembali ke Amerika, setelah semua yang kau lakukan padaku?”
“Aku?. Apa yang telah ku lakukan padamu?”
Ia menghentikan kata-katanya. “Sudah, lupakan saja”
Beberapa menit kami hanyut dalam diam – dalam lamunan kami sendiri.
Aku harus melakukan ini, Andre. Aku mencintaimu dan aku tak bisa terus-terusan mencintaimu. Ini tak seharusnya ku rasakan, kau bukan untukku. Kau milik Alena. Hanya milik Alena.
—
Matahari siang ini tak terlalu memamerkan tahta kuasanya. Tampaknya ia terlalu lelah berurusan dengan panas selama ini. Suasana waiting longue bandara cukup ramai walau cuaca tak dibilang cerah hari ini. Langit kini menangis – butiran-butiran air jatuh pada tempo nyaris bersamaan. Aku menunggu di kursi biru tua lobi bandara sambil menikmati pesawat yang hendak take off di tengah guyuran hujan terbingkai jendela kaca yang sedikit berembun. Entah apa yang kurasakan. Batinku berdebat, satu sisi aku berat beranjak dari sini – apa karena Andre. Sort of. Sisi yang lain aku tak mungkin menghianati Alena, kakaku sendiri – dan aku memang harus pergi. Come on, Alexa. Let it go and flow.
Aku masih mematung di baggage claim. Uh, kenapa aku masih menantinya. Ayolah, Lexa. It’s over. Lupakan dia. Ya. Aku harus melupakannya dan inilah satu-satunya jalan. “Alexa.” Ku dengar seseorang memanggilku. Ku arahkan pandanganku ke segala penjuru. Nihil. Ah, Mungkin hanya perasaanku saja. Dengan berat hati, ku berjalan dalam kerumunan orang menuju gateway 3. Namun, entah apa yang menahanku, mendorong diriku untuk berbalik. Andre. Ku berharap itu Andre. Sekonyong ku berlari meninggalkan segala yang ada dihadapanku mencoba mengejar masa yang kucoba hindari. Meraihnya kembali membawanya bersama masa depanku.
Ku terus berlari menerjang arus. Menerobos kerumunan orang. Pesawatku lepas landas. Aku tak peduli. Ku terus mencari sumber suara itu. Berhenti sejenak. Mengedarkan pandangan. Begitu seterusnya. Akhirnya, ku hentikan langkahku. Nafasku tersengal. Dadaku berdetak tak beraturan. Dimana Andre. Tidakkah dia datang. Ya. Ku rasa dia benar-benar tak datang. Kepalaku tertunduk dalam. Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau berandai-andai Andre akan mencintaimu, Lexa. Hatinya telah terbingkai oleh Alena bukan kau, Alexa.
Dengan segala sisa kekuatan ku berbalik entah kemana lagi. Aku sudah tak ingin kembali ke Amrik juga tak ingin berada disini. Aku tak punya tujuan. Tanpa kusadari emosi hebat menyergapku. Badanku lemas. Jantungku berdegup kencang tak beraturan. Darahku mengalir deras. Seseorang memelukku dari belakang. Melingkarkan lengan kokohnya pada tubuhku. Memelukku dalam. Membenamkan wajahnya dalam pundakku.
“Jangan tinggalkan aku. Jangan pernah kau tinggalkan aku. Aku tak tahu bagaimana aku jadinya bila tanpa dirimu.” Suaranya berbisik dalam diamku. Menyerang seluruh urat nadiku. Membuatku lumpuh seketika. Hujan masih berisik di luar sana. Lengannya terus membilitku. Akupun tak kuasa melepaskan diri. Ku hanya mampu menikmatinya. Menikmati kerapuhanku juga dirinya. Akhirnya, kecemasanku terjawab sudah.
*** selesai ***
—
Ku berjalan menyusuri koridor yang penuh dengan remaja seusiaku. Bersenda gurau, menggosipkan cover boy majalah teenage mingguan atau mungkin pemain basket terpopuler seperti di sekolah-sekolah pada umumnya. Entahlah, apa gerangan yang membuat semua omong kosong ini. Sejurus mata mereka terfokus ke arahku. Kurasa murid mutasi itu hal yang biasa. Huuh. Negara macam apa ini memperlakukan orang asing seperti ini.
Ku edarkan pandangan di seantero kelas berukuran 10 X 8 meter. Tak ada satupun bangku yang bisa kududuki kecuali bangku di sudut kelas. Ya, bangku kosong namun tak sepenunya kosong. Ada lelaki duduk seorang diri disitu.
“Can I take this seat?”
Dia menatapku nanar “Jika ada bangku lain yang bisa kau duduki sebaiknya kau tak disini.”
“I think you already know there’s no more seat here.”
Dia menghela nafas dan menggeser tempat duduknya – menggeser hingga tepi meja, sejauh mungkin dariku.
“Hi, I’m Alexa. Wanna tell your name?”
“Itu tak penting bagimu.”
“How come you behave like that?”
“Sudahlah. Tak perlu berlebihan. Tak perlu kau panggil namaku dan tak perlu mencairkan suasana. Selera humormu tak bagus.”
“Oh! OK. Mungkin selera humorku buruk tapi tak lebih buruk dari dirimu yang tak bisa menghargai orang, Bro.” kataku sedikit terbata karena ku belum terbiasa berucap dalam bahasa Indonesia.
“Terserah katamu. Aku tak peduli.” Dia mengendus
“Akupun tak butuh pedulimu.” Ucapku seedikit tersengal
“Dasar gadis gila.” Dengan santai ia meninggalkan kelas – terutama diriku.
“Ka-kamu yang gila!” Teriakku terbata dan seluruh mata di kelas ini kelas ini kembali menghujamku. Uhh. Sungguh menyebalkan. Aku benci diperlakukan seperti ini.
—
Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku dan lelaki yang kutahu namanya Andre, tak pernah sedikitpun akur, meskipun hanya sekedar menyapa satu dan lainnya. Ah, sudahlah tak ada gunanya memikirkan lelaki gila itu.
Ku bergegas secepat kilat meninggalkan halaman sekolah. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengunjungi kakak tercintaku – Alena. Telah beberapa hari ini ku terlalu disibukkan oleh diriku sendiri. Ku kayuh BMX silverku melintasi jalanan Bandung yang mulai senja. Ku tarik nafas panjang dan menikmatinya. Hah, situasi yang melegakan. Setidaknya ini cukup membuatku damai dengan membunuh sepi bersepeda di jalanan yang basah. Ups. Kakiku terperanjat, “shit, what’s going on”. Rantai rodaku terselip dari porosnya. Oh. Damn it. Anyone gunna help me? Ku edarkan pandangan dari tempat dimana aku berdiri. Sungguh omong kosong macam apa ini. Benar-benar tak ada seorangpun disini.
“What a hell such this thing happen!” sungguh sulit membenahi sepeda ini.
“Pyeeekkk.” Percikan air comberan mendarat di sebagian besar baju, sepeda dan rambut emoku.
“Uhh. Fucking boy.” Ku lemparkan batu berukuran kepalan tangan pada lelaki berhelm merah dengan ducati yang dikendarainya. Yeah, tepat sasaran. Seketika ia menghentikan laju mesinnya.
“Heh, gadis bodoh. Apaan sih maksudmu?” Sang lelaki menghampiriku yang tengah geram akan segala yang menimpaku.
“Ku kira aku yang harus mengembalikan pertanyaan itu padamu, Boy.”
“Lihat! hasil lukisanmu di sepeda, baju juga rambutku, sungguh indah bukan?” nadaku mencibirnya. “Menurutmu siapa yang mulai duluan?” sambungku
“Mana aku tahu kalau kau di tepi jalan ini. Lagi pula ini jalan umum dan aku berhak untuk menggunakannya. bukan begitu, Nona?” dengan tingkah yang begitu menyebalkan dicondongkannya kepalanya ke arahku.
“Memang ini jalan umum tapi lihat hasil ulahmu. Dasar lelaki tak bertanggung jawab!”
“Ups. I’m sorry Nona. Itu salahmu. Mana aku tahu kau berhenti disitu lagian itukan bukan tempat pemberhentian. Jadi jangan salahkan aku jika aku mengecat baju dan tubuhmu yang memang memerlukan sedikit polesan.”
“Shut up! Jaga mulutmu!” Ku sungguh kebakaran jenggot, ku ayunkan kepalan tanganku kebagian hidungnya.
Sejurus tangan kanannya pun bertindak. “Oh…! Tak sepantasnya seorang wanita bermain kekerasan.” Entah apa yang kurasa. Sungguh menyebalkan. Angin entah darimana asalnya merasuk ke dalam tubuhku. Dan sepersekian detik otakku tak berfungsi¬ – mati gaya.
Ku mengerjap mencoba membebaskan diriku dari lamunanku. “Itu bukan urusanmu.” Ku coba melepaskan genggamannya. But just like a cold day in the hell, ia terlalu kuat meremas tanganku. Mata tajamnya menghujam mataku, sungguh dalam – teramat dalam. Entah mengapa, ku lihat ada sesuatu disana, sesuatu yang dengan jelas dapat ku tangkap. Mata yang nanar dan sarat akan kerapuhan.
“Eeeergghh” dia memejamkan mata bulatnya mengibaskan kepalanya dan mendorongku. Membuatku terhuyung. Raut wajahnya begitu kelam, sendu dan frustasi. Dia meninggalkanku begitu saja. Meninggalkanku dalam keheningan senja yang berpisah dengan mentari yang hendak bermain dibalik kegelapan – menyisakan perasaan yang aku tak tahu bagaimana untuk menepisnya, karena memang aku tak seharusnya mengharapkan dirinya.
—
Semenjak kejadian sore itu aku hampir gila dibuatnya. Tak habis-habisnya Andre menjadikanku mainan barunya. Disembunyikannya pekerjaan matematikaku hingga aku harus memotong rumput seantero sekolah. Mempermalukanku di hadapan semut-semut sekolah. Hingga mengirim surat cinta pada Joko si kacamata kuda yang membuatnya semakin tergila-gila padaku. Dan kini aku harus bertepuk tangan atas ulahnya. Ya, melubangi rokku seukuran piring makan. sekaligus mengurungku di kelas ini.
“Andre!” suaraku memekik mengalahkan teriakan bel sekolah. Wajahku merah padam dadaku sesak menahan amarahku padanya.
Aku sudah muak dengan semua ini. Berapa lama lagi aku harus terperangkap di ruang kelas ini.
Ku berjalan secepat mungkin menuju tempat parkir dengan kedua tanganku memegangi bagian belakang rokku, mencoba menutupi lubang karena ulah Andre. Tak mungkin aku bisa membalasnya untuk saat ini. Biarlah lelaki brengsek itu melayang di udara karena kemenangannya. Huh.
“Damn. What a hell it is!” Sepedaku tergantung di pohon mahoni besar.
“ANDREE…!” ku berteriak semampu pita suaraku. Mataku nanar, buih air mata tak lagi dapat ku tahan. Ku berjalan gontai kembali ke bagunan sekolah. Berharap segera ku temukan Andre dan ku tonjok habis hidungnya.
Sejurus aku membeku. Langkahku terhenti dikala lantunan melodi indah dari ruang kesenian menyentuh cuping telingaku. Ku buka pintu perlahan – menjelajahi seisi ruang itu dengan pandanganku. Ya, Seorang pemuda rapuh bermain sendiri disana, Ku mendekat. Lebih dekat kutangkap dia bermain lebih dalam. Sendiri. Oh, tidak! dia tak sendiri. Kurasa ada sesuatu dari dalam dirinya yang menemaninya selama permainan itu.
Ku rasa inilah saat yang tepat. Ya, inilah saatnya. “Simfoni Aurora.” Kata itu begitu saja keluar dari mulutku yang membangun lamunan panjang lelaki rapuh itu. Dihentakkan tuts-tuts piano yang tak mengerti apapun, melodi indah seketika menjelma menjadi desahan tak beraturan dan hilang ditelan keheningan.
“Darimana kau tahu lagu itu?” Dia membentakku. Dan ku hanya terdiam.
“Jawab.” Bentaknya lagi. Emosinya semakin tak terkontrol.
Ku tetap membisu. “jawab atau ku pukul kau.” Secepat kilat tangannya hendak mendarat di pipiku. Dan terhenti oleh pejaman mataku.
Ku membuka mata perlahan. “Pukul saja, kalau itu membuatmu lega.”
Kini Andre terdiam. Ya, Andrelah lelaki selalu menghabiskan sorenya di tempat ini. Sejurus, dia membeku dan bersimpuh di sampingku. Kepalanya tertunduk, wajahnya sarat akan kepiluan yang begitu dalam.
“Kau tahu Alexa, walau ku pukul kau seratus kalipun tak kan sebanding dengan pukulan yang bertubi-tubi kau berikan padaku selama ini.” Kini air matnya meleleh dan ku tetap terdiam. Mematung. Bagai dibekukan kutub yang dingin.
“Semenjak kehadiranmu, setiap kali ku melihatmu kau selalu memukul hatiku, memukul jiwaku, membuatku sesak, membuatku tersiksa.”
Ia memukul-mukul kepalanya. Air meleleh dari mata bulat itu. Kali ini ku lihat wajah itu sayu dan penuh keputus-asaan. Seperti wajahnya di kala senja itu.
“Mungkin itu tak adil bagimu. Mengapa aku membencimu, kasar terhadapmu dan sering kali menyakitimu.” Kata-katanya terhenti oleh nafas panjang yang dihelanya.
“Kenapa?” tanyaku
“Karena aku ingin kau enyah dari sekolah ini.” Jawabnya lemas
“Tapi kenapa?” pertanyaanku terulang kembali
“Sudahlah, jangan banyak bertanya.”
“Tidak. Aku ingin tahu apa alasannya. Jawab! Ayo jawab!” Ku goncang tubuhnya bagai anak kecil merengek pada ayahnya.
Andre tetap terbungkam. Goncanganku semakin hebat. Dia mengehela nafas panjang.
“ITU KARENA KAU MIRIP DENGAN ORANG YANG SELAMA INI MENYAKITIKU SEKALIGUS MENGHANCURKANKU.” Ia berteriak tepat di depan wajahku.
Ku membisu. Tak pernah tepikirkan hal ini akan berantakan seperti ini.
“Kau tahu, Ndre. Ku kira ini semua adil bagiku. Orang yang kau sebut-sebut telah menghancurkanmu dan menyakitimu adalah saudara kembar orang yang duduk tepat di sampingmu.”
Sekonyong-konyong dia menatapku, kembali dengan tatapan nanar dan tak percaya.
“Ya. Alena adalah saudara kembarku. Kami berpisah 4 tahum silam, satu tahun sebelum ia bertemu denganmu. Aku dan orang tuaku pindah ke Amrik lantaran ayahku mutasi dinas di salah satu perusahaan penerbangan disana. Dan Alena tetap tinggal di Indonesia bersama tanteku.”
“Apakah selama ini kau hancur karena Alena?” tanyaku
“Entahlah, bagaimana aku menyebut perasaanku selama ini. Aku merasa bodoh, berantakan dan entahlah aku tak tahu bagaimana aku harus mengobatinya.”
“Alena meninggalkanmu karena jatuh cinta dengan lelaki Amrik. Dia ingin menikah dengannya, sebatas omong kosong itu yang kau tahu, bukan?”
Aku tak kuasa menyimpan rahasia Alena. Tapi setidakya Andre akan tahu yang sebenarnya tentang Alena.
Wajah kelam itu kini memandangku dengan pandangan penuh tanya.
“Ya, selama ini Alena membohongimu. Karena dia begitu mencintaimu dan dia tahu bahwa dia akan meninggalkanmu untuk selamanya.”
Wajah Andre semakin tak mengerti.
“Alena mederita siropsis.” Ku tertunduk dalam.
“Apa? Alena menderita ssi-rop-sis.” Ulang Andre mamastikan. Dan, aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Saat dia bersamamu dia sadar bahwa ini hanya akan menyakiti dirinya juga dirimu. Maka dari itu dia memutuskan untuk menyudahi hubungan kalian. Ya, megatakan hal bodoh seperti itulah cara yang paling baik menurutnya”
“Lalu dimana dia sekarang?”
“Dia berada di tempat yang indah bersama Tuhan, Andre.” Andre terbelalak tak percaya dengan alis yang nyaris menyatu satu sama lain. Sekonyong-konyong dia menatapku tajam. Tangannya mengepal seperti pertama ku melihatnya.
“Kau tahu, Andre. Dikala sakitnya dia lebih senang berteman dengan biolanya memainkan melodi yang sama dengan melodi yang baru kau mainkan. Ya, melodi yang sama dengan penghayatannya yang seperti dirimu. Namun, aku tak sedikitpun mengerti akan Alena saat itu, hingga suatu ketika dia menceritakan semua ini kepadaku, tentang kenangan kalian memainkan lagu yang kalian gubah sendiri. Ya, di ruang ini dengan latar aurora dari biasan proyektor karena memang Alena ingin sekali melihat aurora – dan sebatas itu kau mampu mengabulkannya. Namun, bagi Alena semua yang kau berikan jauh lebih indah daripada dia dia melihat langsung aurora, seperti yang biasa kami lakukan waktu itu.”
Andre masih terdiam – tertegun tanpa tahu harus berkata apa.
“Alena tak pernah sedikitpun melupakanmu, Andre. Meskipun disaat-saat terakirnya. Dia memintaku untuk pindah ke Indonesia dan mengatakan permohonan maafnya padamu.”
Andre masih tertunduk, ku beranikan diriku untuk menyentuh bahunya mencoba membesarkan hatinya. Disandarkan kepalanya di bahuku, air matanya masih terjatuh. Sejurus, darahku berdesir. Entah mengapa aku merasakan suatu yang berbeda saat ini, sesuatu yang nyaman tapi mustahil bagiku untuk merasakannya.
“Hemmm.” Ku tarik nafas panjang. “Ku rasa tanggung jawabku sudah usai, aku sudah memenuhi permintaan Alena dan ini saatnya aku kembali ke Amerika.”
“Apa? Kau akan kembali ke Amerika, setelah semua yang kau lakukan padaku?”
“Aku?. Apa yang telah ku lakukan padamu?”
Ia menghentikan kata-katanya. “Sudah, lupakan saja”
Beberapa menit kami hanyut dalam diam – dalam lamunan kami sendiri.
Aku harus melakukan ini, Andre. Aku mencintaimu dan aku tak bisa terus-terusan mencintaimu. Ini tak seharusnya ku rasakan, kau bukan untukku. Kau milik Alena. Hanya milik Alena.
—
Matahari siang ini tak terlalu memamerkan tahta kuasanya. Tampaknya ia terlalu lelah berurusan dengan panas selama ini. Suasana waiting longue bandara cukup ramai walau cuaca tak dibilang cerah hari ini. Langit kini menangis – butiran-butiran air jatuh pada tempo nyaris bersamaan. Aku menunggu di kursi biru tua lobi bandara sambil menikmati pesawat yang hendak take off di tengah guyuran hujan terbingkai jendela kaca yang sedikit berembun. Entah apa yang kurasakan. Batinku berdebat, satu sisi aku berat beranjak dari sini – apa karena Andre. Sort of. Sisi yang lain aku tak mungkin menghianati Alena, kakaku sendiri – dan aku memang harus pergi. Come on, Alexa. Let it go and flow.
