Apaan sih maksudmu. Aku gak ngertii” ucapnya tergesa-gesa.
“Aku yang harusnya nanya itu. Kenapa lo tega ngefitnah gue, sampai masalahya jadi besar kayak gini?” balasnya sambil mengebrak meja.
Aku mendengar suara teriakan itu. Akupun semakin penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Perlahan kudekati asal suara teriakan itu. Aku mendapati seorang pria dan wanita sedang bertengkar. Anehnya, aku tidak mengenal mereka. Padahal tempat ini sangat familiar denganku. Aku semakin penasaran, dan aku tetap melanjutkan untuk mendengar percakapan antara mereka berdua.
“Ngefitnah Lo? Kurang kerjaan banget gue. Emang bener kan lo cewe yang gak punya malu? Kasian benget sih nasib lo Wil” ucap seorang cowo.
“Lo tega banget ya sama gue Ngaa. Pokoknya mulai saat ini, gue gak mau pernah kenal sama lo. Cukup sakit hati gue diginiin sama lo. Kita PUTUS!” bentak cewe tersebut sambil berjalan ke arah luar kelas.
“Silahkan. Masih banyak cewe yang ngantri buat jadi pacar gue. Bahkan lebih Cantik dan tajir dari lo” ucap cowo ini dengan kasar.
Aku pun buru-buru mencari akal untuk bersembunyi. Menutup mukaku dengan buku geografiku. Suatu ide yang terlintas difikiranku. Sesaat cewe tersebut berhenti di depanku.
“Ngapain lo disini? Nguping ya lo?” bentaknya sambil merampas bukuku.
“Ng… ngak kok kak. Aku gak ada ngedenger percakapan kakak sama cowok itu” ucapku sambil menunjuk cowo yang kumaksud.
“Bagus” bentaknya kasar sambil mencampakkan buku Geografiku. Terlihat dari raut wajahnya, dia sedang emosi.
“Cewe ini garang banget dah” batinku kesal.
—
“Cha,lo dari mana aja tadi?, lama bener nyampenya” ucap sahabatku agnes
“Kusut banget tuh muka!” candanya lagi.
“apaan sih lo, pada ketawa. Tadi tuh, gue lihat ada dua orang cewe sama cowo di kelas XII-IPA 1. Berantem gitu, kayaknya abis putus.” ucapku waswas.
“Haa? Pasti tu kakak kelas kita Angga sama Wilfrida” sambung sara sahabatku yang tau fakta-fakta di sekolah ini.
“Dari mana lo tau? Tapi, memang bener sihh, tadi kayak ada kata-kata “ngga-wil” gitu” tandasku.
“Kan bener dugaan gue” bangga sara.
“Yah, sayang banget mereka putus. Padahal kan mereka tuh “THE BEST COUPLE” ” ucap agnes dengan raut sedih.
“Tapi, ada kabar baiknya juga dan kabar buruknya kalau mereka putus” tambah sara.
“Apaan?” ucapku dan agnes kompak.
“Ituloh, angga ntu kan cowo terkece di sekolah kita. Gue bisa daftar jadi calon pacarnya yang baru” ucap sara mengerdipkan sebelah matanya.
“Idih, lo aja deh. Gue mah kagak mau, sama cowok sayko kayak si angga tuh” ucapku
“Gue juga ogah ah. Mending gue sama Kak Hans di kelas XI-IPA 2, udah pinter kece lagi” tambah agnes.
“Menghayal lo! Tapi, kasian ya kak Wilfrida tuh. Dia gak tau kalau cowo setampan kak Angga itu sayang buat dilewatkan” ucap sara dengan semangatnya.
“Ahh, ternyata tuh cowo sama cewe Best Couple tohh. Aya-aya wae tapi tingkahnya. Si cowo kasep pisan diputusin, tapi si cewek juga Cantik pisan. Eleh… eleh… kasian mereka” batinku
“Woyy, menghayal aja kerja lo. Kesambet baru tau” kejut temanku sara dan agnes kompak.