Aku masih mematung di baggage claim. Uh, kenapa aku masih menantinya. Ayolah, Lexa. It’s over. Lupakan dia. Ya. Aku harus melupakannya dan inilah satu-satunya jalan. “Alexa.” Ku dengar seseorang memanggilku. Ku arahkan pandanganku ke segala penjuru. Nihil. Ah, Mungkin hanya perasaanku saja. Dengan berat hati, ku berjalan dalam kerumunan orang menuju gateway 3. Namun, entah apa yang menahanku, mendorong diriku untuk berbalik. Andre. Ku berharap itu Andre. Sekonyong ku berlari meninggalkan segala yang ada dihadapanku mencoba mengejar masa yang kucoba hindari. Meraihnya kembali membawanya bersama masa depanku.
Ku terus berlari menerjang arus. Menerobos kerumunan orang. Pesawatku lepas landas. Aku tak peduli. Ku terus mencari sumber suara itu. Berhenti sejenak. Mengedarkan pandangan. Begitu seterusnya. Akhirnya, ku hentikan langkahku. Nafasku tersengal. Dadaku berdetak tak beraturan. Dimana Andre. Tidakkah dia datang. Ya. Ku rasa dia benar-benar tak datang. Kepalaku tertunduk dalam. Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau berandai-andai Andre akan mencintaimu, Lexa. Hatinya telah terbingkai oleh Alena bukan kau, Alexa.
Dengan segala sisa kekuatan ku berbalik entah kemana lagi. Aku sudah tak ingin kembali ke Amrik juga tak ingin berada disini. Aku tak punya tujuan. Tanpa kusadari emosi hebat menyergapku. Badanku lemas. Jantungku berdegup kencang tak beraturan. Darahku mengalir deras. Seseorang memelukku dari belakang. Melingkarkan lengan kokohnya pada tubuhku. Memelukku dalam. Membenamkan wajahnya dalam pundakku.
“Jangan tinggalkan aku. Jangan pernah kau tinggalkan aku. Aku tak tahu bagaimana aku jadinya bila tanpa dirimu.” Suaranya berbisik dalam diamku. Menyerang seluruh urat nadiku. Membuatku lumpuh seketika. Hujan masih berisik di luar sana. Lengannya terus membilitku. Akupun tak kuasa melepaskan diri. Ku hanya mampu menikmatinya. Menikmati kerapuhanku juga dirinya. Akhirnya, kecemasanku terjawab sudah.
*** selesai ***
Kamu yang selalu buat hatiku nggak tenang dan pikiranku jadi nggak menentu. Kamu dengan berjuta hal yang selalu buat aku kangen.
Kamu dan aku, ya kita. Terlalu banyak yang berbeda di antara kita. Kamu dengan keegoisanmu, sedang aku yang sering kamu bilang manja dan kekanak–kanakan. Terlalu banyak kata yang gambarin betapa berbedanya kita.
Aku dan kamu berbeda. Bahkan untuk hal selera musik aja, kita nggak pernah cocok. Aku, yang kamu bilang punya selera musik payah, seluruh lagu kesukaanku itu pasaran, selalu ada di playlist semua orang. Itu katamu. Sedang kamu, nggak ada satupun lagu kesukaanmu yang cocok di telingaku, mungkin ada beberapa yang mau nggak mau jadi lagu favoritku juga. Tapi tetap aja, aku nggak ngerti dengan selera musikmu.
Aku sering menangis karena kamu, tapi kamu malah bilang aku cengeng. Kamu selalu buat aku kesal dan kemudian pura–pura nggak tahu dengan kelakuanmu. Kamu selalu bilang benci melihat aku menangis, padahal yang aku pengen kamu memelukku dan bilang semuanya bakal baik–baik aja. Itu sudah cukup. Tapi nyatanya kamu selalu pergi tiap kali buat aku menangis.
Aku masih ingat, pernah kamu nggak mau ketemu aku. Alasanmu sederhana aja, kamu lagi pengen ada waktu buatmu sendiri, tanpa ada aku. Rasanya sakit, seperti kamu nggak butuh aku lagi. Tapi aku berusaha ngerti. Karena kamu selalu bilang, kamu nggak butuh pacar yang baik, yang kamu butuhin pacar yang ngertiin kamu. Ya, aku bakal belajar buat ngertiin kamu.
Pernah juga selama seminggu kamu nggak mau balas smsku, nggak mau angkat teleponku. Kamu hilang, nggak ada kabar sedikitpun. Aku cuma bisa nangis karena terlalu khawatir. Tiba–tiba kamu datang dengan alasanmu yang selalu sederhana, lagi banyak kerjaan, gitu aja.
Kamu memang egois. Banget. Tapi kamu selalu menyangkalnya. Kamu bilang harus seperti itulah laki–laki. Ya, aku yakin kamulah laki–laki yang bisa ngelindungin aku.
Banyak hal yang berubah denganku. Itu karena kamu. Dulu aku aku orang yang emosian, nggak sabar, dan nggak suka disalahin. Tapi, kamu lihat sejak bersama kamu aku mulai berubah. Aku belajar menahan emosiku, aku belajar sabar ngadapin kamu. Walau kadang–kadang aku masih selalu saja nggak mau disalahin atas kesalahanku.
Kadang sering aku ngerasa ragu sama kamu, entah kenapa. Aku ragu apakah perasaanmu sama sepertiku. Sikapmu yang selalu buat aku bingung. Kadang kamu nunjukin betapa nggak butuhnya kamu sama aku, kamu selalu sibuk dengan duniamu. Padahal aku cuma minta sedikit dari waktumu. Atau mungkin aku yang masih kurang mengerti kamu.
Ada juga saat rasanya aku pengen pergi saja dari kamu, ninggalin semuanya tentang kamu. Apalagi saat sedih dan sakit hati itu sudah nggak bisa aku tahan, dan di saat itu kamu nggak perduli denganku. Tapi ada satu hal yang buat aku bertahan. Ya, kamulah yang buat aku bertahan. Rasa sayangku ngalahin keegoisanku buat ninggalin kamu.
Apalagi kata–katamu yang selalu bisa menguatkanku. Kamu selalu bilang, jangan pernah berhenti buat sayang sama seseorang, meskipun kelihatannya orang itu nggak sayang. Pasti ada balasannya, mungkin nggak secara langsung tapi bersabarlah.
Kamu nggak suka kalau aku berbohong. Aku masih ingat, kamu marah saat ada satu hal yang aku sembunyikan dari kamu. Ya, aku berbohong. Karena kurasa kebohonganku ada alasannya. Tapi, kamu nggak terima. Aku masih ingat raut mukamu yang menahan amarah, kamu diam walaupun sudah berkali–kali aku minta maaf. Dan saat itulah aku menyesal, aku takut kamu ninggalin aku.
Kamu bukan orang yang romantis, bukan orang yang penuh dengan kejutan. Ya begitulah kamu. Kamu bukan orang yang dengan mudahnya ngucapin kata–kata romantis, juga bukan orang yang biasa ngelakuin hal–hal manis. Nggak pernah ada kejutan di hari ulang tahunku, bahkan tanggal jadian kita aja kamu lupa. Buatku, asal aku masih berarti buat kamu aja, itu sudah cukup.
Oiya, ada satu hal romantis yang pernah kamu lakuin. Mungkin menurutmu biasa aja, tapi buatku itu lebih dari cukup. Hari itu kamu nggak ada kabar lagi, seperti biasa nggak mau angkat telepon dan balas smsku. Malamnya aku sudah nyerah buat ngehubungin kamu, mungkin besok pikirku. Tepat tengah malam kamu datang, masih dengan pakaian kerja yang melekat di tubuhmu. Rasanya ingin kupeluk tubuhmu lebih lama.
Pernah satu kali, pagi–pagi sekali kamu ngehubungin aku, masih subuh kurasa. Kamu mimpiin aku, itu awal ceritamu. Kamu mimpi aku ninggalin kamu dan pergi dengan lelaki lain yang juga temanmu. Hampir aja aku tertawa kalau nggak dengar kelanjutan ceritamu. Kamu akhirnya memilih menikah dengan teman kecilmu yang dulu adalah cinta pertamamu. Cerita mimpimu rasanya terlalu menyakitkan buatku. Entahlah, aku cuma takut bakal jadi kenyataan.
Kamu sering tanya alasanku kenapa bisa sayang sama kamu dan aku sering bingung dengan jawabannya. Buatku sayang dan cinta sama seseorang itu nggak ada alasannya. Kalau ada alasan, berarti cinta itu nggak tulus. Aku sayang sama kamu, karena aku memang sayang sama kamu. Itu aja.
Banyak hal yang aku suka dari kamu. Aku suka dengan senyummu, aku suka dengan tatapan matamu, dengan pelukanmu, dengan genggaman tanganmu, dengan elusan tanganmu di rambutku, bahkan dengan kulit coklatmu yang membuat kita terlihat berbeda. Tahukah kamu, betapa inginnya aku memiliki kamu. Betapa inginnya aku menghabiskan seluruh hidupku bersama kamu.
—
Pagi ini masih sedikit berembun. Suasananya nggak sejalan dengan hatiku. Ini sudah bulan ketiga aku berjuang buat ngelupain kamu, tapi cuma sakit yang terus kurasa. Aku nggak bisa terus–terusan kaya’ gini. Tiap hari bayangmu selalu hinggap di kepalaku, membuat aku ingin amnesia rasanya.
Aku dan kamu, ya kita. Kita dan ribuan kenangan yang nggak bisa begitu aja kuhapus. Mungkin kamu yang sudah lupa denganku, kamu dan dunia barumu yang tentu aja nggak ada ruang buatku lagi.
Pagi itu, kamu tiba–tiba datang. Wajahmu kusut, aku kira kamu kecapean karena kerjaanmu. Kamu menggenggam tanganku. Tanganmu dingin, nggak sehangat biasanya. Aku masih sempat mengelus rambutmu sebelum akhirnya kamu ngucapin kata–kata itu.
Kamu bilang akan menikah dengan perempuan yang menjadi pilihan keluargamu. Aku berontak, terus bagaimana dengan kita? Bagaimana denganku?
Lupain aku, itu kata–kata terakhirmu sebelum akhirnya kamu beranjak pergi. Anehnya aku nggak menangis. Asal kamu tahu aja, sakitnya sudah nggak bisa digambarin dengan tangis lagi. Terlalu sakit rasanya.
I won’t talk
I won’t breathe
I won’t move till you finally see
That you belong with me
Aku memainkan sendok di cangkir yang berisi susu coklat hangat. Minuman kesukaan kita. Mungkin cuma buat hal ini kita bisa cocok. Kamu nggak pernah protes kalau minuman ini yang aku sajikan tiap kita ketemu.
Seperti inilah aku sekarang. Hanya buat sekedar melupakan kamu, aku tinggal di kota ini. Biarpun tanah yang kita injak sudah berbeda, tapi langit yang menaungi kita tetap sama, disana pulalah tiap hari sosokmu terus yang aku lihat.
Aku mencintaimu lebih dari apapun, lebih dari yang kamu tahu, bahkan sampai sakitnya aku nggak perduli lagi. Aku nggak pengen apa-apa, aku juga nggak berani bilang aku pengen memiliki kamu. Aku nggak berhak lagi. Aku cinta kamu, itu aja.
You might think I don’t look
But deep inside
In the corner of my mine
I’m attached to you
I’m weak
It’s true
Cause I’m afraid to know the answer
Do you want me too?
Cause my heart keeps falling faster
(Ryan Cabrera – True)
END
Kamu dan aku, ya kita. Terlalu banyak yang berbeda di antara kita. Kamu dengan keegoisanmu, sedang aku yang sering kamu bilang manja dan kekanak–kanakan. Terlalu banyak kata yang gambarin betapa berbedanya kita.
Aku dan kamu berbeda. Bahkan untuk hal selera musik aja, kita nggak pernah cocok. Aku, yang kamu bilang punya selera musik payah, seluruh lagu kesukaanku itu pasaran, selalu ada di playlist semua orang. Itu katamu. Sedang kamu, nggak ada satupun lagu kesukaanmu yang cocok di telingaku, mungkin ada beberapa yang mau nggak mau jadi lagu favoritku juga. Tapi tetap aja, aku nggak ngerti dengan selera musikmu.
Aku sering menangis karena kamu, tapi kamu malah bilang aku cengeng. Kamu selalu buat aku kesal dan kemudian pura–pura nggak tahu dengan kelakuanmu. Kamu selalu bilang benci melihat aku menangis, padahal yang aku pengen kamu memelukku dan bilang semuanya bakal baik–baik aja. Itu sudah cukup. Tapi nyatanya kamu selalu pergi tiap kali buat aku menangis.
Aku masih ingat, pernah kamu nggak mau ketemu aku. Alasanmu sederhana aja, kamu lagi pengen ada waktu buatmu sendiri, tanpa ada aku. Rasanya sakit, seperti kamu nggak butuh aku lagi. Tapi aku berusaha ngerti. Karena kamu selalu bilang, kamu nggak butuh pacar yang baik, yang kamu butuhin pacar yang ngertiin kamu. Ya, aku bakal belajar buat ngertiin kamu.
Pernah juga selama seminggu kamu nggak mau balas smsku, nggak mau angkat teleponku. Kamu hilang, nggak ada kabar sedikitpun. Aku cuma bisa nangis karena terlalu khawatir. Tiba–tiba kamu datang dengan alasanmu yang selalu sederhana, lagi banyak kerjaan, gitu aja.
Kamu memang egois. Banget. Tapi kamu selalu menyangkalnya. Kamu bilang harus seperti itulah laki–laki. Ya, aku yakin kamulah laki–laki yang bisa ngelindungin aku.
Banyak hal yang berubah denganku. Itu karena kamu. Dulu aku aku orang yang emosian, nggak sabar, dan nggak suka disalahin. Tapi, kamu lihat sejak bersama kamu aku mulai berubah. Aku belajar menahan emosiku, aku belajar sabar ngadapin kamu. Walau kadang–kadang aku masih selalu saja nggak mau disalahin atas kesalahanku.
Kadang sering aku ngerasa ragu sama kamu, entah kenapa. Aku ragu apakah perasaanmu sama sepertiku. Sikapmu yang selalu buat aku bingung. Kadang kamu nunjukin betapa nggak butuhnya kamu sama aku, kamu selalu sibuk dengan duniamu. Padahal aku cuma minta sedikit dari waktumu. Atau mungkin aku yang masih kurang mengerti kamu.
Ada juga saat rasanya aku pengen pergi saja dari kamu, ninggalin semuanya tentang kamu. Apalagi saat sedih dan sakit hati itu sudah nggak bisa aku tahan, dan di saat itu kamu nggak perduli denganku. Tapi ada satu hal yang buat aku bertahan. Ya, kamulah yang buat aku bertahan. Rasa sayangku ngalahin keegoisanku buat ninggalin kamu.
Apalagi kata–katamu yang selalu bisa menguatkanku. Kamu selalu bilang, jangan pernah berhenti buat sayang sama seseorang, meskipun kelihatannya orang itu nggak sayang. Pasti ada balasannya, mungkin nggak secara langsung tapi bersabarlah.
Kamu nggak suka kalau aku berbohong. Aku masih ingat, kamu marah saat ada satu hal yang aku sembunyikan dari kamu. Ya, aku berbohong. Karena kurasa kebohonganku ada alasannya. Tapi, kamu nggak terima. Aku masih ingat raut mukamu yang menahan amarah, kamu diam walaupun sudah berkali–kali aku minta maaf. Dan saat itulah aku menyesal, aku takut kamu ninggalin aku.
Kamu bukan orang yang romantis, bukan orang yang penuh dengan kejutan. Ya begitulah kamu. Kamu bukan orang yang dengan mudahnya ngucapin kata–kata romantis, juga bukan orang yang biasa ngelakuin hal–hal manis. Nggak pernah ada kejutan di hari ulang tahunku, bahkan tanggal jadian kita aja kamu lupa. Buatku, asal aku masih berarti buat kamu aja, itu sudah cukup.
Oiya, ada satu hal romantis yang pernah kamu lakuin. Mungkin menurutmu biasa aja, tapi buatku itu lebih dari cukup. Hari itu kamu nggak ada kabar lagi, seperti biasa nggak mau angkat telepon dan balas smsku. Malamnya aku sudah nyerah buat ngehubungin kamu, mungkin besok pikirku. Tepat tengah malam kamu datang, masih dengan pakaian kerja yang melekat di tubuhmu. Rasanya ingin kupeluk tubuhmu lebih lama.
Pernah satu kali, pagi–pagi sekali kamu ngehubungin aku, masih subuh kurasa. Kamu mimpiin aku, itu awal ceritamu. Kamu mimpi aku ninggalin kamu dan pergi dengan lelaki lain yang juga temanmu. Hampir aja aku tertawa kalau nggak dengar kelanjutan ceritamu. Kamu akhirnya memilih menikah dengan teman kecilmu yang dulu adalah cinta pertamamu. Cerita mimpimu rasanya terlalu menyakitkan buatku. Entahlah, aku cuma takut bakal jadi kenyataan.
Kamu sering tanya alasanku kenapa bisa sayang sama kamu dan aku sering bingung dengan jawabannya. Buatku sayang dan cinta sama seseorang itu nggak ada alasannya. Kalau ada alasan, berarti cinta itu nggak tulus. Aku sayang sama kamu, karena aku memang sayang sama kamu. Itu aja.
Banyak hal yang aku suka dari kamu. Aku suka dengan senyummu, aku suka dengan tatapan matamu, dengan pelukanmu, dengan genggaman tanganmu, dengan elusan tanganmu di rambutku, bahkan dengan kulit coklatmu yang membuat kita terlihat berbeda. Tahukah kamu, betapa inginnya aku memiliki kamu. Betapa inginnya aku menghabiskan seluruh hidupku bersama kamu.
—
Pagi ini masih sedikit berembun. Suasananya nggak sejalan dengan hatiku. Ini sudah bulan ketiga aku berjuang buat ngelupain kamu, tapi cuma sakit yang terus kurasa. Aku nggak bisa terus–terusan kaya’ gini. Tiap hari bayangmu selalu hinggap di kepalaku, membuat aku ingin amnesia rasanya.
Aku dan kamu, ya kita. Kita dan ribuan kenangan yang nggak bisa begitu aja kuhapus. Mungkin kamu yang sudah lupa denganku, kamu dan dunia barumu yang tentu aja nggak ada ruang buatku lagi.
Pagi itu, kamu tiba–tiba datang. Wajahmu kusut, aku kira kamu kecapean karena kerjaanmu. Kamu menggenggam tanganku. Tanganmu dingin, nggak sehangat biasanya. Aku masih sempat mengelus rambutmu sebelum akhirnya kamu ngucapin kata–kata itu.
Kamu bilang akan menikah dengan perempuan yang menjadi pilihan keluargamu. Aku berontak, terus bagaimana dengan kita? Bagaimana denganku?
Lupain aku, itu kata–kata terakhirmu sebelum akhirnya kamu beranjak pergi. Anehnya aku nggak menangis. Asal kamu tahu aja, sakitnya sudah nggak bisa digambarin dengan tangis lagi. Terlalu sakit rasanya.
I won’t talk
I won’t breathe
I won’t move till you finally see
That you belong with me
Aku memainkan sendok di cangkir yang berisi susu coklat hangat. Minuman kesukaan kita. Mungkin cuma buat hal ini kita bisa cocok. Kamu nggak pernah protes kalau minuman ini yang aku sajikan tiap kita ketemu.
Seperti inilah aku sekarang. Hanya buat sekedar melupakan kamu, aku tinggal di kota ini. Biarpun tanah yang kita injak sudah berbeda, tapi langit yang menaungi kita tetap sama, disana pulalah tiap hari sosokmu terus yang aku lihat.
Aku mencintaimu lebih dari apapun, lebih dari yang kamu tahu, bahkan sampai sakitnya aku nggak perduli lagi. Aku nggak pengen apa-apa, aku juga nggak berani bilang aku pengen memiliki kamu. Aku nggak berhak lagi. Aku cinta kamu, itu aja.
You might think I don’t look
But deep inside
In the corner of my mine
I’m attached to you
I’m weak
It’s true
Cause I’m afraid to know the answer
Do you want me too?
Cause my heart keeps falling faster
(Ryan Cabrera – True)
END
Secarik Kertas Putih
5 tahun meninggalkan Indonesia, Randy kembali lagi bersama dengan berita sedih. Kekasihnya Winda berada di rumah sakit terbaring lemah di dinginnya kasur beroda itu. Randy ditemani robby, dengan berat hati menyiapkan buket bunga untuk winda. Mobil robby melaju kencang menuju rumah sakit. Suasana tegang terasa ketika Randy hanya diam.
“dy, gimana kabar lo? Betah di Australia?” robby mengkerutkan kening
“Ya gue betah aja bi, tapi kabar ini buat gue gak enak sama winda”
“maksud lo?”
“gue udah ngelewatin 4 tahun anniversary gue sama dia selama 4 tahun”
“tenang aja dy, winda pasti ngerti..”
Sesampainya di rumah sakit, Robby langsung mengantarnya ke ruangan dimana Winda dirawat. Randy terdiam di depan pintu, dilihatnya nama Winda di papan pasien. Ia memasuki ruangan itu, kembali Randy terdiam. Randy terpaku menatap Winda yang terbaring lemah menutup rapat matanya dengan selang infus di sampingnya. Robby pun turut hening ketika melihat Randy…
“rob! Liat, dia menderita” Randy menengok ke arah robby yang ada di belakangnya
“hem?” terheran “gue kasih lo waktu dy”
robby pun pergi dengan langkah cepat meninggalkan Randy.
Randy tak henti-hentinya menatap Winda, ditariknya kursi untuk menemani winda. Randy memegang tangan winda lembut, ia tidak mampu mengucapkan kata-kata seraya rasa kecewanya itu terus menghujani perasaannya bertubi-tubi. win.. sorry, batinnya. “bangun win! Aku sayang kamu, maafin aku..” suara Randy bergetar. Tampak Robby mengintip di balik pintu, robby menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian mucul seorang perempuan cantik yang tidak asing lagi baginya, Fanissa.
“ngapain lo disini rob?” menyipitkan matanya
“tuh” Robby memperlihatkan pemandangan Randy yang berada di dalam
“apa-apaan sih dia, bukannya…”
“ssst.. biarin aja”
Fanissa menatap robby kesal dan langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan.
“Randy, udahlah” Fanissa memegang lembut pundak Randy.
“lo liat nis, dia menderita, tapi gue gak ada buat dia” Randy tertunduk dalam dan tampak kecewa akan dirinya sendiri.
Fanissa menghembuskan nafasnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Fanissa tampak tegang, setelah itu robby datang membawa buket bunga. Robby masuk ke ruangan itu, robby memperhatikan Randy seksama. Fanissa membalikkan badannya, robby menghampirinya. Ia membisikan sesuatu pada fanissa. Fanissa mengangguk tanda meng-iyakan dan mengerti apa yang dimaksud robby.
“Randy, lo mau kita temenin?”
“ga perlu bi, thanks a lot” Randy tersenyum.
Tanpa basa-basi Fanissa dan robby meninggalkan Randy sendirian. Ia masih setia menunggu, harapan besar ia simpan dalam hatinya baik-baik mengharapkan Winda bisa merasakan kehadirannya sekarang. Randy memandang jauh ke arah jendela rumah sakit yang tertutup rapat..
“randy..” terbata
Winda merespon keadaan Randy, Windapun meneteskan air matanya. Tetesan air mata itu perlahan mengalir, sunyi. Winda membuka matanya perlahan namun, mata cantik itu kembali melemah dan terpejam kembali rapat-rapat. Winda maafin aku, ini hari anniversary kita kan? Batin Randy, tersenyum pahit.
3 hari berlalu, tampak Randy kelelahan. Ia hanya makan makanan yang dibawakan robby. Robby dan fanissa pun mulai khawatir.
—
“dy” winda tersenyum
“Winda?” Randy tersenyum menggenggam halus jemari Winda.
“relain aku ya…” tersenyum ragu
Wajah pucat Winda tampak menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.
“maksud kamu apa?”
“kamu pasti ngerti kok, aku sayang kamu..”
“aku gangerti win”
“kamu pasti ngerti, kamu lupa ya? Ini hari jadi kita.. aku nunggu 4 tahun buat rayain sama kamu. Sayang banget tahun ke-5 ini kita rayain di rumah sakit” tersenyum.
“aku? Lupa?” Randy tampak kebingungan
“hem… kamu pasti tau kok dan ngerti.. aku titip pesan ke kamu, cari baik-baik”
Tak sempat Randy menjawab, Winda pun memejamkan matanya perlahan. Randy merasa kecewa terus menerus..
Keesokan paginya Randy terbangun, ranjang itu sudah kosong. Pot bunga tertata rapi, jendela kamar itu terbuka, tercium aroma khas rumah sakit. Randy mencari-cari pandangan yang ia saksikan 3 hari lalu. Randy semakin kebingungan dan panik. Tanpa basa-basi Randy menelfon robby.
“Bi! Gue butuh elo! Cepet kesini!”
“iya”
15 menit Randy menunggu, datanglah robby..
“bi! Winda dimana?!”
“Lo baru sadar?”
“maksud lo apaan? Apa maksud lo bi?!”
Robby tak mengucapkan sepatah katapun, robby keluar dari kamar itu dan tanpa diduga fanissa datang. Fanissa datang dengan sikap tenang dan tampak menyembunyikan sesuatu. “dy” fanissa tersenyum. “nis lo tau winda dimana?” Randy tampak panik.
“udahlah dy… kamu harus bisa relain dia”
“apa maksud lo sih, maksud kalian berdua?!” amarah Randy mulai tersulut.
“udahlah dy, udah..” robby menyentuh bahu randy.
“apa-apaan lo? Mana winda?!” Randy melepaskan tangan robby dan menggertak.
“dy!! Winda udah gak ada, udah 1 bulan yang lalu dia ninggalin kita semua, Winda udah pergi..” fanissa menarik tangan Randy. “lo belum rela” fanissa menatap tajam Randy.
“engga! Engga mungkin, nis! Gue sama dia 3 hari ini”.
Robby dan Fanissa saling bertatap. Robby tampak lemas, ia menarik nafas dalam-dalam.
“sebenarnya waktu di mobil, gue itu pengen banget ngomong hal ini sama lo. Tapi gue liat lo terpukul banget sama kabar sakitnya Winda dan gue ga mau bikin lo makin sedih. Waktu sampai disini pun gue heran sama lo, disini udah ga ada siapa-siapa. Tapi lo bilang ke gue kalau dia menderita. Padahal di situ engga ada apa-apa.” Robby mencoba bersikap tenang.
“dan waktu gue datang, gue liat lo diem di sebelah kasur kosong itu. Gue nanya sama robby, gue khawatir sama lo dan langsung ngehibur elo. Gue dikasih tau robby buat pura-pura Winda masih ada disini, gue minta maaf ngelakuin ini sama lo.” fanissa menatap Randy dalam.
Randy pun terdiam, seluruh tubuhnya bergetar. Ia melihat sekelilingnya, kamar itu memang tampak sangat kosong, bersih dan tak ada tanda-tanda orang baru menempatinya. “gue sengaja ngajak lo kesini, karena suster bilang kamar ini dipakai sebulan seminggu buat ngenang almarhum” robby menimbrung. Tampak sepotong kertas putih di bawah bantal, Randy membuka bantal itu. Di balik bantai itu terlihat secarik kertas putih bersih yang masih tersimpan rapih dan tampak diabaikan…
“Seandainya kamu ada disini dy, kuharap kamu mengerti.. ku harap kamu bisa kembali. Aku sayang kamu selalu, mungkin kamu bertemu aku. Tapi mungkin tempatnya tidak disini, di tempat yang lebih indah lagi.. maafku meninggalkanmu.. atau kau terlalu sibuk dengan urusanmu itu… aku tetap menyayangimu, sampai akhir waktu..”
“dy, gimana kabar lo? Betah di Australia?” robby mengkerutkan kening
“Ya gue betah aja bi, tapi kabar ini buat gue gak enak sama winda”
“maksud lo?”
“gue udah ngelewatin 4 tahun anniversary gue sama dia selama 4 tahun”
“tenang aja dy, winda pasti ngerti..”
Sesampainya di rumah sakit, Robby langsung mengantarnya ke ruangan dimana Winda dirawat. Randy terdiam di depan pintu, dilihatnya nama Winda di papan pasien. Ia memasuki ruangan itu, kembali Randy terdiam. Randy terpaku menatap Winda yang terbaring lemah menutup rapat matanya dengan selang infus di sampingnya. Robby pun turut hening ketika melihat Randy…
“rob! Liat, dia menderita” Randy menengok ke arah robby yang ada di belakangnya
“hem?” terheran “gue kasih lo waktu dy”
robby pun pergi dengan langkah cepat meninggalkan Randy.
Randy tak henti-hentinya menatap Winda, ditariknya kursi untuk menemani winda. Randy memegang tangan winda lembut, ia tidak mampu mengucapkan kata-kata seraya rasa kecewanya itu terus menghujani perasaannya bertubi-tubi. win.. sorry, batinnya. “bangun win! Aku sayang kamu, maafin aku..” suara Randy bergetar. Tampak Robby mengintip di balik pintu, robby menggelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian mucul seorang perempuan cantik yang tidak asing lagi baginya, Fanissa.
“ngapain lo disini rob?” menyipitkan matanya
“tuh” Robby memperlihatkan pemandangan Randy yang berada di dalam
“apa-apaan sih dia, bukannya…”
“ssst.. biarin aja”
Fanissa menatap robby kesal dan langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan.
“Randy, udahlah” Fanissa memegang lembut pundak Randy.
“lo liat nis, dia menderita, tapi gue gak ada buat dia” Randy tertunduk dalam dan tampak kecewa akan dirinya sendiri.
Fanissa menghembuskan nafasnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Fanissa tampak tegang, setelah itu robby datang membawa buket bunga. Robby masuk ke ruangan itu, robby memperhatikan Randy seksama. Fanissa membalikkan badannya, robby menghampirinya. Ia membisikan sesuatu pada fanissa. Fanissa mengangguk tanda meng-iyakan dan mengerti apa yang dimaksud robby.
“Randy, lo mau kita temenin?”
“ga perlu bi, thanks a lot” Randy tersenyum.
Tanpa basa-basi Fanissa dan robby meninggalkan Randy sendirian. Ia masih setia menunggu, harapan besar ia simpan dalam hatinya baik-baik mengharapkan Winda bisa merasakan kehadirannya sekarang. Randy memandang jauh ke arah jendela rumah sakit yang tertutup rapat..
“randy..” terbata
Winda merespon keadaan Randy, Windapun meneteskan air matanya. Tetesan air mata itu perlahan mengalir, sunyi. Winda membuka matanya perlahan namun, mata cantik itu kembali melemah dan terpejam kembali rapat-rapat. Winda maafin aku, ini hari anniversary kita kan? Batin Randy, tersenyum pahit.
3 hari berlalu, tampak Randy kelelahan. Ia hanya makan makanan yang dibawakan robby. Robby dan fanissa pun mulai khawatir.
—
“dy” winda tersenyum
“Winda?” Randy tersenyum menggenggam halus jemari Winda.
“relain aku ya…” tersenyum ragu
Wajah pucat Winda tampak menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam.
“maksud kamu apa?”
“kamu pasti ngerti kok, aku sayang kamu..”
“aku gangerti win”
“kamu pasti ngerti, kamu lupa ya? Ini hari jadi kita.. aku nunggu 4 tahun buat rayain sama kamu. Sayang banget tahun ke-5 ini kita rayain di rumah sakit” tersenyum.
“aku? Lupa?” Randy tampak kebingungan
“hem… kamu pasti tau kok dan ngerti.. aku titip pesan ke kamu, cari baik-baik”
Tak sempat Randy menjawab, Winda pun memejamkan matanya perlahan. Randy merasa kecewa terus menerus..
Keesokan paginya Randy terbangun, ranjang itu sudah kosong. Pot bunga tertata rapi, jendela kamar itu terbuka, tercium aroma khas rumah sakit. Randy mencari-cari pandangan yang ia saksikan 3 hari lalu. Randy semakin kebingungan dan panik. Tanpa basa-basi Randy menelfon robby.
“Bi! Gue butuh elo! Cepet kesini!”
“iya”
15 menit Randy menunggu, datanglah robby..
“bi! Winda dimana?!”
“Lo baru sadar?”
“maksud lo apaan? Apa maksud lo bi?!”
Robby tak mengucapkan sepatah katapun, robby keluar dari kamar itu dan tanpa diduga fanissa datang. Fanissa datang dengan sikap tenang dan tampak menyembunyikan sesuatu. “dy” fanissa tersenyum. “nis lo tau winda dimana?” Randy tampak panik.
“udahlah dy… kamu harus bisa relain dia”
“apa maksud lo sih, maksud kalian berdua?!” amarah Randy mulai tersulut.
“udahlah dy, udah..” robby menyentuh bahu randy.
“apa-apaan lo? Mana winda?!” Randy melepaskan tangan robby dan menggertak.
“dy!! Winda udah gak ada, udah 1 bulan yang lalu dia ninggalin kita semua, Winda udah pergi..” fanissa menarik tangan Randy. “lo belum rela” fanissa menatap tajam Randy.
“engga! Engga mungkin, nis! Gue sama dia 3 hari ini”.
Robby dan Fanissa saling bertatap. Robby tampak lemas, ia menarik nafas dalam-dalam.
“sebenarnya waktu di mobil, gue itu pengen banget ngomong hal ini sama lo. Tapi gue liat lo terpukul banget sama kabar sakitnya Winda dan gue ga mau bikin lo makin sedih. Waktu sampai disini pun gue heran sama lo, disini udah ga ada siapa-siapa. Tapi lo bilang ke gue kalau dia menderita. Padahal di situ engga ada apa-apa.” Robby mencoba bersikap tenang.
“dan waktu gue datang, gue liat lo diem di sebelah kasur kosong itu. Gue nanya sama robby, gue khawatir sama lo dan langsung ngehibur elo. Gue dikasih tau robby buat pura-pura Winda masih ada disini, gue minta maaf ngelakuin ini sama lo.” fanissa menatap Randy dalam.
Randy pun terdiam, seluruh tubuhnya bergetar. Ia melihat sekelilingnya, kamar itu memang tampak sangat kosong, bersih dan tak ada tanda-tanda orang baru menempatinya. “gue sengaja ngajak lo kesini, karena suster bilang kamar ini dipakai sebulan seminggu buat ngenang almarhum” robby menimbrung. Tampak sepotong kertas putih di bawah bantal, Randy membuka bantal itu. Di balik bantai itu terlihat secarik kertas putih bersih yang masih tersimpan rapih dan tampak diabaikan…
“Seandainya kamu ada disini dy, kuharap kamu mengerti.. ku harap kamu bisa kembali. Aku sayang kamu selalu, mungkin kamu bertemu aku. Tapi mungkin tempatnya tidak disini, di tempat yang lebih indah lagi.. maafku meninggalkanmu.. atau kau terlalu sibuk dengan urusanmu itu… aku tetap menyayangimu, sampai akhir waktu..”
Kasih Tertambat di Pelatihan
Indri menatapku heran. Ia tidak percaya. Sungguh di luar dugaannya, kalau ternyata aku mencintainya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Diam, dan hanya matanya yang berbicara. Bahwa sebenarnya ia juga cinta. Bahwa, sesungguhnya tidak mungkin ia menolak cintaku. Entahlah! Waktu begitu terasa sangat cepat. Dunia seakan berputar kurang dari dua puluh empat jam. Begitu cepat, begitu segera.
“Kamu tidak perlu menjawab sekarang, Dri!” serupa desahan. Kataku kepada Indri.
“Apa aku harus berpikir lama, untuk mengambil keputusan ini?” Indri tersenyum. Manis sekali.
“Itu juga hak kamu kok,” terpesona dengan senyum Indri.
“Aku rasa tidak perlu.”
“Mengapa kamu bilang seperti itu?”
“Hem…” Sekali lagi Indri memberikan senyumnya yang cantik.
Hari terus berganti. Temu itu terjadi pada saat aku dan Indri lagi mengikuti pelatihan. Workshop yang diadakan oleh Dinas Pendidikan di kotaku, telah menjadikan sebuah pertemuan yang tidak terduga. Pertemuan yang menyisakan kegelisahan. Keresahan yang tiba-tiba timbul, karena adanya rasa. Sebuah rasa tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Semula, Indri adalah temanku sewaktu masih kecil. Dari sekolah SD, aku dan Indri telah berteman. Bahkan selalu dalam satu kelas. Tetapi, memasuki SMP, kami harus berpisah satu sama lain. Karena Indri ikut papanya yang dipindah-tugaskan. Dan tentu saja, kami pun jarang bertemu. Atau bahkan sejak Indri ikut papanya pindah, aku dan Indri tidak pernah bersua.
Tidak pernah terbersit sedikit pun, kalau akhirnya aku dan Indri harus berjumpa. Dengan segala romantika cinta yang terjadi di dalamnya. Hal ini terjadi, setelah kami sama-sama dewasa. Aku telah menjadi ustadz di sebuah pondok. Sedangkan Indri, juga telah membantu mengajar di sebuah lembaga sekolah menengah. Karena sama-sama dalam sebuah lembaga pendidikan, maka akhirnya kami bertemu dalam sebuah pelatihan. Workshop berkenaan dengan metodologi pengajaran selama satu pekan. Dari pertemuan itulah, tiba-tiba timbul yang namanya cinta.
“Aku mencintaimu Indri,” beberapa hari setelah pertemuan di workshop.
“Me too. Aku juga cinta padamu.”
“Engkaulah ratu cintaku.”
“Engkau sebagai pangeraku.”
“Mari kita rajut cinta ini bersama. Dalam suka maupun duka.”
“I agree with you. Aku setuju, apa pun asal bersamamu.” Kami akhirnya jadian, tunangan. Kedua orang tua kami masing-masing saling merestui. Tidak ada halangan dan rintangan. Semua berjalan sesuai rencana. Hanya tinggal menghitung hari saja, aku dan Indri akan ke pelaminan. Pangeran dan ratu, seiya sekata dalam mengarungi samudera kehidupan.
Betapa pun manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Baik rizki, mati, dan jodoh. Kami ditakdirkan untuk berjodoh, tapi hanya sampai pada pertunangan. Tidak lebih. Karena pada detik-detik akhir kami akan melaksanakan akad nikah, tiba-tiba Indri mengatakan sakit perut. Dan ajal pun tak dapat ditolak. Malam itu juga, sehari sebelum perhelatan akad nikah, Indri menghembuskan nafasnya. Pergi untuk selama-lamanya.