“Eleh… eleh. Kancut lo bedua. Kaget pisan ni jantung, mau copot” ucapku
“Ciaelah, sundanya udah keluar, bisa-bisa gue keluarin juga ntar batak gue” bales sara dan agnes bersamaan.
“Hahahaha” tawaku mengelegar.
Saat di Kantin
“Eh, nes, sar. Temenin gue yok” pintaku kekedua sahabatku sara dan agnes.
“Mau ngapain lo?” tandas sara
“Mau nyelidiki masalah kenapa kak angga sama kak wiwil bisa putus. Kan lo bilang mereka itu best couple. Apalagi udah 3 tahun kan pacarannya?” balasku yang membuat agnes menganguk setuju.
“Gue setuju tuh. Ayo kita selidiki” tandas agnes
“Alah, udah belagak detektif conan lo pada” ucap sara yang mengabaikan ajakanku.
“Ya udah deh, kalau lo tetep gak mau. Gue sama agnes aja. Bay!” ucapku sambil menarik tangan agnes dan berlalu dari hadapan sara.
“Terserah deh. Gue lagi asyik makan nih” balas sara pelan dan alhasil akupun tak mendengarnya lagi.
Di Koridor sekolah
Aku dan agnes berjalan melewati koridor sekolah yang saat itu lagi sepi-sepinya. Aku berjalan terus dan mencari. Tak lama aku dan agnes berjalan dan terus mencari, akhirnya kami menemukan sosok yang sedari tadi kami incar. Kami pun mengikutinya dari belakangnya tanpa disadarinya. Saat tiba di sebuah perempatan koridor, aku meninggalkan agnes yang asyik makan dan menyerah sampai di kelas.
“Alah, cemen lo nes” ucapku berlari dan meninggalkan agnes di kelas yang letaknya tak jauh dari perempatan koridor.
Aku terus mengikuti kakak kelasku ini yang ternyata memiliki nama Angga Prasetyo. Aku penasaran dengan kisah cinta mereka. Hingga tiba di suatu gudang kecil, Angga, sosok kakak kelasku berbicara sendiri, entah dengan siapa, aku tak tau.
“Gue sebenarnya ga pernah tega giniin lo wil. Cuman penyakit gue, yang maksa gue buat giniin lo” tuturnya sambil memegangi image kakak kelasku Wilfrida Sani.
“haa? penyakit? maksudnya apaan” batinku bingung namun tetap melanjutkan aktivitasku.
“Iya wil. Penyakitku selama 3 tahun belakangan ni yang gue selalu rahasiain dari lo. Gue punya penyakit Leukimia. Sekarang udah stadiun akhir wil. Maafin gue” ucap angga sambil terisak memegangi image Wilfrida.
“Ha? Kasian kak angga, pasti batinnya tertekan banget nih sekarang. Gimana ya baiknya, gue takut ngedeketin mereka” batinku dan tanpa kusadari aku menendang kaleng di depanku.
“Siapa itu?” ucap kak angga dan cepat-cepat mengahapus airmatanya.
“Lo? Ngapain lo disini. Nguping Lo ya?” bentaknya kasar ke arahku.
“Ooh, lo anak kelas X-IPA 3 ya? Recha Kinara? Udah belagak lo berani ngupingin abang kelas lo sendiri? Ha?” ucapnya kasar.
“Gak gitu kak…” belum selesai aku menandaskan kata-kataku sosok kakak kelas bernama angga itu langsung terjatuh di depanku dan hidungnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
“Kak, angga. Aduh mampus gue. Malah sendiri lagi nih. Mati deh” ucapku panik.
“Kak, maaf deh, jangan becanda” ucapku
“Tolong… tolong… tolongin Gue. Woy, Tolong Tolong..” teriakku yang cukup membuat banyak orang berdatangan dan langsung mengotong kak Angga. Sesaat mereka mengotong kak angga, sebuah kertas terjatuh dari kantongnya. Aku penasaran dan langsung membukanya. Saat ingin aku membukanya, agnes dan sara langsung berhamburan ke arahku. Aku langsung mengurungkan niatku untuk membuka surat itu dan langsung mengantonginya.