Aku tergugu dalam tangis dan sedih yang begitu dalam. Bahkan sampai terbersit dalam hatiku, bahwa aku akan ikut mati bersama Indri. Tapi, iman dalam hatiku masih mampu menjaganya. Hingga pada akhirnya, aku harus menyadari, bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. (Teruntuk teman workshopku Indrawati ‘dulu guru di SMPN 4 Banjarmasin’, selamat menjalankan tugas)
“Kamu tidak perlu menjawab sekarang, Dri!” serupa desahan. Kataku kepada Indri.
“Apa aku harus berpikir lama, untuk mengambil keputusan ini?” Indri tersenyum. Manis sekali.
“Itu juga hak kamu kok,” terpesona dengan senyum Indri.
“Aku rasa tidak perlu.”
“Mengapa kamu bilang seperti itu?”
“Hem…” Sekali lagi Indri memberikan senyumnya yang cantik.
Hari terus berganti. Temu itu terjadi pada saat aku dan Indri lagi mengikuti pelatihan. Workshop yang diadakan oleh Dinas Pendidikan di kotaku, telah menjadikan sebuah pertemuan yang tidak terduga. Pertemuan yang menyisakan kegelisahan. Keresahan yang tiba-tiba timbul, karena adanya rasa. Sebuah rasa tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Semula, Indri adalah temanku sewaktu masih kecil. Dari sekolah SD, aku dan Indri telah berteman. Bahkan selalu dalam satu kelas. Tetapi, memasuki SMP, kami harus berpisah satu sama lain. Karena Indri ikut papanya yang dipindah-tugaskan. Dan tentu saja, kami pun jarang bertemu. Atau bahkan sejak Indri ikut papanya pindah, aku dan Indri tidak pernah bersua.
Tidak pernah terbersit sedikit pun, kalau akhirnya aku dan Indri harus berjumpa. Dengan segala romantika cinta yang terjadi di dalamnya. Hal ini terjadi, setelah kami sama-sama dewasa. Aku telah menjadi ustadz di sebuah pondok. Sedangkan Indri, juga telah membantu mengajar di sebuah lembaga sekolah menengah. Karena sama-sama dalam sebuah lembaga pendidikan, maka akhirnya kami bertemu dalam sebuah pelatihan. Workshop berkenaan dengan metodologi pengajaran selama satu pekan. Dari pertemuan itulah, tiba-tiba timbul yang namanya cinta.
“Aku mencintaimu Indri,” beberapa hari setelah pertemuan di workshop.
“Me too. Aku juga cinta padamu.”
“Engkaulah ratu cintaku.”
“Engkau sebagai pangeraku.”
“Mari kita rajut cinta ini bersama. Dalam suka maupun duka.”
“I agree with you. Aku setuju, apa pun asal bersamamu.” Kami akhirnya jadian, tunangan. Kedua orang tua kami masing-masing saling merestui. Tidak ada halangan dan rintangan. Semua berjalan sesuai rencana. Hanya tinggal menghitung hari saja, aku dan Indri akan ke pelaminan. Pangeran dan ratu, seiya sekata dalam mengarungi samudera kehidupan.
Betapa pun manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Baik rizki, mati, dan jodoh. Kami ditakdirkan untuk berjodoh, tapi hanya sampai pada pertunangan. Tidak lebih. Karena pada detik-detik akhir kami akan melaksanakan akad nikah, tiba-tiba Indri mengatakan sakit perut. Dan ajal pun tak dapat ditolak. Malam itu juga, sehari sebelum perhelatan akad nikah, Indri menghembuskan nafasnya. Pergi untuk selama-lamanya.
Aku tergugu dalam tangis dan sedih yang begitu dalam. Bahkan sampai terbersit dalam hatiku, bahwa aku akan ikut mati bersama Indri. Tapi, iman dalam hatiku masih mampu menjaganya. Hingga pada akhirnya, aku harus menyadari, bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. (Teruntuk teman workshopku Indrawati ‘dulu guru di SMPN 4 Banjarmasin’, selamat menjalankan tugas)
Sayap yang Patah Telah Kembali
Satu tahun telah berlalu, Mengapa aku belum juga bisa melupakannya. Apa mungkin aku terlalu menyesalkan perpisahan itu? Ataukah karena aku sangat menyayanginya? Entahlah, yang jelas aku sangat sakit hati. Bukan karena dia telah memutuskan ku. Tapi mengapa harus berbohong dengan alasan orang tua? Kenapa kamu tidak berterus terang, jika kau tak lagi menyisakan ruang untuk ku di hatimu.
Mengapa aku masih berfikir suatu saat si lesung pipit yang telah mengiris hatiku akan kembali lagi ke pelukanku? Itukah alasan ku tidak mecari penggantinya dan menghapus semua tentangnya dari hatiku? Ah… Betapa aku laki-laki terbodoh di dunia ini. Diakan sudah punya tunangan. Jadi tidak mungkin dia akan kembali lagi kepelukanku. Coba lihat, masih banyak wanita di luar sana untuk di jadikan pengganti.
Terkadang nurani ku berkata bahwa aku harus bangkit untuk melangkah ke depan dan menghapus semua jejak cinta terburuk ku. Tapi aku terlalu lemah untuk bisa terbang hanya dengan satu sayap.
Sore itu mendung menghiasi langit di desa kecil tempat tinggal ku. Desa yang terletak di Lampung. Rintik air mata langit terlihat mulai menetesi bumi yang begitu haus. Aku masih saja melamunkan masa lalu ku di teras depan rumah.
“Kak Farhan…! bantuin Dela ngangkat jemuran dooong…! Keburu lebat ni hujannya..”
“Astaghfirullah…”
Terburu –buru aku bergegas menghapiri adik tercinta ku. Tanpa satu patah katapun mulai ku petik pakaian yang menempel di jemuran.
“Kakak kenapa si kalau sore ngelamun terus di teras…? Kesambet baru tau rasa!”
“Huuuss… ngomong apa kamu ini…! Udah ayo buruan..!”
Seiring tenggelamnya siang disambut datangnya gelap tapi sepertinya langit belum juga lelah menitikkan air matanya. Padahal malam ini aku di undang ke acara Ulang Tahun Cinta. Aku tidak ingin mengecewakan sahabatku yang selalu setia mendengarkan curahan hati ku dan Selalu ada untuk ku dalam dalam kondisi apapun. Karena aku pernah merasakan betapa pedihnya kecewa.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tanpa pikir panjang lagi. Aku segera berpamitan dengan orang tua ku untuk berangkat ke rumah Cinta.
“Mami… Aku pamit dulu ya… Mau ke rumah Cinta…!”
“Emang ada acara apa Han..?”
“Ulang Tahun Cinta mi. Farhan pamit ya..!”
“Hujannya kan masih deras, nanti saja nunggu reda. ..”
“Keburu malem mi. Belum lagi perjalanan butuh watu setengah jam..”
“Iya mami tau, tapi kan hujan deras. Kalau kamu gak datang pasti Cinta bisa mengerti kok kalau kamu gak bermaksud untuk tidak datang..”
“Iya Han, Cinta pasti ngerti keadaan kok. Nanti kamu masuk angin kalau hujan-hujanan.”
Imbuhan dari papi ku.
“Farhan pake mantel kok pi… Tapi Farhan gak mau bikin Cinta kecewa!”
“Iya sudah kalau kamu tetep ngeyel. Hati-hati di jalan ya nak. Gak usah ngebut-ngebut.”
Jawab mami ku. Sedangkan papi ku hanya menggelengkan kepala sambil menyeruput kopi hitamnya.
“So pasti… Farhan kalau bawa motor gak pernah ngebut kok mam. Paling Cuma lari 40KM/jam… Sisanya…”
“Ah kamu ini kalau dibilangin malah ngeledek..”
“Hehehe… Iya udah Farhan berangkat dulu…”
Ku cium pipi mami ku dan tak lupa bersalaman ke mami dan papi ku. Kebiasaan yang di ajarkan kedua orang tua ku dari kecil. Sedangkan Dela lagi asik belajar di kamarnya. Aku tak mau mengganggunya.
- Peristiwa Tak terduga
Setelah mengenakan mantel segera ku picu speda motor Satria ku. Terasa air hujan dan angin mulai menyambut tubuh ku. Dinginpun mulai hadir, terasa menusuk sampai ke tulang.
Jalan raya terlihat sangat sepi. Hanya lampu Bus dan Truck yang terkadang menyinari gelapnya jalan. Ku percepat laju motor, kulihat speedometer berada di atas 90KM/JAM. Rasanya ingin cepat sampai di rumah Cinta. Sudah tidak tahan lagi dengan rasa dingin.
Ketika berada di jalan yang pernah kulewati bersama Mega, aku jadi teringat lagi. Bayang-bayang wajahnya, mulai menghantui pikiranku lagi. Aku jadi mulai tidak berkonsentrasi lagi ke jalan.
Tiba-tiba terlihat ada motor menyebrang untuk keluar dari Caffe. Segera ku injak Rem, sayangnya naas tidak dapat dihindari. Rem ku tak mampu menahan kencangnya laju motor dan… BRAAAKKK…!!!
Mata ku yang berkunang-kunang masih sempat menyaksikan seorang wanita yang wajahnya berlumuran darah. Sehingga aku tidak mengenalinya. Ingin sekali aku menolong, tapi apa daya diriku juga tak sanggup melakukan apa-apa. Kaki ku terasa mati, dan aku tak mampu menggerakkan tubuh yang sudah lemah ini. Darah terus mengalir dari hidungku. Sepertinya sudah ada Polisi dan banyak orang mengerumuni ku. Mataku mulai menggelap dan Sulit untuk bernafas, badanku terasa dingin sekali namun aku merasakan haus yang luar biasa. Aku berfikir nyawa ini akan segera meninggalkan tubuh yang rapuh. Aku merasakan penyesalan, mengapa aku tidak mau menghiraukan kata-kata orang tua ku. Tapi disisi lain, ini semua aku lakukan demi sahabat ku. Sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah berdoa sebisaku. Semoga Tuhan menyelamatkan nyawa wanita itu dan mangampuni ku karena aku tidak bisa menepati janji ku pada Cinta.
- Di rumah Sakit
Dua hari kemudian…
Terdengar suara tangisan kecil yang tak asing lagi di telingaku. Siapa lagi kalau bukan Bunda ku tercinta. Sedikit mulai tersadar tenyata aku belum mati. Ku buka kedua mataku perlahan dan menggerakkan tangan ku sebisa mungkin.
“Farhan… Kamu sudah sadar nak”.
Seketika itu aku juga melihat ada Papi, dan Dela. Tak lama kemudian disusul Cinta yang matanya sayu seperti habis menangis bersama keluarganya. Aku ingin mengucapkan maaf kepada Cinta dan Orang tua ku. Tapi seakan mulut ini terkunci rapat, aku tak sedikitpun bisa berbicara. Ada apa dengan diriku? Mengapa aku tidak bisa berbicara? Aku hanya mampu berteriak dan menjerit di dalam hati. Mataku mulai menitikkan air mata.
“Sudah kamu gak usah nangis, kamu istirahat aja dulu. Aku tahu kamu akan mengatakan maaf kepada ku. Aku sudah memaafkannya. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari orang tua kamu kok.”
Itu tadi suara Cinta yang lembut sambil berusaha membersihkan pipiku dengan tisunya. Dalam hati ku berteriak syukur, karena Cinta sudah memaafkan ku. Lalu bagaimana dengan Wanita itu? Wanita yang aku tabrak. Apakah dia selamat?
Jika ia tidak selamat, berarti Tuhan tidak adil. Mengapa aku selamat tapi wanita itu tidak.
Kurang lebih dua jam aku tersiksa dalam keadaan seperti orang bisu, dokter datang mengganti Infus dan menyuntikkan obat bius kepada ku. Tak tahan menahan kantuk, akupun tertidur.
Tak tahu berapa lama aku tertidur, tapi sekarang aku sudah terbangun. Kulihat Mami sedang tidur, kepalanya bersandar di ranjang. Aku coba lagi untuk membuka mulut. Sangat berharap aku bisa berbicara.
“Maaaam, maaam…”
Mami ku bangun sambil membenahkan jilbabnya yang agak berantakan.
“Papi sama Dela kemana …?” Suaraku terdengar sangat lemah..
“Papi sedang cari kopi di luar dan Dela tidur di Mushala Rumah Sakit…”
“kalau Cinta…?”
“Cinta sudah pulang sore tadi nak. Kamu butuh apa?”
“Gimana orang yang aku tabrak? Apakah dia selamat mi..?”
Mami ku hanya terdiam saja. Seperti menyembunyikan sesuatu. Apa mungkin wanita itu tidak selamat? Ohh… Tidak…!! Aku telah membunuh sesorang.
“Mi… Gimana…?”
“Dia selamat, tapi dia di rawat di Abdul Moeloek”
Abdoel Moeloek adalah Rumah sakit terbesar dan terlengkap fasilitasnya di Lampung. Alhamdulillah… Ternyata wanita itu Selamat. Tapi pasti dia lebih parah dariku. Gumam ku dalam hati.
- Boleh Pulang
Dua minggu kemudian aku sudah mulai sembuh. Aku dibolehkan pulang atau rawat jalan. Cinta dan keluarganya juga menjemput ku di rumah sakit. Hari demi hari kesehatan pun membaik. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya.
Oh ya, Aku teringat kembali kepada wanita itu. Segera ku tanyakan kepada orantua ku. Sepertinya petir menyambar ku di siang bolong. Ternyata wanita itu adalah Mega si lesung pipit mantan kekasih ku. Yang paling membuat ku paling Sedih adalah kakinya patah dan cacat permanen. Ya Allah, aku sudah berdosa besar kepada Mega. Aku menangis sejadi-jadi nya.
- Kedatangan CINTA
Siang itu terasa sangat panas sekali. Kunikmati angin sepoy-sepoy di teras depan rumah. Kulihat mobil Honda jazz warna pink memasuki halaman rumah ku. Aku tersenyum menyambut kedatanganya. Karena aku tahu betul siapa yan datang.
“Assalamualikum Farhan…”
“Walaikum Salam Cinta.. Kok tumben sendirian. Biasa nya kamu kan manja, Kemana-mana minta anterin sopir. Hehehe…”
“Hmm… Baru sembuh, udah mulai ngeledek lagi. Pengen aja sekali-kali bawa mobil sendiri.”
“Iya udah yuk masuk. Panas di luar..”
Kupersilahkan Cinta masuk. Papi dan Mami menyambut ramah kedatangan Cinta.
“Ehhh… Ada bidadari datang… Ayah sama ibu kok gak di ajak mbak Cinta?”
“Ibu bisa saja… Kebetulan Ayah sama Ibu tadi pas saya berangkat mau keluar kota bu. Jadi Cuma bisa menitipkan salam.”
“Walaikum salam. Ada acara apa mbak..?”
“Menghadiri acara khitanan anaknya bude bu. Dela kemana kok gak keliatan bu..?
“Kok mbak Cinta gak ikut? Della nya belum pulang sekolah mbak. Katanya si ada pelajaran tambahan. Maklumlah sudah kelas 3, sebentar lagi ujian.
“Banyak pekerjaan di kantor buk. Ohh Dela udah kelas 3 ya..!”
“Iya udah, ibu buatin minuman sebentar ya mbak Cinta..”
“Gak usah repot-repot bu…”
“Ahh… enggak kok…”
Sedari tadi Cinta berbincang dengan mami ku, kulihat wajahnya yang terbalut jilbab menawan. Cantik sekali Cinta hari ini. Sebelumnya aku melihatnya biasa-biasa saja. Apa mungkin karena di hatiku mulai tumbuh benih cinta kepada Cinta. Tidak mungkin, karena Cinta adalah sahabat ku. Aku tak mau persahabatan ini hancur gara-gara Cinta.
Pernah juga sih, orang tua ku menyuruh untuk menjadikan Cinta pacar atau pasangan hidup.
“Halloo… Kok bengong si… Ntar kesambet lo.”
Cinta membuyarkan lamunan ku.
“ehh… Enggak papa. Kamu itu sama kaya Dela, ada orang ngelamun dikit di bilang kesambet.”
“Iyaa abis… kamu itu ngelamunan..”
“hehehee…”
Kami bercengkrama berdua di ruang tamu. Ngobrol ngalur ngidul hingga ahirnya ke masalah Mega. Menurut informasi dari Cinta ternyata Mega sudah pulang dari rumah sakit 5 hari yang lalu. Ingin sekali aku menjenguk. Pada akhirnya aku putuskan izin ke mami dan papi untuk menjenguk Mega. Alahamdulillah Mami dan Papi mengizinkan. Aku segera menuju ke rumah Mega di antar Cinta.
- Bertemu Sang Masa Lalu
Satu jam kami menyusuri lekak lekuk dan panasnya Aspal. Sampai juga di depan rumah Mega. Ternyata Mega ada di teras bersama kursi roda nya. Ini adalah pertemuan pertama ku dengan sejak aku putus.
Kami turun dari mobil dan langsung menghampiri Mega. Mata Mega mulai berkaca-kaca saat tau bahwa aku yang datang. Aku jadi semakin takut dan merasa sangat bersalah sekali. Kamu dipersilhakan duduk di ruang tamu.
“Gimana kabar kamu..?”
“Seperti yang kamu lihat…”
“Maaf… Semua itu karena salah ku. Coba kalau peristiawa itu…”
“Sudah lupakan…!!”
Hardik Mega sebelum aku selesai berbicara. Kulihat Cinta diam seribu bahasa. Menundukkan kepala.
“Mungkin ini lah balasan yang setimpal dari Tuhan atas apa yang aku perbuat terhadap mu..”
“Kenapa kamu parno begitu..? Ini jelas tidak ada hubungannya..”
“Jika malam itu Reno tak membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tidak akan terburu-buru keluar dari Caffé dan tidak akan terjadi peristiwa itu. Aku memang wanita bodoh”
Seketika itu Mega menangis. Reno adalah laki-laki yang membuat hubungan ku dan Mega rusak. Aku hanya terdiam. Aku tak bisa lagi berbuat apa-apa.
“Sudah, jangan menangis..”
“Farhaaaan… Kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku saat ini. Aku benar-benar tidak menyangka… kal… kalau Reno sejahat itu sama aku. Kenapa aku tidak mati saja?”
“Kamu kok ngomong gitu sih? Masih ada laki-laki yang mau sama kamu kok…”
“Mau sama aku? Kamu tidak buta kan..! Sekarang ini aku cacat, mana mungkin ada laki-laki yang mau sama aku han..? aku sudah gak bisa jalan lagi untuk seumur hidup…”
Aku hampiri Mega yang semakin tersedu-sedu lebih dekat lagi. Ku coba menghapus Air matanya.
“Mega… Kamu juga tidak buta kan. Aku yakin kamu masih bisa menatap ku dengan sangat jelas. Seseorang yang masih mau dengan mu ada dihapan mu sekarang”.
“Kamu…? Tidak mungkin, kamu hanya ingin menghibur ku kan. Kamu hanya bercanda han…! Aku tau, sampai saat ini hatimu masih hancur gara-gara aku. Aku telah mematahkan sayap mu”.
“Ada hal yang harus kamu tau. Aku mencintai mu dan menyangi mu bukan karena fisik mu, kecantikan mu, kelebihan mu, harta mu… Tapi aku Mencintai mu karena Tuhan ku. Aku akui, sampai saat ini hati ku masih hancur, tapi bagaimana aku bisa terbang di saat sayap ku telah patah karena mu Mega. Hanya kamu yang bisa mengobati hatiku yang hancur dan hanya kamu yang bisa menyambung kembali sayap ku yang telah patah…”
Mengapa aku masih berfikir suatu saat si lesung pipit yang telah mengiris hatiku akan kembali lagi ke pelukanku? Itukah alasan ku tidak mecari penggantinya dan menghapus semua tentangnya dari hatiku? Ah… Betapa aku laki-laki terbodoh di dunia ini. Diakan sudah punya tunangan. Jadi tidak mungkin dia akan kembali lagi kepelukanku. Coba lihat, masih banyak wanita di luar sana untuk di jadikan pengganti.
Terkadang nurani ku berkata bahwa aku harus bangkit untuk melangkah ke depan dan menghapus semua jejak cinta terburuk ku. Tapi aku terlalu lemah untuk bisa terbang hanya dengan satu sayap.
Sore itu mendung menghiasi langit di desa kecil tempat tinggal ku. Desa yang terletak di Lampung. Rintik air mata langit terlihat mulai menetesi bumi yang begitu haus. Aku masih saja melamunkan masa lalu ku di teras depan rumah.
“Kak Farhan…! bantuin Dela ngangkat jemuran dooong…! Keburu lebat ni hujannya..”
“Astaghfirullah…”
Terburu –buru aku bergegas menghapiri adik tercinta ku. Tanpa satu patah katapun mulai ku petik pakaian yang menempel di jemuran.
“Kakak kenapa si kalau sore ngelamun terus di teras…? Kesambet baru tau rasa!”
“Huuuss… ngomong apa kamu ini…! Udah ayo buruan..!”
Seiring tenggelamnya siang disambut datangnya gelap tapi sepertinya langit belum juga lelah menitikkan air matanya. Padahal malam ini aku di undang ke acara Ulang Tahun Cinta. Aku tidak ingin mengecewakan sahabatku yang selalu setia mendengarkan curahan hati ku dan Selalu ada untuk ku dalam dalam kondisi apapun. Karena aku pernah merasakan betapa pedihnya kecewa.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tanpa pikir panjang lagi. Aku segera berpamitan dengan orang tua ku untuk berangkat ke rumah Cinta.
“Mami… Aku pamit dulu ya… Mau ke rumah Cinta…!”
“Emang ada acara apa Han..?”
“Ulang Tahun Cinta mi. Farhan pamit ya..!”
“Hujannya kan masih deras, nanti saja nunggu reda. ..”
“Keburu malem mi. Belum lagi perjalanan butuh watu setengah jam..”
“Iya mami tau, tapi kan hujan deras. Kalau kamu gak datang pasti Cinta bisa mengerti kok kalau kamu gak bermaksud untuk tidak datang..”
“Iya Han, Cinta pasti ngerti keadaan kok. Nanti kamu masuk angin kalau hujan-hujanan.”
Imbuhan dari papi ku.
“Farhan pake mantel kok pi… Tapi Farhan gak mau bikin Cinta kecewa!”
“Iya sudah kalau kamu tetep ngeyel. Hati-hati di jalan ya nak. Gak usah ngebut-ngebut.”
Jawab mami ku. Sedangkan papi ku hanya menggelengkan kepala sambil menyeruput kopi hitamnya.
“So pasti… Farhan kalau bawa motor gak pernah ngebut kok mam. Paling Cuma lari 40KM/jam… Sisanya…”
“Ah kamu ini kalau dibilangin malah ngeledek..”
“Hehehe… Iya udah Farhan berangkat dulu…”
Ku cium pipi mami ku dan tak lupa bersalaman ke mami dan papi ku. Kebiasaan yang di ajarkan kedua orang tua ku dari kecil. Sedangkan Dela lagi asik belajar di kamarnya. Aku tak mau mengganggunya.
- Peristiwa Tak terduga
Setelah mengenakan mantel segera ku picu speda motor Satria ku. Terasa air hujan dan angin mulai menyambut tubuh ku. Dinginpun mulai hadir, terasa menusuk sampai ke tulang.
Jalan raya terlihat sangat sepi. Hanya lampu Bus dan Truck yang terkadang menyinari gelapnya jalan. Ku percepat laju motor, kulihat speedometer berada di atas 90KM/JAM. Rasanya ingin cepat sampai di rumah Cinta. Sudah tidak tahan lagi dengan rasa dingin.
Ketika berada di jalan yang pernah kulewati bersama Mega, aku jadi teringat lagi. Bayang-bayang wajahnya, mulai menghantui pikiranku lagi. Aku jadi mulai tidak berkonsentrasi lagi ke jalan.
Tiba-tiba terlihat ada motor menyebrang untuk keluar dari Caffe. Segera ku injak Rem, sayangnya naas tidak dapat dihindari. Rem ku tak mampu menahan kencangnya laju motor dan… BRAAAKKK…!!!
Mata ku yang berkunang-kunang masih sempat menyaksikan seorang wanita yang wajahnya berlumuran darah. Sehingga aku tidak mengenalinya. Ingin sekali aku menolong, tapi apa daya diriku juga tak sanggup melakukan apa-apa. Kaki ku terasa mati, dan aku tak mampu menggerakkan tubuh yang sudah lemah ini. Darah terus mengalir dari hidungku. Sepertinya sudah ada Polisi dan banyak orang mengerumuni ku. Mataku mulai menggelap dan Sulit untuk bernafas, badanku terasa dingin sekali namun aku merasakan haus yang luar biasa. Aku berfikir nyawa ini akan segera meninggalkan tubuh yang rapuh. Aku merasakan penyesalan, mengapa aku tidak mau menghiraukan kata-kata orang tua ku. Tapi disisi lain, ini semua aku lakukan demi sahabat ku. Sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah berdoa sebisaku. Semoga Tuhan menyelamatkan nyawa wanita itu dan mangampuni ku karena aku tidak bisa menepati janji ku pada Cinta.
- Di rumah Sakit
Dua hari kemudian…
Terdengar suara tangisan kecil yang tak asing lagi di telingaku. Siapa lagi kalau bukan Bunda ku tercinta. Sedikit mulai tersadar tenyata aku belum mati. Ku buka kedua mataku perlahan dan menggerakkan tangan ku sebisa mungkin.
“Farhan… Kamu sudah sadar nak”.
Seketika itu aku juga melihat ada Papi, dan Dela. Tak lama kemudian disusul Cinta yang matanya sayu seperti habis menangis bersama keluarganya. Aku ingin mengucapkan maaf kepada Cinta dan Orang tua ku. Tapi seakan mulut ini terkunci rapat, aku tak sedikitpun bisa berbicara. Ada apa dengan diriku? Mengapa aku tidak bisa berbicara? Aku hanya mampu berteriak dan menjerit di dalam hati. Mataku mulai menitikkan air mata.
“Sudah kamu gak usah nangis, kamu istirahat aja dulu. Aku tahu kamu akan mengatakan maaf kepada ku. Aku sudah memaafkannya. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari orang tua kamu kok.”
Itu tadi suara Cinta yang lembut sambil berusaha membersihkan pipiku dengan tisunya. Dalam hati ku berteriak syukur, karena Cinta sudah memaafkan ku. Lalu bagaimana dengan Wanita itu? Wanita yang aku tabrak. Apakah dia selamat?
Jika ia tidak selamat, berarti Tuhan tidak adil. Mengapa aku selamat tapi wanita itu tidak.
Kurang lebih dua jam aku tersiksa dalam keadaan seperti orang bisu, dokter datang mengganti Infus dan menyuntikkan obat bius kepada ku. Tak tahan menahan kantuk, akupun tertidur.
Tak tahu berapa lama aku tertidur, tapi sekarang aku sudah terbangun. Kulihat Mami sedang tidur, kepalanya bersandar di ranjang. Aku coba lagi untuk membuka mulut. Sangat berharap aku bisa berbicara.
“Maaaam, maaam…”
Mami ku bangun sambil membenahkan jilbabnya yang agak berantakan.
“Papi sama Dela kemana …?” Suaraku terdengar sangat lemah..
“Papi sedang cari kopi di luar dan Dela tidur di Mushala Rumah Sakit…”
“kalau Cinta…?”
“Cinta sudah pulang sore tadi nak. Kamu butuh apa?”
“Gimana orang yang aku tabrak? Apakah dia selamat mi..?”
Mami ku hanya terdiam saja. Seperti menyembunyikan sesuatu. Apa mungkin wanita itu tidak selamat? Ohh… Tidak…!! Aku telah membunuh sesorang.
“Mi… Gimana…?”
“Dia selamat, tapi dia di rawat di Abdul Moeloek”
Abdoel Moeloek adalah Rumah sakit terbesar dan terlengkap fasilitasnya di Lampung. Alhamdulillah… Ternyata wanita itu Selamat. Tapi pasti dia lebih parah dariku. Gumam ku dalam hati.
- Boleh Pulang
Dua minggu kemudian aku sudah mulai sembuh. Aku dibolehkan pulang atau rawat jalan. Cinta dan keluarganya juga menjemput ku di rumah sakit. Hari demi hari kesehatan pun membaik. Aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya.
Oh ya, Aku teringat kembali kepada wanita itu. Segera ku tanyakan kepada orantua ku. Sepertinya petir menyambar ku di siang bolong. Ternyata wanita itu adalah Mega si lesung pipit mantan kekasih ku. Yang paling membuat ku paling Sedih adalah kakinya patah dan cacat permanen. Ya Allah, aku sudah berdosa besar kepada Mega. Aku menangis sejadi-jadi nya.
- Kedatangan CINTA
Siang itu terasa sangat panas sekali. Kunikmati angin sepoy-sepoy di teras depan rumah. Kulihat mobil Honda jazz warna pink memasuki halaman rumah ku. Aku tersenyum menyambut kedatanganya. Karena aku tahu betul siapa yan datang.
“Assalamualikum Farhan…”
“Walaikum Salam Cinta.. Kok tumben sendirian. Biasa nya kamu kan manja, Kemana-mana minta anterin sopir. Hehehe…”
“Hmm… Baru sembuh, udah mulai ngeledek lagi. Pengen aja sekali-kali bawa mobil sendiri.”
“Iya udah yuk masuk. Panas di luar..”
Kupersilahkan Cinta masuk. Papi dan Mami menyambut ramah kedatangan Cinta.
“Ehhh… Ada bidadari datang… Ayah sama ibu kok gak di ajak mbak Cinta?”
“Ibu bisa saja… Kebetulan Ayah sama Ibu tadi pas saya berangkat mau keluar kota bu. Jadi Cuma bisa menitipkan salam.”
“Walaikum salam. Ada acara apa mbak..?”
“Menghadiri acara khitanan anaknya bude bu. Dela kemana kok gak keliatan bu..?
“Kok mbak Cinta gak ikut? Della nya belum pulang sekolah mbak. Katanya si ada pelajaran tambahan. Maklumlah sudah kelas 3, sebentar lagi ujian.
“Banyak pekerjaan di kantor buk. Ohh Dela udah kelas 3 ya..!”
“Iya udah, ibu buatin minuman sebentar ya mbak Cinta..”
“Gak usah repot-repot bu…”
“Ahh… enggak kok…”
Sedari tadi Cinta berbincang dengan mami ku, kulihat wajahnya yang terbalut jilbab menawan. Cantik sekali Cinta hari ini. Sebelumnya aku melihatnya biasa-biasa saja. Apa mungkin karena di hatiku mulai tumbuh benih cinta kepada Cinta. Tidak mungkin, karena Cinta adalah sahabat ku. Aku tak mau persahabatan ini hancur gara-gara Cinta.
Pernah juga sih, orang tua ku menyuruh untuk menjadikan Cinta pacar atau pasangan hidup.
“Halloo… Kok bengong si… Ntar kesambet lo.”
Cinta membuyarkan lamunan ku.
“ehh… Enggak papa. Kamu itu sama kaya Dela, ada orang ngelamun dikit di bilang kesambet.”
“Iyaa abis… kamu itu ngelamunan..”
“hehehee…”
Kami bercengkrama berdua di ruang tamu. Ngobrol ngalur ngidul hingga ahirnya ke masalah Mega. Menurut informasi dari Cinta ternyata Mega sudah pulang dari rumah sakit 5 hari yang lalu. Ingin sekali aku menjenguk. Pada akhirnya aku putuskan izin ke mami dan papi untuk menjenguk Mega. Alahamdulillah Mami dan Papi mengizinkan. Aku segera menuju ke rumah Mega di antar Cinta.
- Bertemu Sang Masa Lalu
Satu jam kami menyusuri lekak lekuk dan panasnya Aspal. Sampai juga di depan rumah Mega. Ternyata Mega ada di teras bersama kursi roda nya. Ini adalah pertemuan pertama ku dengan sejak aku putus.
Kami turun dari mobil dan langsung menghampiri Mega. Mata Mega mulai berkaca-kaca saat tau bahwa aku yang datang. Aku jadi semakin takut dan merasa sangat bersalah sekali. Kamu dipersilhakan duduk di ruang tamu.
“Gimana kabar kamu..?”
“Seperti yang kamu lihat…”
“Maaf… Semua itu karena salah ku. Coba kalau peristiawa itu…”
“Sudah lupakan…!!”
Hardik Mega sebelum aku selesai berbicara. Kulihat Cinta diam seribu bahasa. Menundukkan kepala.
“Mungkin ini lah balasan yang setimpal dari Tuhan atas apa yang aku perbuat terhadap mu..”
“Kenapa kamu parno begitu..? Ini jelas tidak ada hubungannya..”
“Jika malam itu Reno tak membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tidak akan terburu-buru keluar dari Caffé dan tidak akan terjadi peristiwa itu. Aku memang wanita bodoh”
Seketika itu Mega menangis. Reno adalah laki-laki yang membuat hubungan ku dan Mega rusak. Aku hanya terdiam. Aku tak bisa lagi berbuat apa-apa.
“Sudah, jangan menangis..”
“Farhaaaan… Kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku saat ini. Aku benar-benar tidak menyangka… kal… kalau Reno sejahat itu sama aku. Kenapa aku tidak mati saja?”
“Kamu kok ngomong gitu sih? Masih ada laki-laki yang mau sama kamu kok…”
“Mau sama aku? Kamu tidak buta kan..! Sekarang ini aku cacat, mana mungkin ada laki-laki yang mau sama aku han..? aku sudah gak bisa jalan lagi untuk seumur hidup…”
Aku hampiri Mega yang semakin tersedu-sedu lebih dekat lagi. Ku coba menghapus Air matanya.
“Mega… Kamu juga tidak buta kan. Aku yakin kamu masih bisa menatap ku dengan sangat jelas. Seseorang yang masih mau dengan mu ada dihapan mu sekarang”.
“Kamu…? Tidak mungkin, kamu hanya ingin menghibur ku kan. Kamu hanya bercanda han…! Aku tau, sampai saat ini hatimu masih hancur gara-gara aku. Aku telah mematahkan sayap mu”.
“Ada hal yang harus kamu tau. Aku mencintai mu dan menyangi mu bukan karena fisik mu, kecantikan mu, kelebihan mu, harta mu… Tapi aku Mencintai mu karena Tuhan ku. Aku akui, sampai saat ini hati ku masih hancur, tapi bagaimana aku bisa terbang di saat sayap ku telah patah karena mu Mega. Hanya kamu yang bisa mengobati hatiku yang hancur dan hanya kamu yang bisa menyambung kembali sayap ku yang telah patah…”
Always Love You
Hangat pelukannya begitu nyaman kurasakan malam ini. Sudah 20 menit kami diam membisu, menatap langit yang sangat indah bertabur bintang. Tapi aku merasakan ada yang beda dengan pelukannya malam ini.
Dia memelukku sangat erat, tidak seperti biasanya. Aku memandangnya namun dia hanya tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat, aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi dan firasatku mengatakan sesuatu yang tidak baik.
Evan melepas pelukannya kemudian menatapku dalam. Air bening dari matanya perlahan mengalir membahasahi pipinya.
“Din…” suaranya parau kudengar.
“Van kamu kenapa, apa yang terjadi?” tanyaku sedikit cemas.
“Maafkan aku din, sepertinya hubungan kita hanya sampai disini. Aku tak bisa melawan perasaan yang datang padaku. Aku mencintai wanita lain” katanya sambil menggenggam tanganku erat.
“Van kamu becanda kan sayang” kataku santai karena emang evan sering becanda.
“Enggak din, aku serius. Aku sudah tidak mencintaimu lagi, aku mempunyai cinta lain di hatiku dan aku sangat mencintainya. Tidak lama lagi kami akan tunangan.”
“Tapi kenapa van… apa salahku…” kataku diiringi tangisku yang hebat.
“Aku merasa sudah bosan dengan hubungan kita, dan sekarang saat yang tepat untuk mengakhirinya”.
“kamu benar-benar jahat van, aku benci sama kamu, 3 tahun sudah kita lalui dan aku telah memberikan semuanya untukmu, bahkan kehormatankupun sudah aku berikan. Kamu jahattt… aku benci kamu. Jangan pernah temui aku lagi, aku gak mau liat wajahmu lagi”
“Maafkan aku din”
Pernyataannya bagai petir menyambar tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, aku berlari meninggalkannya. Aku menangis tiada henti. Aku seakan tak percaya, di hari jadi kami yang ke-3 tahun dia memutuskanku.
Sudah 3 hari aku tidak masuk sekolah. Aku hanya mengurung diri di kamar sejak kejadian itu. Dan akhirnya sahabatku Bella datang menjengukku dan berhasil membujukku untuk sekolah lagi.
Kriinggg… kringgg…
Bell tanda jam istirahatpun berbunyi, namun aku hanya duduk termenung, menangis, tak bisa melupakan kejadian malam itu. Bella pun menghampiriku.
“Udah donk din, loe harus kuat, masih banyak cowok lain yang lebih baik dari dia”
“Dia jahat banget bel, aku benci dengannya, semuanya hanya manis di bibir, ternyata semua cowok sama aja” akupun menangis di pelukan Bella.
“Tenang ya din, masih ada gue yang akan selalu nemenin loe”
“Makasih ya bel, loe memang sahabat gue yang paling baik”
“Iya donk, Bella gitu loh” katanya dengan dengan lebay dan gue pun tersenyum.
“Gitu donk senyum, ini baru Dinda sahabat gue” katanya lagi.
Bella pun berhasil membuat gue tersenyum untuk pertama kalinya semenjak kejadian itu.
“Ehh Din, loe tau gak semenjak loe gak masuk sekolah, Evan juga gak masuk” kata Bella.
“Udah deh Bel gak usah sebut-sebut nama dia lagi, mau dia gak datang, mau mati kek itu bukan urusan gue lagi” kata gue sedikit kesal.
“Gak boleh ngomong gitu tau, gimanapun juga dia teman sekelas kita”
“Udah deh gak usah ngebahas dia lagi” bantah gue.
Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat selesai dan pelajaran akan dimulai kembali.
Pak Beni guru Kimia pun masuk, tapi tidak seperti biasanya, Kepala Sekolah juga ikut masuk kelas bersama dengannya.
“Selamat Siang anak-anak” ucap Kepala Sekolah.
“Selamat siang Pak…” sahut semua murid kecuali gue.
“Bapak ingin menyampaikan suatu berita mengharukan, teman kalian Evan telah meninggal dunia tadi pagi karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Bapak harap kalian tabah menerima semua ini”
Seisi kelas pun tak bisa menahan tangis. Gue pun ikut menangis dan tangisan gue semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya gue tak sadarkan diri. Saat gue sadar, gue udah berada di rumah. Bella menemani gue. Gue masih setengah sadar mencoba mengingat-ingat kenapa gue bisa berada di rumah.
Akhirnya gue pun ingat dan gue kembali menangis hingga membangunkan Bella yang tidur di samping gue.
“Din loe udah sadar” kata Bella.
“Bel kenapa ini harus terjadi sama gue, gue sayang banget sama Evan, kenapa harus secepat ini Bel” air mata tak henti-hentinya mengalir di pipi gue.
“Udah loe yang tabah ya din, semua pasti ada hikmahnya. Evan tadi siang udah dimakamkan dan gue hadir bersama teman-teman yang lain melihat pemakamannya. Ini ada titipin surat dari Ibu Evan, katanya surat ini ditulis Evan tepat sebelum dia meninggal” katanya sambil menyerahkan surat.
Bella pun pamitan pulang karena udah malam.
Amplop dan kertas suratnya warna pink, wana kesukaan gue.
Gue pun membuka surat dari Evan.
Dear Dinda
Saat kamu baca surat ini pasti aku udah gak ada. Kini kamu pasti sudah mengetahui segalanya. Malam itu aku memutuskanmu bukan karena ada wanita lain, bukan karena aku benci sama kamu. Tetapi karena aku sengaja buat kamu ngelupain dan membenci aku. Agar saat seperti ini kamu tidak akan merasa kehilangan dan agar kamu bisa membenci aku. Saat pertama kali aku mengetahui penyakit ini aku seperti tidak berguna lagi. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia lagi. Karena dokter telah memvonis umurku tinggal 1 bulan lagi. Aku benci dengan diriku sendiri sayangku. Aku tak sanggup lagi, malaikat telah datang menjemputku. Sekali lagi maafin aku ya, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Izinkan aku membawa cinta ini sampai mati. Disini, di surga ini, aku akan meminta pada Tuhan agar selalu menjagamu dan memberikan penggantiku yang jauh lebih baik dariku.
Always love you
Keesokan harinya aku pergi ke makam Evan. Aku membawa beberapa tangkai bunga.
“Sayang tunggu aku disana ya, aku janji akan selalu menjaga cinta kita”
Kemudian aku pergi ke taman tempat aku terakhir kali melihatnya, aku memandang langit yang bertabur bintang. Ada 1 bintang yang terlihat sangat terang, aku tahu itu Evan, dia pernah mengatakan kalau manusia yang meninggal akan menjadi bintang, itulah mengapa banyak sekali bintang di langit. Dan sekarang aku melihatnya tersenyum dari atas sana. Aku masih merasakan hangat pelukannya malam ini.
Dia memelukku sangat erat, tidak seperti biasanya. Aku memandangnya namun dia hanya tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat, aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi dan firasatku mengatakan sesuatu yang tidak baik.
Evan melepas pelukannya kemudian menatapku dalam. Air bening dari matanya perlahan mengalir membahasahi pipinya.
“Din…” suaranya parau kudengar.
“Van kamu kenapa, apa yang terjadi?” tanyaku sedikit cemas.
“Maafkan aku din, sepertinya hubungan kita hanya sampai disini. Aku tak bisa melawan perasaan yang datang padaku. Aku mencintai wanita lain” katanya sambil menggenggam tanganku erat.
“Van kamu becanda kan sayang” kataku santai karena emang evan sering becanda.
“Enggak din, aku serius. Aku sudah tidak mencintaimu lagi, aku mempunyai cinta lain di hatiku dan aku sangat mencintainya. Tidak lama lagi kami akan tunangan.”
“Tapi kenapa van… apa salahku…” kataku diiringi tangisku yang hebat.
“Aku merasa sudah bosan dengan hubungan kita, dan sekarang saat yang tepat untuk mengakhirinya”.
“kamu benar-benar jahat van, aku benci sama kamu, 3 tahun sudah kita lalui dan aku telah memberikan semuanya untukmu, bahkan kehormatankupun sudah aku berikan. Kamu jahattt… aku benci kamu. Jangan pernah temui aku lagi, aku gak mau liat wajahmu lagi”
“Maafkan aku din”
Pernyataannya bagai petir menyambar tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, aku berlari meninggalkannya. Aku menangis tiada henti. Aku seakan tak percaya, di hari jadi kami yang ke-3 tahun dia memutuskanku.
Sudah 3 hari aku tidak masuk sekolah. Aku hanya mengurung diri di kamar sejak kejadian itu. Dan akhirnya sahabatku Bella datang menjengukku dan berhasil membujukku untuk sekolah lagi.
Kriinggg… kringgg…
Bell tanda jam istirahatpun berbunyi, namun aku hanya duduk termenung, menangis, tak bisa melupakan kejadian malam itu. Bella pun menghampiriku.
“Udah donk din, loe harus kuat, masih banyak cowok lain yang lebih baik dari dia”
“Dia jahat banget bel, aku benci dengannya, semuanya hanya manis di bibir, ternyata semua cowok sama aja” akupun menangis di pelukan Bella.
“Tenang ya din, masih ada gue yang akan selalu nemenin loe”
“Makasih ya bel, loe memang sahabat gue yang paling baik”
“Iya donk, Bella gitu loh” katanya dengan dengan lebay dan gue pun tersenyum.
“Gitu donk senyum, ini baru Dinda sahabat gue” katanya lagi.
Bella pun berhasil membuat gue tersenyum untuk pertama kalinya semenjak kejadian itu.
“Ehh Din, loe tau gak semenjak loe gak masuk sekolah, Evan juga gak masuk” kata Bella.
“Udah deh Bel gak usah sebut-sebut nama dia lagi, mau dia gak datang, mau mati kek itu bukan urusan gue lagi” kata gue sedikit kesal.
“Gak boleh ngomong gitu tau, gimanapun juga dia teman sekelas kita”
“Udah deh gak usah ngebahas dia lagi” bantah gue.
Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat selesai dan pelajaran akan dimulai kembali.
Pak Beni guru Kimia pun masuk, tapi tidak seperti biasanya, Kepala Sekolah juga ikut masuk kelas bersama dengannya.
“Selamat Siang anak-anak” ucap Kepala Sekolah.
“Selamat siang Pak…” sahut semua murid kecuali gue.
“Bapak ingin menyampaikan suatu berita mengharukan, teman kalian Evan telah meninggal dunia tadi pagi karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Bapak harap kalian tabah menerima semua ini”
Seisi kelas pun tak bisa menahan tangis. Gue pun ikut menangis dan tangisan gue semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya gue tak sadarkan diri. Saat gue sadar, gue udah berada di rumah. Bella menemani gue. Gue masih setengah sadar mencoba mengingat-ingat kenapa gue bisa berada di rumah.
Akhirnya gue pun ingat dan gue kembali menangis hingga membangunkan Bella yang tidur di samping gue.
“Din loe udah sadar” kata Bella.
“Bel kenapa ini harus terjadi sama gue, gue sayang banget sama Evan, kenapa harus secepat ini Bel” air mata tak henti-hentinya mengalir di pipi gue.
“Udah loe yang tabah ya din, semua pasti ada hikmahnya. Evan tadi siang udah dimakamkan dan gue hadir bersama teman-teman yang lain melihat pemakamannya. Ini ada titipin surat dari Ibu Evan, katanya surat ini ditulis Evan tepat sebelum dia meninggal” katanya sambil menyerahkan surat.
Bella pun pamitan pulang karena udah malam.
Amplop dan kertas suratnya warna pink, wana kesukaan gue.
Gue pun membuka surat dari Evan.
Dear Dinda
Saat kamu baca surat ini pasti aku udah gak ada. Kini kamu pasti sudah mengetahui segalanya. Malam itu aku memutuskanmu bukan karena ada wanita lain, bukan karena aku benci sama kamu. Tetapi karena aku sengaja buat kamu ngelupain dan membenci aku. Agar saat seperti ini kamu tidak akan merasa kehilangan dan agar kamu bisa membenci aku. Saat pertama kali aku mengetahui penyakit ini aku seperti tidak berguna lagi. Aku tidak akan bisa membuatmu bahagia lagi. Karena dokter telah memvonis umurku tinggal 1 bulan lagi. Aku benci dengan diriku sendiri sayangku. Aku tak sanggup lagi, malaikat telah datang menjemputku. Sekali lagi maafin aku ya, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Izinkan aku membawa cinta ini sampai mati. Disini, di surga ini, aku akan meminta pada Tuhan agar selalu menjagamu dan memberikan penggantiku yang jauh lebih baik dariku.
Always love you
Keesokan harinya aku pergi ke makam Evan. Aku membawa beberapa tangkai bunga.
“Sayang tunggu aku disana ya, aku janji akan selalu menjaga cinta kita”
Kemudian aku pergi ke taman tempat aku terakhir kali melihatnya, aku memandang langit yang bertabur bintang. Ada 1 bintang yang terlihat sangat terang, aku tahu itu Evan, dia pernah mengatakan kalau manusia yang meninggal akan menjadi bintang, itulah mengapa banyak sekali bintang di langit. Dan sekarang aku melihatnya tersenyum dari atas sana. Aku masih merasakan hangat pelukannya malam ini.
Cewek itu Liani
Malam yang cerah dengan bulan yang bersinar terang membawa ketenangan dan keyakinan pada malam ini. Malam ini akan terasa lain dari malam biasanya, yang biasanya Cuma di rumah dan diabisin waktu bareng temen. Tapi untuk kali ini malam biasa itu tidak ada lagi semua akan berubah menjadi lebih berwarna dan tidak Cuma abis hujan aja ada pelangi untuk malam ini dan malam-malam selanjutnya pelangi juga ada saat malam hari.
Dengan keyakinan dan kata-kata yang sudah gua persiapkan dari jauh-jauh hari dan gak akan ada kata-kata yang salah lagi semua pasti akan lancar. Sudah dari lama gua nunggu moment ini moment dimana penantian gua besok masih hidup atau mati. Semua usaha sudah gua lakuin dari hal yang masih wajar sampai hal yang konyol abis, itu semua Cuma buat bisa dapet hati cewek itu.
Cewek itu namanya liani dia cewek belasteran cina Indonesia mukanya yang kecina-cinaan, matanya yang sipit dan senyumnya yang wanita Indonesia banget, buat dia terlihat jadi unik lain dari cewek yang lain dan itu yang buat gua selalu jatuh cinta sama mukanya setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik karena liani itu cantik banget. Sudah hampir 3 tahun gua sama liani sahabat dan sudah selama itu juga gua pendam semua perasaan gua ini buat dia perasaan yang selalu berharap sesuatu saat nanti ada waktunya buat kita jadi satu. Malam ini adalah waktunya malam penentuan apakah gua akan jadi satu atau gua akan tetap memendam perasaan ini terus bahkan selamanya…
Dulu pernah gua coba buat ungkapin perasaan ini sama liani tapi selalu gagal
1. dari liani yang sakit perut mules mesti balik untuk buang air karena liani orang yang bersih banget jadi dia gak bisa sembarangan buang air, tapi jelas aja liani gak bisa sembarangan buang air besar, karena gua lagi ajak dia ngedate istilah anak muda jaman sekarang ngedate yang biasa dilakuin malem minggu alias malming
gua ajak dia ke pinggiran danau yang di sekitarnya Cuma ada tukang pecel lele, tambal ban, sama tukang yang jual kacang rebus “kacang rebus bang aimin”, awal gak berniat ajak liani ke situ karena café yang tadinya sudah gua persiapkan untuk ajak dia ngedate itu rame banget dan ternyata pas gua cek duit di dompet Cuma ada 20 ribuan dengan uang segitu gak mungkin gua ajak liani untuk ngedate dengan uang ijo itu. karena liani sudah ngerti gua banget dan gua juga ngerti liani banget, saat gua diam aja liani pun sudah tau kalau gua Cuma bawa duit yang gak banyak liani Cuma tertawa dengan manis dan bilang
“ya udah yuk kita ke tempat lain aja gua juga lagi gak pengen ke café kok” kata liani dengan senyum manisnya yang makin lama semakin manis
“ayuk sorri ya li..” kata gua dengan suara memelas
“gapapa kro main kan bisa dimana aja” jawab liani yang selalu manggil gua “KRO”
kro itu kata dari sukro nama asli gua udah cakep banget dengan Muhammad Alvin firdaus tapi malah dipanggil sukro. Gua dipanggil sukro karena kepala gua yang botak bulet, sebenernya gak botak licin sampai kayak opi kumis tapi karena emang gua yang gak suka rambut panjang gua lebih nyaman dengan rambut yang tipis agak botak bentuk pala begini sudah ciri khas dari sd sampai gua sma kelas 3 gua selalu dengan rambut begini karena sudah gak gerah lumayan juga jadi hemat gak sering beli shampo, gak kaya ade gua si tuti dia sering banget beli shampo, rambutnya itu lebihin pantat gua gak ngerti biar apa maksudnya si tuti rambutnya dipanjangin sampai lebihin pantat gitu. Ehhh… kenapa jadi cerita tentang kepala gua yang kaya sukro dan si tuti sih, oke kembali ke topik awal
Akhirnya gua sama liani Cuma mampu ngedate di pinggiran danau ini satu-satunya tempat yang tepat untuk uang saku macem gua ini 20 ribuan.
Ini awal pertama kali gua berani ungkapin perasaan ini sama liani, deg-degan jantung ini cenat-cenut sangat, ini cenat-cenut lain ini versi sukro jadi cenat-cenut by sukro bukan lagi cenat-cenut by smash. Tarik napas buang napas pegang dada nengok kanan-kiri
Sekali-kali lirik liani yang lagi ngunyah kacang rebusnya bang aimin, gua memang sudah kenal sama tukang rebus itu namanya bang aimin dia sudah bertaun-taun mangkal di danau ini mungkin dia dapat dikategorikan sebagai penjaga danau ini. Semakin kencang deg-degan yang gua rasain lidah terasa kaku gigi terasa mengeras padahal gua inget tadi pagi gua sikat gigi gak pake formalin tapi gigi terasa kaku nafas pun terasa tersengat-sengat deg-degan ini sudah meruak ke seluruh tubuh ke pembuluh-pembuluh darah sampai ke pori-pori dan jerawat di hidung gua yang merah merona pun juga terasa deg-degan.
“li?” sapa gua sebagai awal pengungkapan perasaan ini
“iya kro?” jawab liani dengan wajah polos nya, wajah liani yang seperti ini yang gua suka selain senyum nya yang manis
“hmm gua mau bilang li, jadi tuh sel…”
“aduh! Gawat nih kro!” potong liani ditengah-tengah gua lagi berjuang bicara
“hah apaan yang gawat?!” jawab gua kaget
“gue mules kro balik yuk” kata liani berbisik
“oh… oke” kata gua dengan nada pasrah
Kita pun balik untuk nurutin panggilan alam nya liani.
Setelah kejadian itu minggu depannya gua berniat lagi buat ngungkapin perasaan, ini malem minggu ke-2
Gua sudah persiapkan semuanya kali ini bukan di cafe atau pun di danau tapi sekarang di bioskop. Menurut info-info yang gua denger nembak cewek saat nonton bioskop itu 90% pasti diterima! karena moment saat di bioskop itu paling romantis, nonton di pojokan, gelap-gelapan, dingin-dinginan, dan ditambah dengan film horror.
Dengan langkah yang sudah pasti, mantap, dan oke banget gua pun mencet bel rumah liani.
Terdengar dorongan pintu depan rumah liani tandanya ada orang yang keluar dan yang keluar itu nyokapnya liani
“malam tante” sapa gua kepada nyokap liani dengan senyum-senyum manja berharap nyokap liani suka sama senyum gua yang lebar manis pipi bullet merah macam senyuman spongebob
“iya sukro ya? Ada janji sama liani?” kata nyokap liani, yang terbiasa juga manggil gua sukro karena sering denger liani manggil gua sukro adenya liani juga sama manggil sukro tapi karena dia penggemarnya monokurobo jadi panggilan untuk gua monokusukro dan menurut adenya idung gua mirip monokurobo, apa emang iya?
“iya tante liani nya ada?”
“ada kro bentar ya tante panggil dulu sukro masuk aja dulu” gua jalan ke dalam rumahnya ngeliat sekeliling rumahnya merhatiin dimana liani berada
“sukro?” sapa liani
“hei li..” sapa gua juga canggung
“kok lu dateng? Emang lu engga liat sms gua?” kaya liani heran ngeliat penampilan gua yang rapi dengan kemeja, celana cino, sepatu toms, minyak yang semerbak
“hah? Sms apaan li?” jawab gua juga heran, langsung cari hape gua dan liat ada sms apa dari liani
‘kro sorri mlm ini kita gabisa pergi, nina sama kinan mau night party di rumah gue. sorri ya’
Tidak! gagal lagi gagal! Gatot lagi gatot! Apa harus selalu gagal?
Tidak adil! (gubrak meja) DEMI TUUUHHHAAANNN
“oh gua baru liat li haha ya udah gapapa nina sama kinan dimana?” kata gua dengan nada direla-relain sambil buang napas
“ada tuh di atas lagi maskeran apa lo mau ikut aja sama kita-kita?” ajak liani
“engga engga usah gua balik aja ya li” jawab gua tersenyum kecut, kecutnya cuka sama ketek kalah
“oke kro hati-hati di jalan” jawab liani
“iya byee lin dan night deh hehe”
“hahhaha apa sih lo udah sana pergi pintu rumah gua udah siap banget tuh buat lu keluar” jawab liani sekenanya buat hati gua nambah remuk sudah ngga tau kebagi berapa remuk nya. Melaju ke pintu depan dengan tertatih-tatih kaki kerasa lemes ngga bertulang badan lemes kaya nyawa sudah hilang, lagi-lagi malam ini pupus sama seperti malam kemarin
Ini minggu ketiga buat ungkapin perasaan gua sama liani, gua ngga akan nyerah gitu aja tetep optimis kalau memang liani jodoh gua, gua pasti bisa jadi satu sama liani. Mental hati, mental fisik sudah gua siapin semuanya ngga akan gagal lagi seprti malam-malam sebelum nya
Malam minggu ini gua ngajak liani kencan di pinggir pantai romantis banget kan dan biasanya fakta membuktikan kalau kencan dipinggir pantai itu pasti 100% diterima itu sudah pasti. Hape sudah dalam pegangan tapi hati deg-degan banget buat nelfon liani perasaan yang tadi nya sudah yakin, semua nya jadi hilang pikiran kosong. Mulai gua ketik ‘liani’ disitu keluar nomor hape cewek itu, rasa nya berat banget buat mencet tombol warna ijo di sebelah kiri tapi ini harus gua lakuin dan akhirnya gua pencet juga tombol warna ijo itu dan nyambung ke liani semakin deg-degan rasanya ditambah dengan nada ‘tttuuuttt, tttuuuttt, tttuuuttt’ yang menandakan kalau itu nyambung ke liani
‘nomor yang anda tuju sedang sibuk silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut *tiitt*’
Ah sh*t! Kemana liani? Kenapa ngga diangkat? Ah! Alamat gagal lagi ini.
Satu-satu nya jalan gua harus ke rumah nya liani, gua harus lihat keadaannya liani apakah dia baik-baik aja.
Sampai di rumah liani kelihatan sepi banget kayanya ngga ada orang di rumah nya, gua pencet bel rumah liani berkali-kali gua tunggu tapi ngga ada juga jawaban dari dalem
Gua terus mencet bel rumah liani sampai ni telunjuk jadi tumpul tetep aja ngga ada jawaban dari rumah liani. Mulai rasa khawatir itu muncul kenapa ngga ada orang yang keluar dari rumah liani sudah hampir satu jam setengah gua nunggu di luar dan gua terus coba hubungi liani tapi tetap sama jawaban nya nomor nya sibuk, gua mutusin untuk pulang aja sekarang juga sudah jam 9 malam ini sudah fix kalau gagal lagi.
Besok nya liani baru bilang kalau dia ngga bisa pergi malem minggu kemarin karena nenek nya masuk rumah sakit gara-gara diare, nene masih aja diare heran gua
Sekarang saat nya Malam minggu datang lagi ini malam minggu yang ke-4 ini akan menjadi malam yang terakhir gua ungkapin perasaan ini sama liani gua ngga tau setelah malem minggu ini apa yang akan terjadi yang pasti ini akan menjadi terakhir kalau sampai liani nolak gua akan pergi dari liani dan berhenti mencintai dia
Malam ini semuanya sudah gua persiapkan, tapi malam ini lain dari malam-malam yang lalu gua ngga ngerencanain untuk kencan di cafe, di pinggiran danau, di bioskop, atau pun di pinggir pantai semuanya itu ngga ada sekarang gua bakal ungkapin perasaan ini secara apa ada nya gua dateng ke rumah liani dan akan nembak liani di depan pagar dan disaksikan oleh rembulan dan bintang-bintang yang berkilauan. Kaki gua siap melangkah untuk ke rumah liani persiapan mental udah siap banget ngga akan ada yang kurang lagi untuk malam terakhir ini semoga malam terakhir ini menjadi yang terbaik, liani terima gua dan kita jadian tercapai harapan terbesar gua.
Jalan ke rumah liani dan rumah gua cukup dekat kita Cuma terhalang 2 gang. Jalanan sepi Cuma ada sinaran lampu dari lampu jalan komplek, dan ada beberapa segerombol bocah yang lagi menikmati juga malam minggu mereka dengan cara mereka sendiri dengan membawa pacarnya masing-masing lalu duduk di trotoar
Dari arah gang depan persis gang nya liani terdengar suara mobil yang akan belok dari kejauhan dengan kecepatan yang kencang dan terlihat lampu mobil yang ke kanan dan kiri dengan melaju kencang dan miring ke kanan ke kiri membuat gua yang sedang berjalan di depan mobil itu jadi bingung, gua minggir ke kiri untuk menghindari mobil tersebut tapi ternyata mobil itu sedang mengarah ke sebelah kiri gua semakin minggir dekat pohon, tapi ternyata hal buruk itu terjadi mobil kencang itu membanting stir nya ke kiri ke arah gua berdiri dekat pohon mobil tersebut pun menebrak pohon itu, kecelakaan itu terjadi gua merasa semua tulang di badan gua seperti hancur remuk tangan terasa basah, mulut gua seperti retak terasa lidah kaku, gigi gua seperti hancur patah
Datang orang-orang menghampiri ke tempat kecelakaan, gua Cuma bisa lihat banyak darah di sekitar kaki gua kaki yang berada di bawah ban mobil tersebut, kepala gua basah dan muter semuanya
Orang-orang mendorong tangan gua untuk berusaha mengeluarkan kaki yang ada di bawah ban mobil, tapi tubuh gua terasa lemas mata sudah redup rasanya gua siap untuk menutup mata ini selamanya, tubuh semakin lemas semakin tak berdaya tulang seperti sudah tak ada mata gua pun akhir nya menutup… menututp selamanya…
Pagi yang mendung tak secerah seperti pagi-pagi yang lain. Mungkin alam juga sedang berduka karena ada makhluk bumi yang pergi dan kembali kepada sang pencipta
Seseorang yang humoris penuh dengan canda tawanya yang takkan terlupakan oleh orang-orang yang menyayangi nya polos nya yang selalu membuatnya menjadi orang yang apa ada nya dan satu yang harus diingat dari nya sikap optimis nya dan pantang menyerah dari nya untuk mendapatkan imipian cinta nya bersama liani
Liani berada di depan kuburan sahabat nya itu sukro, terlihat nama sukro di nisan Muhammad Alvian Firdaus
Lahir: 12-11-1995
Wafat: 26-7-2012
Liani meneteskan air mata nya dan jatuh ke tanah tempat sukro sekarang tidur untuk selamanya, liana ngga nyangka kalau sukro secepet ini
Sukro orang yang selalu ada di saat liani sedih, senang, bingung, bagi liani Cuma sukro yang bisa ngertiin dia selain mama nya
Sukro ngga pernah buat liani bete dia selalu buat liani tersenyum dan liani sangat kehilangan sukro
“kro.. gua ngga sanggup kalau lo harus pergi lebih dulu” kata liani dengan suara serak dan air mata yang semakin deras
“gua pasti kangen elo, gua nanti sendirian ko… gu.. gue… lo aja belum tau kro kalau selama ini… gue itu… sa… sayang sama lo gue mulu untuk bilang… tapi.. sekarang lo udah ngga ada… maafin gue kro” kata liani yang sudah tak tahan dengan kesedihannya liani segara memeluk nisannya sukro
Dengan keyakinan dan kata-kata yang sudah gua persiapkan dari jauh-jauh hari dan gak akan ada kata-kata yang salah lagi semua pasti akan lancar. Sudah dari lama gua nunggu moment ini moment dimana penantian gua besok masih hidup atau mati. Semua usaha sudah gua lakuin dari hal yang masih wajar sampai hal yang konyol abis, itu semua Cuma buat bisa dapet hati cewek itu.
Cewek itu namanya liani dia cewek belasteran cina Indonesia mukanya yang kecina-cinaan, matanya yang sipit dan senyumnya yang wanita Indonesia banget, buat dia terlihat jadi unik lain dari cewek yang lain dan itu yang buat gua selalu jatuh cinta sama mukanya setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik karena liani itu cantik banget. Sudah hampir 3 tahun gua sama liani sahabat dan sudah selama itu juga gua pendam semua perasaan gua ini buat dia perasaan yang selalu berharap sesuatu saat nanti ada waktunya buat kita jadi satu. Malam ini adalah waktunya malam penentuan apakah gua akan jadi satu atau gua akan tetap memendam perasaan ini terus bahkan selamanya…
Dulu pernah gua coba buat ungkapin perasaan ini sama liani tapi selalu gagal
1. dari liani yang sakit perut mules mesti balik untuk buang air karena liani orang yang bersih banget jadi dia gak bisa sembarangan buang air, tapi jelas aja liani gak bisa sembarangan buang air besar, karena gua lagi ajak dia ngedate istilah anak muda jaman sekarang ngedate yang biasa dilakuin malem minggu alias malming
gua ajak dia ke pinggiran danau yang di sekitarnya Cuma ada tukang pecel lele, tambal ban, sama tukang yang jual kacang rebus “kacang rebus bang aimin”, awal gak berniat ajak liani ke situ karena café yang tadinya sudah gua persiapkan untuk ajak dia ngedate itu rame banget dan ternyata pas gua cek duit di dompet Cuma ada 20 ribuan dengan uang segitu gak mungkin gua ajak liani untuk ngedate dengan uang ijo itu. karena liani sudah ngerti gua banget dan gua juga ngerti liani banget, saat gua diam aja liani pun sudah tau kalau gua Cuma bawa duit yang gak banyak liani Cuma tertawa dengan manis dan bilang
“ya udah yuk kita ke tempat lain aja gua juga lagi gak pengen ke café kok” kata liani dengan senyum manisnya yang makin lama semakin manis
“ayuk sorri ya li..” kata gua dengan suara memelas
“gapapa kro main kan bisa dimana aja” jawab liani yang selalu manggil gua “KRO”
kro itu kata dari sukro nama asli gua udah cakep banget dengan Muhammad Alvin firdaus tapi malah dipanggil sukro. Gua dipanggil sukro karena kepala gua yang botak bulet, sebenernya gak botak licin sampai kayak opi kumis tapi karena emang gua yang gak suka rambut panjang gua lebih nyaman dengan rambut yang tipis agak botak bentuk pala begini sudah ciri khas dari sd sampai gua sma kelas 3 gua selalu dengan rambut begini karena sudah gak gerah lumayan juga jadi hemat gak sering beli shampo, gak kaya ade gua si tuti dia sering banget beli shampo, rambutnya itu lebihin pantat gua gak ngerti biar apa maksudnya si tuti rambutnya dipanjangin sampai lebihin pantat gitu. Ehhh… kenapa jadi cerita tentang kepala gua yang kaya sukro dan si tuti sih, oke kembali ke topik awal
Akhirnya gua sama liani Cuma mampu ngedate di pinggiran danau ini satu-satunya tempat yang tepat untuk uang saku macem gua ini 20 ribuan.
Ini awal pertama kali gua berani ungkapin perasaan ini sama liani, deg-degan jantung ini cenat-cenut sangat, ini cenat-cenut lain ini versi sukro jadi cenat-cenut by sukro bukan lagi cenat-cenut by smash. Tarik napas buang napas pegang dada nengok kanan-kiri
Sekali-kali lirik liani yang lagi ngunyah kacang rebusnya bang aimin, gua memang sudah kenal sama tukang rebus itu namanya bang aimin dia sudah bertaun-taun mangkal di danau ini mungkin dia dapat dikategorikan sebagai penjaga danau ini. Semakin kencang deg-degan yang gua rasain lidah terasa kaku gigi terasa mengeras padahal gua inget tadi pagi gua sikat gigi gak pake formalin tapi gigi terasa kaku nafas pun terasa tersengat-sengat deg-degan ini sudah meruak ke seluruh tubuh ke pembuluh-pembuluh darah sampai ke pori-pori dan jerawat di hidung gua yang merah merona pun juga terasa deg-degan.
“li?” sapa gua sebagai awal pengungkapan perasaan ini
“iya kro?” jawab liani dengan wajah polos nya, wajah liani yang seperti ini yang gua suka selain senyum nya yang manis
“hmm gua mau bilang li, jadi tuh sel…”
“aduh! Gawat nih kro!” potong liani ditengah-tengah gua lagi berjuang bicara
“hah apaan yang gawat?!” jawab gua kaget
“gue mules kro balik yuk” kata liani berbisik
“oh… oke” kata gua dengan nada pasrah
Kita pun balik untuk nurutin panggilan alam nya liani.
Setelah kejadian itu minggu depannya gua berniat lagi buat ngungkapin perasaan, ini malem minggu ke-2
Gua sudah persiapkan semuanya kali ini bukan di cafe atau pun di danau tapi sekarang di bioskop. Menurut info-info yang gua denger nembak cewek saat nonton bioskop itu 90% pasti diterima! karena moment saat di bioskop itu paling romantis, nonton di pojokan, gelap-gelapan, dingin-dinginan, dan ditambah dengan film horror.
Dengan langkah yang sudah pasti, mantap, dan oke banget gua pun mencet bel rumah liani.
Terdengar dorongan pintu depan rumah liani tandanya ada orang yang keluar dan yang keluar itu nyokapnya liani
“malam tante” sapa gua kepada nyokap liani dengan senyum-senyum manja berharap nyokap liani suka sama senyum gua yang lebar manis pipi bullet merah macam senyuman spongebob
“iya sukro ya? Ada janji sama liani?” kata nyokap liani, yang terbiasa juga manggil gua sukro karena sering denger liani manggil gua sukro adenya liani juga sama manggil sukro tapi karena dia penggemarnya monokurobo jadi panggilan untuk gua monokusukro dan menurut adenya idung gua mirip monokurobo, apa emang iya?
“iya tante liani nya ada?”
“ada kro bentar ya tante panggil dulu sukro masuk aja dulu” gua jalan ke dalam rumahnya ngeliat sekeliling rumahnya merhatiin dimana liani berada
“sukro?” sapa liani
“hei li..” sapa gua juga canggung
“kok lu dateng? Emang lu engga liat sms gua?” kaya liani heran ngeliat penampilan gua yang rapi dengan kemeja, celana cino, sepatu toms, minyak yang semerbak
“hah? Sms apaan li?” jawab gua juga heran, langsung cari hape gua dan liat ada sms apa dari liani
‘kro sorri mlm ini kita gabisa pergi, nina sama kinan mau night party di rumah gue. sorri ya’
Tidak! gagal lagi gagal! Gatot lagi gatot! Apa harus selalu gagal?
Tidak adil! (gubrak meja) DEMI TUUUHHHAAANNN
“oh gua baru liat li haha ya udah gapapa nina sama kinan dimana?” kata gua dengan nada direla-relain sambil buang napas
“ada tuh di atas lagi maskeran apa lo mau ikut aja sama kita-kita?” ajak liani
“engga engga usah gua balik aja ya li” jawab gua tersenyum kecut, kecutnya cuka sama ketek kalah
“oke kro hati-hati di jalan” jawab liani
“iya byee lin dan night deh hehe”
“hahhaha apa sih lo udah sana pergi pintu rumah gua udah siap banget tuh buat lu keluar” jawab liani sekenanya buat hati gua nambah remuk sudah ngga tau kebagi berapa remuk nya. Melaju ke pintu depan dengan tertatih-tatih kaki kerasa lemes ngga bertulang badan lemes kaya nyawa sudah hilang, lagi-lagi malam ini pupus sama seperti malam kemarin
Ini minggu ketiga buat ungkapin perasaan gua sama liani, gua ngga akan nyerah gitu aja tetep optimis kalau memang liani jodoh gua, gua pasti bisa jadi satu sama liani. Mental hati, mental fisik sudah gua siapin semuanya ngga akan gagal lagi seprti malam-malam sebelum nya
Malam minggu ini gua ngajak liani kencan di pinggir pantai romantis banget kan dan biasanya fakta membuktikan kalau kencan dipinggir pantai itu pasti 100% diterima itu sudah pasti. Hape sudah dalam pegangan tapi hati deg-degan banget buat nelfon liani perasaan yang tadi nya sudah yakin, semua nya jadi hilang pikiran kosong. Mulai gua ketik ‘liani’ disitu keluar nomor hape cewek itu, rasa nya berat banget buat mencet tombol warna ijo di sebelah kiri tapi ini harus gua lakuin dan akhirnya gua pencet juga tombol warna ijo itu dan nyambung ke liani semakin deg-degan rasanya ditambah dengan nada ‘tttuuuttt, tttuuuttt, tttuuuttt’ yang menandakan kalau itu nyambung ke liani
‘nomor yang anda tuju sedang sibuk silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut *tiitt*’
Ah sh*t! Kemana liani? Kenapa ngga diangkat? Ah! Alamat gagal lagi ini.
Satu-satu nya jalan gua harus ke rumah nya liani, gua harus lihat keadaannya liani apakah dia baik-baik aja.
Sampai di rumah liani kelihatan sepi banget kayanya ngga ada orang di rumah nya, gua pencet bel rumah liani berkali-kali gua tunggu tapi ngga ada juga jawaban dari dalem
Gua terus mencet bel rumah liani sampai ni telunjuk jadi tumpul tetep aja ngga ada jawaban dari rumah liani. Mulai rasa khawatir itu muncul kenapa ngga ada orang yang keluar dari rumah liani sudah hampir satu jam setengah gua nunggu di luar dan gua terus coba hubungi liani tapi tetap sama jawaban nya nomor nya sibuk, gua mutusin untuk pulang aja sekarang juga sudah jam 9 malam ini sudah fix kalau gagal lagi.
Besok nya liani baru bilang kalau dia ngga bisa pergi malem minggu kemarin karena nenek nya masuk rumah sakit gara-gara diare, nene masih aja diare heran gua
Sekarang saat nya Malam minggu datang lagi ini malam minggu yang ke-4 ini akan menjadi malam yang terakhir gua ungkapin perasaan ini sama liani gua ngga tau setelah malem minggu ini apa yang akan terjadi yang pasti ini akan menjadi terakhir kalau sampai liani nolak gua akan pergi dari liani dan berhenti mencintai dia
Malam ini semuanya sudah gua persiapkan, tapi malam ini lain dari malam-malam yang lalu gua ngga ngerencanain untuk kencan di cafe, di pinggiran danau, di bioskop, atau pun di pinggir pantai semuanya itu ngga ada sekarang gua bakal ungkapin perasaan ini secara apa ada nya gua dateng ke rumah liani dan akan nembak liani di depan pagar dan disaksikan oleh rembulan dan bintang-bintang yang berkilauan. Kaki gua siap melangkah untuk ke rumah liani persiapan mental udah siap banget ngga akan ada yang kurang lagi untuk malam terakhir ini semoga malam terakhir ini menjadi yang terbaik, liani terima gua dan kita jadian tercapai harapan terbesar gua.
Jalan ke rumah liani dan rumah gua cukup dekat kita Cuma terhalang 2 gang. Jalanan sepi Cuma ada sinaran lampu dari lampu jalan komplek, dan ada beberapa segerombol bocah yang lagi menikmati juga malam minggu mereka dengan cara mereka sendiri dengan membawa pacarnya masing-masing lalu duduk di trotoar
Dari arah gang depan persis gang nya liani terdengar suara mobil yang akan belok dari kejauhan dengan kecepatan yang kencang dan terlihat lampu mobil yang ke kanan dan kiri dengan melaju kencang dan miring ke kanan ke kiri membuat gua yang sedang berjalan di depan mobil itu jadi bingung, gua minggir ke kiri untuk menghindari mobil tersebut tapi ternyata mobil itu sedang mengarah ke sebelah kiri gua semakin minggir dekat pohon, tapi ternyata hal buruk itu terjadi mobil kencang itu membanting stir nya ke kiri ke arah gua berdiri dekat pohon mobil tersebut pun menebrak pohon itu, kecelakaan itu terjadi gua merasa semua tulang di badan gua seperti hancur remuk tangan terasa basah, mulut gua seperti retak terasa lidah kaku, gigi gua seperti hancur patah
Datang orang-orang menghampiri ke tempat kecelakaan, gua Cuma bisa lihat banyak darah di sekitar kaki gua kaki yang berada di bawah ban mobil tersebut, kepala gua basah dan muter semuanya
Orang-orang mendorong tangan gua untuk berusaha mengeluarkan kaki yang ada di bawah ban mobil, tapi tubuh gua terasa lemas mata sudah redup rasanya gua siap untuk menutup mata ini selamanya, tubuh semakin lemas semakin tak berdaya tulang seperti sudah tak ada mata gua pun akhir nya menutup… menututp selamanya…
Pagi yang mendung tak secerah seperti pagi-pagi yang lain. Mungkin alam juga sedang berduka karena ada makhluk bumi yang pergi dan kembali kepada sang pencipta
Seseorang yang humoris penuh dengan canda tawanya yang takkan terlupakan oleh orang-orang yang menyayangi nya polos nya yang selalu membuatnya menjadi orang yang apa ada nya dan satu yang harus diingat dari nya sikap optimis nya dan pantang menyerah dari nya untuk mendapatkan imipian cinta nya bersama liani
Liani berada di depan kuburan sahabat nya itu sukro, terlihat nama sukro di nisan Muhammad Alvian Firdaus
Lahir: 12-11-1995
Wafat: 26-7-2012
Liani meneteskan air mata nya dan jatuh ke tanah tempat sukro sekarang tidur untuk selamanya, liana ngga nyangka kalau sukro secepet ini
Sukro orang yang selalu ada di saat liani sedih, senang, bingung, bagi liani Cuma sukro yang bisa ngertiin dia selain mama nya
Sukro ngga pernah buat liani bete dia selalu buat liani tersenyum dan liani sangat kehilangan sukro
“kro.. gua ngga sanggup kalau lo harus pergi lebih dulu” kata liani dengan suara serak dan air mata yang semakin deras
“gua pasti kangen elo, gua nanti sendirian ko… gu.. gue… lo aja belum tau kro kalau selama ini… gue itu… sa… sayang sama lo gue mulu untuk bilang… tapi.. sekarang lo udah ngga ada… maafin gue kro” kata liani yang sudah tak tahan dengan kesedihannya liani segara memeluk nisannya sukro
Kisah 3 Hati
“… Sahabat dan cinta tak harus dua orang yang berbeda Man, sahabat bisa jadi cinta.”
Hujan yang kian menderas menghapus kemegahan warna jingga yang menyala di di batas langit sore itu. Nyala yang tak lagi ia temukan pula di hatinya. Nyala cinta. Nyala cinta yang telah beralih menjadi resah. Ingin rasanya ia buang semua hal tentang cinta yang ia rasakan bersama hujan yang nantinya juga akan beranjak pergi. Sesekali ia menghembuskan nafas panjang sebagai satu-satunya jalan untuk melepaskan beban batinnya yang sakit karena dua wanita yang merenggut cintanya. Wanita yang tergolek pucat di hadapannya sekarang dan yang berada di luar ruangan.
Menatap Maria yang lemah tak berdaya sontak mengingatkannya akan sosok wanita itu yang dulu begitu tegar di hadapannya. Dan kini, cinta telah menggaris finish ketegaran wanita itu. Arman menatap Maria lekat-lekat. Kemudian ia teringat percakapannya dengan Maria suatu sore di jembatan batas kota dan seolah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Maria sore itu.
“Arman, apakah Tuhan kita berbeda?” Maria mengangkat tangannya menekan pembatas jembatan.
“Tidak Maria, Tuhan hanya ada satu.” Arman memalingkan wajahnya menatap Maria.
Maria melemparkan pandangan jauh di hadapannya dan membiarkan wajah blasteran Jerman-Jawanya yang cantik tersapu lembutnya angin, “Lalu bagaimana dengan cinta? Apakah cinta dari dua orang yang berbeda keyakinan pada akhirnya juga akan menyatu?”
Arman menggeleng. “Entahlah, Tuhan Mahacinta Maria, semua hal tentang cinta ada di bawah kendali-Nya.”
“Termasuk hati kita?”
“Termasuk hati kita.” Arman mengangguk.
“Bagaimana dengan cinta yang mungkin tidak dapat kita miliki?”
Arman menelan ludah. “Ini dunia Maria, tidak semua putri harus dan bisa mendapatkan pengerannya, begitu pun sebaliknya.”
Maria diam. Tatapannya yang tadi menampakkan rasa di hatinya yang meletup-letup berubah menjadi tatapan resah dan galau. Apakah dia akan menjadi putri yang tidak akan bisa mendapatkan pangerannya seperti yang dikatakan Arman baru saja? Sore itu menjadi sore yang begitu berat bagi Maria. Dan baru hari ini Arman mengetahui maknanya.
Arman kembali menghelakan nafas panjangnya. Mencoba masuk ke tempat di mana rasa sakit dan cintanya kini bersemayam. Mencoba memahami kisah rumit yang kini tengah menjeratnya.
Pintu ruangan terbuka. Arman menoleh. Rianti, wanita keturunan Jawa tulen dan solikhakh yang kini juga menjadi kebimbangan dalam hatinya.
Rianti mendekati Arman, menatap tubuh Maria yang terbaring sebentar lalu menatap Arman. “Kini aku melihat dengan sangat nyata, bagaimana cinta membuat hati bisa mengalahkan logika. Ternyata hal itu bukan hanya teori saja.”
Arman tercekat. Tak menemukan satu kata pun untuk bisa mengungkapkan suasana batinnya. Andai jawaban itu ada di suatu tempat yang bisa ia datangi, ia akan berlari saat itu juga untuk menemukan jawabannya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan. Arman pasrah.
“Tidakkah kau terketuk melihat pengorbanan cinta Maria untukmu Man? Dia sakit karena kamu. Tidakkah kau pahami jika sakitnya ini adalah pesan halus agar kita tidak bersatu?” Rianti mencoba mengundang ketegarannya untuk menutupi sinar matanya yang rapuh.
“Maria sahabat baikku sejak kuliah, aku tidak ingin menyakitinya. Tapi memilih Maria kemudian mencampakkanmu sama juga seperti mengiris hatiku sendiri.” Arman hampir putus asa.
“Apa kau tidak rindu tawa Maria yang dulu selalu mencerahkan hari-harimu? Sahabat dan cinta tak harus dua orang yang berbeda Man, sahabat bisa jadi cinta.”
“Dan kamu adalah cinta yang bisa menjadi sahabat.”
“Tidak aku dan Maria sekaligus. Kamu harus yakin kepada salah satunya!” air mata Rianti mengalir, dan seketika itu dihapusnya. Andai saja boleh Arman pun ingin menghapus air mata itu. Tapi tak dilakukannya.
“Orang Jawa selalu bilang jodoh itu ada di tangan Gusti Allah. Pilihlah Maria jika kamu tak ingin melihatnya terluka. Insya allah aku ikhlas Man.” Suara Rianti bergetar. Tapi kata-kata itu harus diucapkannya untuk membebaskan Arman dari cinta segitiga.
“Urusan Umi dan Abah biar menjadi urusanku. Aku pulang dulu Man, Bulek baru saja sms menyuruhku pulang. Nanti malam ba’da isya’ aku akan pulang ke Solo menemui Umi dan Abah.”
“Tapi Yan…” Arman mencoba menahan Rianti untuk tidak pergi.
Rianti menoleh, “Tidak semua kisah harus memiliki akhir yang bahagia Arman, assalamua’alaikum.” Rianti meninggalkan ruang tempat Maria di rawat. Hatinya menangis perih. Tapi ia menyadari bahwa kisah yang rumit ini harus diakhiri.
Hati Arman tertusuk melihat Rianti pergi meninggalkannya dan kelu mulutnya saat memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Bisa jadi Rianti akan benar-benar meninggalkannya.
“Ar…man…” Maria bersuara, lirih sekali. Jari-jari tangannya bergerak.
Arman berbalik melihat Maria, “Subhanallah! Kamu sadar Maria?”
Arman berbalik ingin meninggalkan ruangan dan memanggil dokter. Tapi Maria menahannya.
“Ar…man cin…ta ma…sih ber…ada di ba…wah ken… da… li Tu…han kan?” tanya Maria lirih dan terbata-bata. Arman mengangguk.
“La…lu me..ngapa Tu…han ti…dak me…ngambil… ra…sa cinta…ku pa…damu?”
“Mungkin…, Tuhan ingin…, ingin menyatukan kita, Maria.” Kata Arman, hati-hati.
“Ka…mu ingat ti…dak se…mua putri ha…rus dan bi…sa men…dapat…kan pange…rannya?” Arman mengangguk lagi.
“Per…gi…lah ka…lau ka…mu mengi…nginkan Rian…ti!” Untuk ke sekian kalinya hati Arman seperti di tusuk jarum berkarat.
“Sudahlah Maria, kamu harus sembuh!” Arman mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ka…ta…kan pa…da Ri…anti, a…ku tak i…ngin meng…ha…la…ngi ka…lian.” mata Maria sembab.
Arman tertunduk. Bingung, gelisah, resah dan putus asa.
—
Arman menepis dingin dengan jemper hitam yang serasi sekali dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap. Malam enggan mengundang kawan-kawannya; bulan dan bintang-bintang untuk sekedar menggoda dan menghiburnya. Maria, Rianti dan hatinya sendiri telah membuat arsitek muda itu jauh dari kesan maskulinnya. Tawa Maria yang dulu mencerahkan hari-harinya, senyum Rianti yang menyejukkan hatinya hadir kembali meminta satu jawaban kepastian. Membuat Arman benar-benar putus asa.
Arman tersentak kaget mendengar handphone-nya berdering nyaring. Satu pesan diterima. Arman membukannya.
Dari: Bulek
Pesan: Dlm prjalnannya mnju Solo tdi Rianti jtuh dari speda mtornya. Kpalanya mengnai batu kras sekli dan tdak brhnti mengeluarkan drah. Dan pkul 20.24 tadi Rianti hars meningglkan kta untk slmnya, Le.
Jantung Arman seakan berhenti berdetak saat itu juga. Jiwanya masih di ambang antara percaya dan tidak percaya pada sms yang baru saja dibacanya. Tapi semakin ia baca berulang-ulang untuk meyakinkan jika dia tidak salah membaca semakin sakit rasa yang menusuk ulu hatinya.
Arman duduk bersama dengan hatinya yang sedang hancur. Tiba-tiba handphone-nya berdering lagi. RS Bethesda calling.
“Hallo!” suara Arman terdengar sangat lirih.
“Benar ini Bapak Arman?”
“Benar. Ada apa suster?”
“Pukul 20.25 tadi Ibu Maria kembali masuk UGD, Pak. Keadaannya kembali kritis. Jantungnya kembali melemah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi….” tuuuuut.
Handphone Arman terpelanting ke lantai. Dua jarum berkarat tepat menusuk ulu hatinya. Dia terkulai lemas tak berdaya seakan menyerah pada dua keadaan yang menguras habis ketegarannya. Harapannya bersama Rianti untuk bertamasya ke Kebun Binatang Gembira Loka bersama anak-anak mereka kelak kini hanya tinggal harapan hampa. Gelak tawa Maria yang menghiasi frustasinya menjadi mahasiswa dulu dan sahabat terbaiknya hilang sudah.
Cinta menunjukkan dirinya sendiri malam itu bahwa sampai kapan pun cinta akan terus berada dalam kendali Tuhan Sang Mahacinta. Bukan Rianti, bukan Maria, dan bukan Arman yang kuasa menciptakan dan menghilangkannya.
Dan malam itu, Yogyakarta yang senyap dan gelap gulita setia menemani Arman dan hatinya yang remuk redam.
- SELESAI -
Hujan yang kian menderas menghapus kemegahan warna jingga yang menyala di di batas langit sore itu. Nyala yang tak lagi ia temukan pula di hatinya. Nyala cinta. Nyala cinta yang telah beralih menjadi resah. Ingin rasanya ia buang semua hal tentang cinta yang ia rasakan bersama hujan yang nantinya juga akan beranjak pergi. Sesekali ia menghembuskan nafas panjang sebagai satu-satunya jalan untuk melepaskan beban batinnya yang sakit karena dua wanita yang merenggut cintanya. Wanita yang tergolek pucat di hadapannya sekarang dan yang berada di luar ruangan.
Menatap Maria yang lemah tak berdaya sontak mengingatkannya akan sosok wanita itu yang dulu begitu tegar di hadapannya. Dan kini, cinta telah menggaris finish ketegaran wanita itu. Arman menatap Maria lekat-lekat. Kemudian ia teringat percakapannya dengan Maria suatu sore di jembatan batas kota dan seolah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Maria sore itu.
“Arman, apakah Tuhan kita berbeda?” Maria mengangkat tangannya menekan pembatas jembatan.
“Tidak Maria, Tuhan hanya ada satu.” Arman memalingkan wajahnya menatap Maria.
Maria melemparkan pandangan jauh di hadapannya dan membiarkan wajah blasteran Jerman-Jawanya yang cantik tersapu lembutnya angin, “Lalu bagaimana dengan cinta? Apakah cinta dari dua orang yang berbeda keyakinan pada akhirnya juga akan menyatu?”
Arman menggeleng. “Entahlah, Tuhan Mahacinta Maria, semua hal tentang cinta ada di bawah kendali-Nya.”
“Termasuk hati kita?”
“Termasuk hati kita.” Arman mengangguk.
“Bagaimana dengan cinta yang mungkin tidak dapat kita miliki?”
Arman menelan ludah. “Ini dunia Maria, tidak semua putri harus dan bisa mendapatkan pengerannya, begitu pun sebaliknya.”
Maria diam. Tatapannya yang tadi menampakkan rasa di hatinya yang meletup-letup berubah menjadi tatapan resah dan galau. Apakah dia akan menjadi putri yang tidak akan bisa mendapatkan pangerannya seperti yang dikatakan Arman baru saja? Sore itu menjadi sore yang begitu berat bagi Maria. Dan baru hari ini Arman mengetahui maknanya.
Arman kembali menghelakan nafas panjangnya. Mencoba masuk ke tempat di mana rasa sakit dan cintanya kini bersemayam. Mencoba memahami kisah rumit yang kini tengah menjeratnya.
Pintu ruangan terbuka. Arman menoleh. Rianti, wanita keturunan Jawa tulen dan solikhakh yang kini juga menjadi kebimbangan dalam hatinya.
Rianti mendekati Arman, menatap tubuh Maria yang terbaring sebentar lalu menatap Arman. “Kini aku melihat dengan sangat nyata, bagaimana cinta membuat hati bisa mengalahkan logika. Ternyata hal itu bukan hanya teori saja.”
Arman tercekat. Tak menemukan satu kata pun untuk bisa mengungkapkan suasana batinnya. Andai jawaban itu ada di suatu tempat yang bisa ia datangi, ia akan berlari saat itu juga untuk menemukan jawabannya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan. Arman pasrah.
“Tidakkah kau terketuk melihat pengorbanan cinta Maria untukmu Man? Dia sakit karena kamu. Tidakkah kau pahami jika sakitnya ini adalah pesan halus agar kita tidak bersatu?” Rianti mencoba mengundang ketegarannya untuk menutupi sinar matanya yang rapuh.
“Maria sahabat baikku sejak kuliah, aku tidak ingin menyakitinya. Tapi memilih Maria kemudian mencampakkanmu sama juga seperti mengiris hatiku sendiri.” Arman hampir putus asa.
“Apa kau tidak rindu tawa Maria yang dulu selalu mencerahkan hari-harimu? Sahabat dan cinta tak harus dua orang yang berbeda Man, sahabat bisa jadi cinta.”
“Dan kamu adalah cinta yang bisa menjadi sahabat.”
“Tidak aku dan Maria sekaligus. Kamu harus yakin kepada salah satunya!” air mata Rianti mengalir, dan seketika itu dihapusnya. Andai saja boleh Arman pun ingin menghapus air mata itu. Tapi tak dilakukannya.
“Orang Jawa selalu bilang jodoh itu ada di tangan Gusti Allah. Pilihlah Maria jika kamu tak ingin melihatnya terluka. Insya allah aku ikhlas Man.” Suara Rianti bergetar. Tapi kata-kata itu harus diucapkannya untuk membebaskan Arman dari cinta segitiga.
“Urusan Umi dan Abah biar menjadi urusanku. Aku pulang dulu Man, Bulek baru saja sms menyuruhku pulang. Nanti malam ba’da isya’ aku akan pulang ke Solo menemui Umi dan Abah.”
“Tapi Yan…” Arman mencoba menahan Rianti untuk tidak pergi.
Rianti menoleh, “Tidak semua kisah harus memiliki akhir yang bahagia Arman, assalamua’alaikum.” Rianti meninggalkan ruang tempat Maria di rawat. Hatinya menangis perih. Tapi ia menyadari bahwa kisah yang rumit ini harus diakhiri.
Hati Arman tertusuk melihat Rianti pergi meninggalkannya dan kelu mulutnya saat memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Bisa jadi Rianti akan benar-benar meninggalkannya.
“Ar…man…” Maria bersuara, lirih sekali. Jari-jari tangannya bergerak.
Arman berbalik melihat Maria, “Subhanallah! Kamu sadar Maria?”
Arman berbalik ingin meninggalkan ruangan dan memanggil dokter. Tapi Maria menahannya.
“Ar…man cin…ta ma…sih ber…ada di ba…wah ken… da… li Tu…han kan?” tanya Maria lirih dan terbata-bata. Arman mengangguk.
“La…lu me..ngapa Tu…han ti…dak me…ngambil… ra…sa cinta…ku pa…damu?”
“Mungkin…, Tuhan ingin…, ingin menyatukan kita, Maria.” Kata Arman, hati-hati.
“Ka…mu ingat ti…dak se…mua putri ha…rus dan bi…sa men…dapat…kan pange…rannya?” Arman mengangguk lagi.
“Per…gi…lah ka…lau ka…mu mengi…nginkan Rian…ti!” Untuk ke sekian kalinya hati Arman seperti di tusuk jarum berkarat.
“Sudahlah Maria, kamu harus sembuh!” Arman mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ka…ta…kan pa…da Ri…anti, a…ku tak i…ngin meng…ha…la…ngi ka…lian.” mata Maria sembab.
Arman tertunduk. Bingung, gelisah, resah dan putus asa.
—
Arman menepis dingin dengan jemper hitam yang serasi sekali dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap. Malam enggan mengundang kawan-kawannya; bulan dan bintang-bintang untuk sekedar menggoda dan menghiburnya. Maria, Rianti dan hatinya sendiri telah membuat arsitek muda itu jauh dari kesan maskulinnya. Tawa Maria yang dulu mencerahkan hari-harinya, senyum Rianti yang menyejukkan hatinya hadir kembali meminta satu jawaban kepastian. Membuat Arman benar-benar putus asa.
Arman tersentak kaget mendengar handphone-nya berdering nyaring. Satu pesan diterima. Arman membukannya.
Dari: Bulek
Pesan: Dlm prjalnannya mnju Solo tdi Rianti jtuh dari speda mtornya. Kpalanya mengnai batu kras sekli dan tdak brhnti mengeluarkan drah. Dan pkul 20.24 tadi Rianti hars meningglkan kta untk slmnya, Le.
Jantung Arman seakan berhenti berdetak saat itu juga. Jiwanya masih di ambang antara percaya dan tidak percaya pada sms yang baru saja dibacanya. Tapi semakin ia baca berulang-ulang untuk meyakinkan jika dia tidak salah membaca semakin sakit rasa yang menusuk ulu hatinya.
Arman duduk bersama dengan hatinya yang sedang hancur. Tiba-tiba handphone-nya berdering lagi. RS Bethesda calling.
“Hallo!” suara Arman terdengar sangat lirih.
“Benar ini Bapak Arman?”
“Benar. Ada apa suster?”
“Pukul 20.25 tadi Ibu Maria kembali masuk UGD, Pak. Keadaannya kembali kritis. Jantungnya kembali melemah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi….” tuuuuut.
Handphone Arman terpelanting ke lantai. Dua jarum berkarat tepat menusuk ulu hatinya. Dia terkulai lemas tak berdaya seakan menyerah pada dua keadaan yang menguras habis ketegarannya. Harapannya bersama Rianti untuk bertamasya ke Kebun Binatang Gembira Loka bersama anak-anak mereka kelak kini hanya tinggal harapan hampa. Gelak tawa Maria yang menghiasi frustasinya menjadi mahasiswa dulu dan sahabat terbaiknya hilang sudah.
Cinta menunjukkan dirinya sendiri malam itu bahwa sampai kapan pun cinta akan terus berada dalam kendali Tuhan Sang Mahacinta. Bukan Rianti, bukan Maria, dan bukan Arman yang kuasa menciptakan dan menghilangkannya.
Dan malam itu, Yogyakarta yang senyap dan gelap gulita setia menemani Arman dan hatinya yang remuk redam.
- SELESAI -
Langganan:
Postingan (Atom)