“Lo kenapa, pake acara minta tolong?” tanya agnes khawatir dan langsung mencek bagian wajahku.
“Dari mana lo tau gue disini. Emang kedengeran ya?” ucapku penasaran.
“Awas deh nes, gak ada apa-apa kok” sambungku lagi sembari menyingkirkan tangan agnes dari wajahku.
“Enggak, tadi gue disuruh kak Wiwil, supaya datengin lo sama angga disini. Emang lo apain si angga sampe bedarah-darah gitu” Ucap sara penasaran.
“Berarti tadi, kak Wiwil juga ngikutin angga dong” Batinku.
“Woy, ditanyain kok malah bengong gak jelas” pukul agnes dan berhasil membuyarkanku dari lamunanku.
“Gakapaapa kok” balasku santai dan langsung berdiri membersihkan pakaianku dari debu.
“Oh, gue kirain lo kenapa-napa lagi” ucap mereka berdua khawatir dan langsung membawaku pergi dari tempat itu.
—
Saat itu bel sekolah yang membuatku semangat. Saat ini yang tertanam di fikiranku hanyalah kertas kecil itu. Kertas yang tadinya jatuh dari kantong kak angga. Aku semakin penasaran apa isinya, mengenai apa, sebenernya gak tega buat ngebukanya, namun tak apalah, selagi kak angga belum tau. Sesampainya di rumah, aku langsung ngacir ke kamarku di lantai atas. Satu-persatu tangga kulewati dengan cepat.
“Apaan sih isi nih surat?” batinku sambil mengambil kertas kecil dari kantongku.
Dear Wiwil
Hey, maaf ya kejadian kemarin. Aku gak mau sebenernya buat lo nangis kayak gitu. Mana tega gue gituin lo. Tapi, penyakit gue yang maksa gue buat giniin lo wil. Maaf banget, tapi lo jangan sedih lagi ya. Gue gak pengen liat air mata lo. Lo itu sesuatu yang berharga lo buat gue. Sebenarnya sayang sih ngengorbanin kisah cinta kita yang udah 3 tahun itu, tapi, gimana menurut lo akting gue kemarin. Keren kan gue, walaupun kayak gitu tapi tetep ganteng kan gue? Oh ya, lo jangan nginget gue mulu ya. Ntar kalau gue pergi, lo jangan nangis. kalau lo nangis gue juga bisa ikutan nangis di sini. Bye my dear, I always Love you :*.
Angga Prasetyo
“Ha, kasian banget mereka” ucapku dan tak terasa air mataku ikutan menetes.
“Maaf ya kak angga kalau aku yang liat surat kakak ini. Maaf banget” ucapku lirih dan akupun tertidur.
Keesokan harinya, setibanya aku sampai di sekolah, aku terhenyak tiba-tiba. Saat aku melewati mading, aku melihat banyak ucapan duka disana.
“GoodBye, my Brother Angga. We always love You” by: Reyhand XI-IPA 4.
“Bye my Handsome Brother, You always in my mind” by: HANS XI-IPA 2. Dan banyak lagi. Aku membacanya semua sampai aku tiba dititik akhir.
“I always love you, Falling in love with you, is so funny. Bye, you always in my heart” by: Wiwil XII-IPA 1.
Aku kaget dan tak tau harus berbuat apa. Ternyata semalam aku baru kehilangan kakak kelasku bernama Angga Prasetyo itu. Untuk selamanya. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Antara iya dan tidak, dan akupun mengambil keputusan untuk mengatakan “tidak” .
Sesaat setelah pulang sekolah, aku tak langsung menuju rumah. Aku pergi ke tempat kak angga berteduh. Tempat dimana jasad kak angga terbujur kaku disana. Saat sampai di makam itu, aku langsung menyentuh salib kak angga. Aku membacanya terharu. Aku meletakkan surat kecil itu disana. Biarlah hanya aku, Kak angga, dan tuhan yang mengetahui isi surat itu.
“Maafkan aku kak. Udah lancang buat liat surat ini. Maaf banget kak.” ucapku lirih dan meninggalkan makam kak angga.
“Maaf kak” kata yang singkat, namun berarti banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar